Posted in Best Writer

Nikmatilah

By : Bang Jack

Nikmatilah setiap kebaikan yang kita tebarkan, agar kelak menjadi saksi di hari pembuktian.

Nikmatilah semua proses perjuangan yang kita lakukan, agar kelak menjadi cerita bahagia saat kita meraih kemenangan.
Nikmatilah setiap lelah kita dalam berdakwah, berharap setiap lelah mengantarkan kita ke Jannah.
Jika dalam berdakwah kita mengalami kegagalan, nikmatilah.

Mungkin saja Allah sedang menyiapkan kepada kita sebuah kemenangan.
Jika dalam berdakwah kita mengalami kesulitan, nikmatilah.

Dan Yakinlah bahwa bersama kesulitan selalu ada dua kali kemudahan.
Jika dalam berdakwah kita malah dijauhkan, nikmatilah.

Karena Sesungguhnya Allah sedang siapkan orang-orang yang membantu kita dalam mengajak kepada kebenaran..

Advertisements
Posted in Best Writer

Sore Bersama Abang

Sore itu gadis berjilbab pink duduk di sebuah kedai es kelapa kecil menunggu seseorang datang menjemputnya. Sambil meminum es kelapa, ia membaca dzikir petang dalam hati yang sudah dihafalnya. Sabrina Alifa namanya, ia adalah mahasiswa semester tiga yang baru-baru ini berhijrah. Tak lama kemudian muncul sosok pria mengenakan jaket biru khas seragam ojek online. Pengemudi motor yang sudah sangat dikenalnya itu mengendarai motor dengan wajah yang kusut. Sabrina sangat mengenalnya karena ia tak lain adalah kakak kandungnya, Bayu Ahmad. Bayu menghentikan motornya tepat di depan Sabrina.

“Assalamu’alaikum, bang. Mau minum es kelapa?” Sapa Sabrina terlebih dahulu sambil memberikan es kelapa yang sudah ia siapkan untuk abangnya.

“Wa’alaikum salam. Makasih dek. Udah yuk kita pulang?” Jawab Bayu sambil menerima es kelapa dari adiknya.

Sabrina lantas mengenakan helm dan duduk di belakang kakaknya. Kendaraan roda dua itu segera melaju membelah jalan raya kota Jakarta yang ramai. Kemudian berbelok melewati jalan yang lebih kecil namun tak kalah ramainya. Banyak toko-toko berjejer di pinggir jalan itu mulai dari toko makanan, toko pakaian sampai toko bangunan. Ketika Sabrina sedang asyik mengamati pemandangan pertokoan di pinggir jalan, tiba-tiba suara Bayu memecah perhatiannya.

“Kerja capek, tiap hari gitu-gitu aja. Mana tadi dapet penumpang cerewet banget lagi.” Ucap Bayu sambil mengendarai motor.

Rupanya ini penyebab wajah abangnya kusut seperti baju yang belum disetrika, batin Sabrina.

“Jangan ngeluh mulu sih bang, kerja tuh yang ikhlas biar berkah.” Tanggapan Sabrina mendengar keluh kesah Bayu.

“Ikhlas sih ikhlas. Tapi kalo dapet penumpang cerewet mulu apa ga pusing?” Keluh Bayu lagi.

Tak lama kemudian motor yang mereka kendarai oleng.

“Eh, kenapa bang kok motornya goyang gini sih?” 

Bayu yang menyadarinya segera mengerem motor barunya itu. Selidik punya selidik ternyata ban motornya bocor. Mata Bayu dan Sabrina pun segera berkeliling mencari tempat tambal ban. Ternyata tak jauh di belakang mereka ada sebuah tempat tambal ban sederhana yang terletak di pinggir jalan. Bayu pun menuntun motornya 10 meter ke belakang.

“Tuh kan, bang. Apa Ina bilang? Barusan Ina bilang kalo kerja yang ikhlas, jangan ngeluh mulu tapi abang masih ngeluh. Nah ini langsung kena tegur sama Allah kan?”

