Posted in Uncategorized

Galau Nulis

Menulis.

Aku punya sedikit hobi nulis. Kalau ada inspirasi, dan ada sesuatu yang sangat terkesan atau bisa aku renungi biasanya akan kutuangkan dalam tulisan.

Aku punya blog pribadi. Isinya hanya tulisan-tulisan kecil ala kadarnya. Ada juga copy tulisan penting. Kebanyakan sih curhatan-ya, seperti tulisan ini-.

Biasanya aku menulis di angkot saat perjalanan berangkat atau pulang kuliah. Atau saat hari libur di rumah. Ya, bisa kapan saja. Lebih tepatnya sih saat mood menulis datang.

Ketika ada tawaran menulis, aku dengan semangat mengiyakan. Aku kira tawaran itu tidak akan serius. Aku kira aku diminta menulis nonfiksi. Tapi ternyata aku diminta menulis karangan fiksi.

Aku jarang sekali membuat tulisan fiksi. Aku lebih suka menulis tulisan nonfiksi. Hikmah dari pengalaman yang aku alami misalnya.

Buku-buku yang aku beli pun kebanyakan buku nonfiksi. Buku semacam kumpulan cerpen atau novel hanya sedikit yang aku punya. Itu pun hanya aku beli di bazar toko buku dengan harga murah. Aku masih merasa sayang sekali uangku bila digunakan untuk membeli novel dengan harga mahal. Walaupun bila dibandingkan dengan buku tebal nonfiksi, aku akan lebih lahap membaca novel-seberapapun tebalnya bila ceritanya menarik-. Namun aku berpikir bahwa buku nonfiksi lebih banyak manfaatnya dibanding buku fiksi, dan biasanya buku nonfiksi bisa kita baca dua kali. Kalau baca novel kan sekali baca, habis, sudah tahu ceritanya maka selesai, bukunya disimpan begitu saja di lemari buku, nggak bisa dibaca lagi. Biasanya lho ya.

Jadi ini tulisan benar-benar curhat. Tentang kegalauanku akan project menulisku. Tentang janji dari sebuah kata iya. Di awal-awal seperti ini aku merasa minder dan ‘macet’ untuk menulis. Sungguh, aku tidak ingin mengecewakan mereka. Aku punya cita-cita menjadi penulis.

Sekarang aku sudah bukan mahasiswa lagi. Dulu waktu masih kuliah aku masih bisa menyempatkan waktu untuk baca buku di kampus. Tapi sekarang aku jarang sekali bisa baca buku di kantor. Hampir setiap kali aku bawa buku dengan rencana ketika luang nanti akan dibaca, tapi ternyata tidak sempat kubaca.

Benar kata temanku bahwa aku mungkin macet nulis karena kurang baca. Aku pun kemarin ke IBF kusempatkan beli buku kumpulan cerita. Semoga aku bisa menulis cerita-cerita hikmah. Rencana ketika hari libur ini ingin mulai menulis tapi tidak dapat terealisasi. Astaghfirullah al ‘adzim…

Aku harus banyak istighfar, banyak baca buku, kurangi main hp dan nyalakan semangat menulis. Doakan aku ya…
🌹🌹🌹

11 Mei 2017

Fatma alias Fathimah Alifa

tulisan selingan yang semoga bisa menghilangkan kegalauanku

Advertisements
Posted in Uncategorized

Cuma di-Read?

​Entahlah. Aku nggak ngerti kenapa sebagian (besar) orang jarang membalas pesan yang dikirim lewat aplikasi chatting seperti WhatsApp, Line, dsb. Meskipun pesan itu penting, tapi tetap saja tidak dibalas. Entah karena sibuk, lupa, tidak sempat, atau tidak punya kuota internet. Kalau tidak punya kuota sih bisa dimaklumi ya. Tapi kalau pesan itu cuma dibaca tanpa dibalas? Apakah gerangan alasan sebenarnya? Untuk apa ia memiliki aplikasi chatting kalau tak bisa dihubungi? Bagaimana perasaannya jika suatu saat ia dalam keadaan penting dan genting serta butuh bantuan orang lain lalu ia menghubungi orang itu melalui aplikasi chatting namun tidak dibalas? Ah, aku rasa itu lebih menyakitkan daripada cinta bertepuk sebelah tangan. (Loh?)

Memberi dan menerima. Balaslah pesan dari orang lain, ketika sempat. Seseorang mengirimkan pesan tentu dengan harapan mendapatkan balasan darimu.

Fatmaratri Maulani, Rumahku, 28 Mei 2016.