Bayu terus menuntun motornya dengan pasrah, tak menghiraukan perkataan adiknya. Motor Bayu pun segera ditangani oleh tukang tambal ban berbadan besar yang bajunya dipenuhi noda oli. Akhirnya ditemukan penyebab ban motor Bayu bocor, sebuah paku kecil sepanjang 5 cm.

“Uh.. Ini nih penyebabnye.” Kata bapak penambal ban sambil mengeluarkan paku dari ban motor Bayu.

“Waduh, gede banget!” ujar Bayu kaget. 

“Ini sih harus ganti ban dalem.”

“Berapa tuh pak?” tanya Bayu.

“50.000 nih, langka stoknya.”

Bayu menghela napas. “Ya sudah, nggak apa-apa.” Jawab Bayu.

Kemudian Bayu menghampiri adiknya yang sedang duduk di bangku yang tersedia disana. Bayu teringat perkataan adiknya tadi.

“Dek Ina, tadi adek bilang apa? Kalo kerja nggak boleh ngeluh ya? Emang kenapa gitu kalo ngeluh?” ujar Bayu membuka percakapan. 

“Iya bang, kalo ngeluh mulu kan nggak baik. Kesannya kita nggak ikhlas dan kurang bersyukur.” Jawab Sabrina.

“Kok gitu dek?”

“Apapun yang terjadi bang, sebagai muslim kita harus menerima dengan ikhlas dan yakin bahwa semua ini dari Allah. Allah Yang Maha Tahu kok, semua pasti terbaik buat hamba-Nya.”

“Begitu ya dek.”

“Iya bang, seperti dalam doa dzikir pagi-petang yang rutin Ina baca, ada salah satu dzikir yang artinya begini nih. Ina bacain ya, bentar Ina ambil bukunya dulu.” Ucap Sabrina sambil merogoh saku tasnya dan mengambil buku kecil dzikir pagi-petang disana.

“Ini bang, Ina bacain yang dzikir petangnya ya. Artinya Ya Allah, nikmat apapun yang Engkau berikan di sore hari kepadaku atau kepada seseorang dari makhluk-Mu, tiada lain hanya dari-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Maka bagi-Mu segala puji dan rasa syukur.”

“Tapi yang abang alamin kan bukan nikmat dek. Ini mah musibah!” seru Bayu.

“Abang, sabar bang. Ini tuh teguran tanda sayang dari Allah bang. Abang mending istighfar deh.”

“Astaghfirullahal ‘adzim… Astaghfirullahal ‘adzim…” Bayu akhirnya beristighfar memohon ampun kepada Allah mengikuti saran Sabrina.

“Nah gitu dong.. Ini baru abangnya Sabrina!” ujar Sabrina sambil mengacungkan dua ibu jarinya.

Ban motor Bayu pun telah selesai diganti. Setelah membayar, Bayu dan Sabrina mengucapkan terima kasih lantas pergi melanjutkan perjalanan pulang mereka. Hari sudah semakin petang. Terlihat burung-burung di langit terbang kembali ke sarangnya.

“Dek, sejak kapan ya kamu jadi pinter ceramah?” tanya Bayu di tengah perjalanan. 

“Pinter ceramah apaan sih bang, nggak ah.” Elak Sabrina tidak setuju ucapan abangnya.

“Eh bener, coba kamu ceramahin abang dari sebelum kita jalan. Mungkin ban motor abang nggak akan bocor dan abang nggak harus ngeluarin duit 50.000.” Ucap Bayu disambut gelak tawa Sabrina.

“Salah abang sendiri tadi ngajak buru-buru pulang.”

“Tapi dek, kamu sadar nggak sih tadi tuh tempat ban motor abang bocor deket banget sama tempat tambal bannya. Jangan-jangan…”

“Hus, nggak boleh suudzon bang!” kata Sabrina memotong perkataan Bayu.

Walau sebenarnya ia pun sedikit curiga mengingat dekatnya lokasi saat motor abangnya oleng dan ukuran paku yang lumayan besar. Apalagi ia pernah melihat berita di TV tentang beberapa tukang tambal ban nakal yang sengaja menebar paku di jalan. Tapi bagi Sabrina, ada hikmah dari peristiwa ban bocor itu. 

“Dek, abang perhatiin kerudung kamu makin panjang aja. Terus buku kecil tadi apa tuh yang ada doa dan dzikirnya?”

“Alhamdulillah bang, Ina kan mau hijrah dan terus memperbaiki diri. Mulai dari kerudung syar’i. Oh.. itu Al-Ma’tsurat namanya, dzikir dan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap pagi dan petang. Abang mau bukunya?”

“Boleh dek, abang juga mau memperbaiki diri kayak kamu.”

“Alhamdulilah, ya sudah buku Ina aja buat abang. Ina Insya Allah sudah hafal. Nanti abang rutin ya bacanya?” Jawab Sabrina senang mendengar abangnya ingin hijrah seperti dirinya.

Akhirnya Bayu dan Sabrina tiba di rumah. Sebuah perjalanan yang penuh hikmah.

Posted in Best Writer

Sudah Cukupkah Sedekahku?

By : Neng Dhisty

Aku mengenal salah satu wanita dalam kehidupanku. Bisa dikatakan, aku mengenalnya dengan sangat baik. Ia adalah wanita yang cantik dengan usianya yang telah  melewati kepala 4. Begitu cantiknya hingga orang di sekitarnyapun takkan menyangka bahwa usianya telah melewati kepala 4. Ia begitu cantik, ramah, sangat perduli dengan sekitar sebenarnya. Tetapi itu dulu, ketika harta yang ia miliki tidak sebanyak sekarang, ketika teman pergaulannya tidak se “Sosialita” seperti sekarang. Ia yang sekarang tak pernah absen untuk melakukan berbagai sedekah ataupun zakat ke sesama yang membutuhkan. Terutama anak yatim piatu.

Ia memang tidak seburuk yang terlihat, namun tidak pula sebaik yang kita pikirkan. Karena hati seseorang takkan pernah ada yang tau bukan?

Tahukah kamu surah Al-Baqarah ayat 215? Yapss. Kita akan membahas sebuah cerita ringan dan begitu menarik yang berhubungan dengan surah Al-Baqarah;215.

Sebut saja wanita cantik ini sebagai Lili karena keanggunannya. Lili mempunyai keluarga kecil yang beranggotakan suaminya, seorang anak perempuannya dan seorang Ibu yang tinggal bersamanya. Ibunya berusia lebih dari 70 tahun. Lili adalah wanita yang sebenarnya begitu perduli dengan orang-orang di sekitarnya, hanya saja sedikit ber”gengsi” untuk mengakuinya.  Begitu pula dengan suaminya. Namun suaminya terkesan lebih cuek. Yaps bisa dikatakan sangat cuek. Lili mempunyai seorang anak perempuan yang sudah memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama. Anak perempuannya mengikuti Sekolah Tahfidz, begitu sebutan modern di kalangan teman sebayanya. Kepribadiannya bisa dikatakan tak jauh berbeda dengan ayahnya dan memang etikanya harus dipercantik agar menjadi lebih baik. Sedangkan Ibunda dari Lili adalah seorang ibu yang begitu manja dengan usianya yang semakin renta. Bisa dikatakan sedikit cerewet, karena ingin diperhatikan. 

Ibunda Lili keadaan kesehatannya memang sudah tidak sebaik dulu. Tangan Kanannya sudah tidak bisa lagi untuk digerakan. Bobot tubuhnya pun begitu besar dan sudah tak bisa lagi untuk berjalan dengan baik. Beliau membutuhkan pegangan untuk menopang langkahnya. Suatu hari beliau jatuh dari kamar mandi hingga 2 kali berturut-turut. Tubuh rentanya tak bisa membohongi rasa sakit yang ia rasakan. Pada akhirnya tak mampu digerakan dan hanya mampu terbaring di tempat tidur. Lili sudah mencoba memanggil orang ahli urut patah tulang untuk datang ke rumahnya. Ibunda lili berteriak kesakitan dan enggan menerima tawaran untuk diurut kedua kalinya. 

Hingga suatu hari Aku menjenguk ibunda Lili dan bertanya, “ Gimana kabar nenek?” tanyaku dengan biasa ku memanggil ibunda Lili.

 “Iya gini aja, belum bisa jalan” jawab Lili “Sudah dipanggil tukang urut patah tulang tapi nenek menolaknya lagi.” sambungnya.

“Berati kalau buang air kecil atau buang air besar pakai pampers? Kenapa tidak coba ke rumah sakit? Takutnya ada masalah sama tulangnya.”tanyaku penasaran

“Iya pakai pampers. Jangankan ke rumah sakit, buang air kecil atau besar saja memakaikan popoknya sulit. Harus dibantu, ditahan, didorong sedikit.”jawabnya pesimis

Tak lama suaminya pun turun dari lantai 2. Rumah Lili terdiri dari 3 lantai dan begitu indah. Dekorasinya pun begitu cantik. Dengan tampilan sederhana suaminya yang tengah memakai arloji, ia berkata, “Ma, ayo cepet siap-siap. Udah ditunggu yang lain di Masjid Barokah.”

“Oh lagi ada acara ya? Nenek ada yang jaga?” tanyaku spontan.

“Ah nenek mah emang ngerepotin orang aja. Orang kita mau ke pesantren pake sakit segala. Makanya jangan jatoh. Manja sih.”selak Rifda anak Lili

“Astaghfirullah, kamu ini omongannya dijaga. Kalo di depan teman-teman mama nanti jangan ngomong kayak gitu ya.”jawab Lili dengan suara marah.

“Iya nih, mau ke tempat pesantren yang aku dan teman-teman bangun di daerah Bogor. Makanya repot nenek ga ada yang urus. Aku dan suami harus ke sana-sini ada ketemu anak yatim, ngurus pembangunan pesantren, rapat perkumpulan pengajian. Tapi udah minta tolong keponakan buat jagain kok.” Jelasnya.

“Oh ada cucunya? Alhamdulillah kalo ada yang jaga.” Jawabku

“Pah.. udah transfer ke bu Eko kan? Ga enak kalo telat nanti diomongin yang lain. Ini penting loh.”ucap Lili

“Iya udah.”jawab suaminya

“Kami pamit duluan ya.. nenek ada di dalem kalo mau lihat.”jelas Lili.

Dua minggu telah berlalu. Aku kembali menjenguk Ibunda Lili.

“Assalamu’alaikum nek…”salamku dari pagar 

“Wa’alaikumsalam.. masuk aja” jawab Nyai, pengasuh Ibunda Lili

“Wah sepi banget pada ke mana nyai?”tanyaku

“Nyu Lili lagi pergi sama suami 3hari”jawabnya

“Nenek gak ada yang jaga?” lanjutku

“Cuma aku sama puja, puja lagi kuliah”jawabnya

Puja adalah adik tiri dari Lili yang tinggal di rumahnya. Ia dibiayai untuk kulliahnya oleh Lili dan suami hingga lulus. Aku pun akhirnya berbincang-bincang dengan Ibunda Lili. Ada suatu penjelasan dari Ibunda Lili yang membuatku tersentuh hingga menitikkan air mata.

“Lili sering pergi, ada acara. Emang buat kebaikan, mau larang ga enak. Tapi emak bingung kalo apa-apa. Kalo mau pipis, buang air harus ada yang pakein pampers ho..  Ora iso emak kalo gerak sendiri. Sakit banget tulang ngilu semua. Badan gatel-gatel. Ini aja kalo gatel minta garukin nyai atau puja pake tutup balsam. Emak sedih kalo ngerepotin orang banyak. Nanti Lili pusing mikirin, Rano (Suami Lili) repot uangnya buat emak sakit. Mau makan susah. Mau minum takut pipis terus nanti ngerepotin ganti pampers terus.” Jelas Ibunda Lili sambil menggenangkan air mata.

“Nenek sabar yah.. semoga cepet sembuh. Nenek udah makan belum? Aku bawa alpuket kesukaan nenek.” tanyaku

“Belum makan ho.. gak napsu. Iya makasih ya.. Nanti emak makan sore.”jawabnya

“Mau makan apa? Adanya mie aja.. Kalo ada cucunya baru dibawain makanan, dibikinin ikan. Kalo cucunya belum jenguk mah susah nenek makannya. Nanti aja makan alpuket aja ya” sambung nyai pengasuh Ibunda Lili

Astaghfirullah.. aku hanya bisa mengusap lengan Ibunda Lili sambil melihatnya menitikkan air mata.

Satu minggu kemudian aku diberi kabar bahwa Ibunda Lili dibawa ke rumah sakit swasta dan didiagnosa patah tulang pinggul dan SSJ (Syndrome Steve Jhonson).

Ya Allah.. Seandainya Ibunda Lili adalah ibuku. Aku takkan rela kehilangan waktu berbaktiku padanya demi hal yang lain. Tahukah kamu? Masa berbakti kita kepada Ibu tidaklah panjang. Dan sebesar apapun bakti kita kepada Ibu, takkan pernah bisa menggantikan pengorbanan yang Ibu berikan kepada kita. 

Marilah kita renungkan bersama, berinfak kepada sesama memang baik dan penting. Begitu banyak keutamaan Infak, sadaqah, ataupun zakat. Namun kembaliah kita menyelami makna dari surah Al-Baqarah:215. Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaklah diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang daam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” Baiknya kita utamakan kedua orang tua kita selagi mereka masih membutuhkan bantuan kita. Karena Sedekah atau hadiah yang kita berikan tidak harus selalu barang mahal. Yang penting, hal tersebut bermanfaat, meskipun sederhana. Yang paling utama adalah suasana batin dan keikhlasan serta cara kita dalam melakukannya. Itulah yang akan berbekas.

Semoga sepenggal cerita ini dapat menuntun kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lebih mendekatkan diri padaNya. Aamiin Allahumma Aamiin.

Posted in Best Writer

​Lelah Karena Lillah

By : Bang Jack

Memang tugas kita selain Ibadah yaitu Berdakwah,
Agar gak cuma kita aja yang jadi orang Sholeh dan Sholehah.
Dakwah itu penuh dengan Masalah,

Bukan untuk menjadikan kita kalah,

Tapi menjadi sebab kita semakin mahabbah dengan sang Illah
Dalam berdakwah Wajar kalau kita merasa Lelah,

Karena kewajiban yang harus kita lakukan itu lebih banyak dari waktu yang disediakan.
Dalam berdakwah memang perlu banyak perjuangan,

Agar menjadi cerita bahagia ketika kita meraih kemenangan,
Tetap semangat sahabat dalam melayani umat,

Karena tujuan kita yang utama yaitu hidup bahagia di Akhirat,
Jadikanlah Lelah dalam dakwah ini karena Lillah,

Agar semua yang kita lakukan menjadi berkah.
Ingat perjuangan kita hanya sebatas lelah,

Tak sampai harus mengorbankan darah.
Jika hanya lelah kita sudah menyerah,

Tidakkah kita malu dengan saudara-saudara di Palestina yang berjuang sampai berdarah?
Sahabat, berdakwah membuat kita menjadi kuat,

Abaikanlah kesenangan-kesenangan yang cuma sesaat,
Semoga kelak di akhirat kita semua mendapatkan syafaat.

Banten – 15 Maret 2017

Posted in Best Writer

Pantang Menyerah

By : Ustadz Sultoni

Peluh sudah membasahi wajah dan hampir sekujur tubuh Kiki. Maklum ia tadi beberapa kali berlarian mengejar angkot yang hanya nongol satu dua datang ke halte. Tapi ia selalu keduluan penumpang lain yang lebih sigap. Seperti balap lari, siapa yang lari lebih cepat, dia langsung bisa naik ke dalam angkot.

Siang itu panas cukup terik. Sopir-sopir angkot sedang unjuk rasa menolak angkutan berbasis aplikasi online.
“Pantas saja angkot jadi langka yang beroperasi,” gumam Kiki yang bernama lengkap Rizqi Muthmainnah itu.


Kiki, siswa kelas 11 IPA 1 MAN 1 Kota Tangerang itu, sudah hampir sepekan harus “lomba lari” sepulang sekolah. Jarak rumah dengan sekolahnya kira-kira 10 km. Waktu tempuh dengan angkot kira-kira 1 jam tanpa macet. Kalo macet bisa molor 1/2 jam dari biasanya.

Sejak awal demo anti ojek online, oleh para sopir angkot, sejumlah trayek angkot seperti lumpuh. Inilah muasal dalam beberapa hari ini, Kiki sering molor pulang sekolah.

“Ki .. kowe kan bisa naek motor ke sekolah. Biar adikmu yang naek angkot. Supaya kowe ndak telat pulang sekolah,” ujar Bu Mur pada putri sulungnya.

Sudah kesekian kali Bu Mur membujuk putrinya, agar mau menerima usulannya untuk kondisi darurat saat itu. Bahkan Bu Mur minta putrinya tak sungkan-sungkan gunakan ojek motor kalo angkot sulit.

Ndak pa-pa bu. Aku lebih suka naik angkot. Lebih aman. Aku juga kan gak mau lah, goncengan dengan abang-abang ojek. Dia kan bukan mahromku bu..!” tukas lembut Kiki.

Rizky Muthmainnah, penyandang nama ini lahir di Jakarta dari keluarga blasteran Jawa Betawi. Ayahnya Pak Mustofa, ustadz Betawi, dikenal giat mengasuh jama’ah masjid dekat rumahnya. Hingga Pak Mus, panggilan akrab Pak Mustofa, wafat 5 tahun lalu, Bu Mur akhirnya harus bekerja keras menghidupi Kiki dan 2 orang adik laki-lakinya. Menjadi yatim, Kiki dan kedua adiknya justru kian bersemangat membantu menjajakan kue lapis legit buatan Bu Mur ke sekolah mereka.

Hasil tempaan Pak Mus tidak percuma pada putra-putrinya. Kiki di samping taat beribadah, ia juga tergolong murid cerdas. Prestasi siswa terbaik se-Jakarta Selatan pernah ia raih saat kelas 9. Di tempat tinggal sebelumnya daerah Rawa Belong, Kiki yang sejak usia SD gemar berjilbab itu, sering memberi bimbingan belajar pada teman-teman sekampungnya. Hingga tahun 2016, keluarganya pindah ke Tangerang. 

“Mbak Kiki kok pindah sih? Kita kan masih pengen terus sama mbak. Nanti yang ngajarin berhitung sama ngaji siapa dong?” Ujar Wulan, salah seorang tetangga Kiki kelas 5 SD.

Suaranya tercekat parau. Bola matanya terlihat berkaca. Setetes air mata jatuh tanpa ia bisa tahan dan Wulan akhirnya sesenggukan. 

Kiki lalu memeluknya, layaknya seorang ibu mendekap anaknya. Ia kelihatan lebih dewasa dari usianya. Mata Kiki pun ikut berkaca. 

“Wulan… kamu gak boleh sedih. Mbak juga dulu gak bisa apa-apa seperti Wulan. Kamu bisa belajar sendiri. Sholat yang rajin. Bangun subuh harus disiplin. Dan ingat, baca Qur’an tiap pagi jangan sampe tinggal. Itu sebetulnya kunci meraih kecerdasan…!” Senyum Kiki pada Wulan.

Di tempat tinggal barunya kedewasaan Kiki kian matang. Ia nyaris tak pernah melewati hari-harinya di rumah maupun di sekolah kecuali untuk hal-hal positif. Kalian tahu gak, Kiki jam setengah 4 pagi sudah bangun. Selesai sholat malam, ia dengan cekatan membantu memotong-motong kue lapis, lalu membungkusnya dengan plastik. Sebelum subuh tiba, ia sudah mandi. Dan pas pukul 5.30 Kiki dipastikan sudah duduk di angkot menuju sekolah. Ia begitu disiplin mengatur waktunya. 

Setiap ke sekolah, di samping menggembol ransel punggungnya, ia pasti menenteng kantong plastik di tangan kanannya. Isinya mau tahu? Kue lapis ibunya yang siap ia jajakan di sekolah. Hebatnya, Kiki yang super padat hari-harinya itu, masih sempat menjadi Mentor kegiatan Rohis di sekolahnya. 

“Ki.. kamu gak ada WA ya? Nanti susah dong kita chatting-chattingan…!” Seloroh temannya.

“Kita tetap bisa komunikasi lewat telepon rumah. Karena aku gak punya hape. Kan komunikasi gak perlu berjam-jam?” Kalem Kiki menjawab.

“Kamu jadul deh Ki.”

“Masak ke mall aja belom pernah?”

Naek ojek aja anti?”

Suara-suara miring itu sering ia dengar. Tapi Kiki hanya menanggapi dengan senyum. Ia gak pernah marah. Bahkan sering teman-teman yang kontra dengan sikap jadulnya, ia dekati. Ia ajak diskusi dan tak jarang ia ajak makan ke kantin.

“Ki, kamu beneran neh mau traktir kita-kita orang…?” seru Ica.

Di meja kantin sekolah saat itu, Ica juga ditemani 3 sohibnya. Mereka berlima, kini sudah mengerubungi meja di pojok pondok bakso. Haha hihi… dan celotehan mereka cukup heboh. Kecuali hanya Kiki yang hanya senyum-senyum menatap teman-teman sekelasnya. Sampe menyantap hidangan, suara haha hihi Ica CS, masih saja santer terdengar di pondok bakso kantin sekolah itu.

“Ca, tadi udah baca do’a sebelum makan?” Canda Kiki.

“So pasti bu ustadzahku…” kali ini Sarah yang nyerocos nimpalin Ica. Yang lain koor juga dengan nada dan ucapan yang sama. Suasana di ruangan itu jadi riuh.

“Eh, emang kalo udah bisa ngajarin ngaji kita-kita orang, kamu gak bisa main ke mall ya Ki. Emang ke mall haram?” Kali ini Meta yang iseng nanya. 

“Siapa bilang ke mall haram? Aku cuma mau ke sana kalo ada tujuan pasti. Nyari buku-buku pelajaran di Gramedia, atau beli keperluan sekolah lainnya. Tapi kalo barang-barang yang kita cari bisa beli di tempat lain? Ya.. aku lebih nyaman beli di luar,” beber Kiki kalem.

“Lebih nyaman di luar kamu bilang? Bukankah di mall lebih nyaman ketimbang di toko-toko pinggir jalan, Di mall kita kan bisa cuci mata? Tempatnya adem full AC. Walau harganya sedikit lebih mahal, tapi kita puas berkeliling sembari liat barang-barang merek terkenal. Walaupun belinya belom tentu, hi hi ..hi !” Kali ini Ambar nyeletuk

My best friends… kamu ini memang betul-betul sohibku. Aku mau bilang sama kalian, ke mall kalo sampe berjam-jam buat apa? Kalo selesai dapet barang yang dicari, ya ngapain lama-lama di sana? Manfaatkanlah waktu seefektif mungkin untuk hal-hal yang bisa nambah pengetahuan, nambah kedekatan dengan Robb kita. Atau membuat kita jadi inget kematian..!” Senyum Kiki. 

“Tunggu… tunggu.. Kamu kok bicara dari mall ke soal mati sih Ki? Emang kita-kita ini kumpulan lansia yang udah deket ke liang kubur? Sampe-sampe soal mati dibicarain di sini? Jangan ngomong soal mati ah.. Merinding bulu guwe jadinya” tukas Ica rada bernada protes.

Kiki menatap senyum teman-teman akrabnya itu. Ini kesempatan dia memberi masukan nilai Islam kepada mereka. 

“Kalian emang kritis dan lucu deh. Friend-ku yang cantik. Waktu itu nikmat luar biasa dari-Nya. Dengan nikmat waktu itu kita bisa sekolah, belajar, menambah teman, menambah ilmu, mencari rezeki, berdiskusi seperti ini, etecera… dan masih banyak lagi yang bisa kita explore di dunia ini. Kalo kita bisa berkontribusi bagi kemajuan anak-anak bangsa, kita ini akan Allah catat sebagai hamba-hamba-Nya yang bersyukur dan bertanggung jawab. So my beautiful ladies… jangan bunuh waktu muda kalian dengan hal-hal yang useless. Ok?

Hening sejenak.. ceramah Kiki mulai direspon. Selanjutnya..

“Aku ingin berbagi hidayah dengan kalian. Karena aku sayang kalian. Usia kita ini, orang bilang sebagai usia paling produktif. Golden age. Usia emas. Usia dimana para sahabat Nabi saw, yang amat belia, tapi kontribusi mereka pada dunia? Amat luar biasa. Siapa tak kenal Usamah bin Zaid, Ali bin Abi Thalib, Aisyah  binti Abu Bakar, Hafsoh binti Umar? Ayo, bangun para srikandiku yang perkasa, ukirlah masa mudamu dengan karya-karyamu yang bisa membanggakan Indonesia. Bisa membuat ibu ayah kita, para guru kita, dan bahkan Nabi kita bisa tersenyum bangga. Bumi kita sudah terlalu sesak dengan polusi kemaksiatan. Jangan kita tambah lagi dengan kelalaian-kelalaian masa muda kita. Saatnya hari ini kita berbuat all out untuk agama dan bangsa. Mulai hari ini, jangan setengah-setengah berislam ya friendsku yang cantik-cantik. Beribadah jangan part time apalagi no time. Sebab kematian itu any time dan on time. Udah ya..!”

Kiki lalu bergegas ke kasir. “Berapa semua mbak Pur…?”

“Oya nak Kiki titipan kue lapis legit abis kabeh 50 biji. Jadi aku setor semua 100 ribu. Bakso lima mangkok cuma 50 ribu. Jadi tinggal 50 ribu ya aku setor ke nak Kiki..” ujar mbak Pur senyum.

Kiki balas senyum sembari mengangguk.

Posted in Kehidupan Pascakampus

Kucing dalam Lingkaran

Duduk melingkar di beranda masjid agung yang tiap pekan kita lakukan. Belajar bersama menambah ilmu dan iman. Diselingi obrolan santai dan juga ditemani makanan ringan. Tak jarang ada satu teman baru yang ingin ikutan. Siapa dia? Kucing!


Kucing yang sering muncul saat kita mulai membuka makanan. Terkadang ingin bermanja mendekati salah satu diantara kita. Ada yang takut dengan kucing hingga harus berpindah tempat duduk tapi terus dikejar-kejar si kucing. Jadilah adegan pindah tempat duduk berkali-kali. 😂 (Hayooo siapa ini?)

Ada yang tangannya pernah tercakar oleh si kucing. (Ini sih aku pernah ngalamin.) Tak jarang kita memberi makan si kucing, berbagi makanan yang kami punya. Ternyata, kucing doyan gorengan dan keripik yaaa 😄

Sekarang lingkaran besar itu semakin mengecil akibat jalan hidup yang telah digariskan-Nya. Banyak yang kembali ke kampung halaman dan meniti karir disana. Kadang aku rindu dengan lingkaran kita yang besar, obrolan yang ramai dan tentunya suasana ukhuwah yang hangat.

Tapi tenang, si kucing masih setia menemani koq. Hihihi 😸

🌹❤

Dari sahabatmu,

Fatmaratri Maulani

Rumahku, 7 Maret 2017 waktu dhuha

Posted in Awan Kehidupan

Menikah dan Sholat

Hidup bagaikan sebuah perjalanan. Dalam perjalanan janganlah tinggalkan sholat. Sebab hati tak akan tenang. Bila telah tunaikan sholat, betapa tenangnya hati dan sejuknya perasaan.
Menikah menyempurnakan separuh agama. Katanya, bila menikah perasaan akan tenang. Apa-apa yang dilakukan bersama pasangan akan terasa tenang karena sudah halal.
Apakah rasanya seperti ketenangan yang didapat setelah sholat?
🌹🌹🌹

Renungan dari sebuah perjalanan

Fatmaratri Maulani 

Ahad pagi 5 Maret 2017