Posted in Seri Cinta Terpendam

Note of You

By: Kinza
Malam ini tempatku sedang mendung. Mungkin tinggal menunggu hitungan menit bagi hujan untuk sampai di sini. Bagaimana di sana?

Bersama hujan yang mulai mengguyur dan dinginnya udara malam, aku memikirkanmu.

Aku berpikir, masihkah kamu memikirkanku? Semoga kamu kuat menjalani hidupmu sendiri

Maafkan temanmu ini yang menulis lagi untukmu. Apalah dayaku yang tidak bisa menahan hobiku yang satu ini. Aku hanya ingin menyapamu, menanyakan kabar tentang dirimu? Semoga kamu baik-baik saja dalam lindungan-Nya.

Sekedar memberitahumu saja, jika teringat saat itu,  betapa cepatnya jantungku berdebar ketika pertama kali aku berangkat sekolah di boncengmu. Sungguh momen yang tak terlupakan bagiku. Banyak pertanyaan yang aku keluh kesahkan, ingin menanyakan kepadamu, tapi apalah dayaku. Sebagai perwakilan perasaan, izinkanlah aku bertanya “tahukah kau akan hal ini?”. Jelas kamu tahu, jelas kamu rasakan. Jika kamu tidak bisa merasakannya memangnya hatimu terbuat dari apa? Begitu banyak rasa yang kuberikan, begitu banyak yang kuekspresikan untukmu baik verbal atau pun non verbal, baik tatapan atau pun senyuman. “Aku tau bahwa kamu tau segalanya”

Melupakan bukan berarti harus membuang seluruh kenangan yang pernah aku rasakan bukan? Aku hanyalah manusia biasa yang tak tahu tentang kapan terjadinya suatu pertemuan dan perpisahan.

Walaupun aku sudah tidak lagi terlalu berharap untuk menjadi seseorang spesial di hatimu. Namun jangan pernah kau ragukan, namamu tak akan pernah luput dari doa-doa harapku dan tentunya dibarengi dengan doa kepada orang tua dan diriku.

“kinza” adalah kalimat yang sering kau ucapkan untukku, masih terekam jelas nada panggilanmu di dalam memoriku. Seperti yang aku sebutkan melupakan bukan berarti “menghapus”. Kalaupun aku masih bisa untuk mengumbar harap, aku sangat berharap kelak yang datang kepadamu hanyalah kebahagiaan.

Kamu memang masih menjadi yang utama. Topik utama saat aku bercengkerama dengan hatiku. Namamu masih jadi salah satu nama yang selalu aku sebut saat aku berharap pada-Nya. Kamu masih menjadi sosok utama yang mendominasi pikiranku. Tokoh utama yang merasuki jiwaku. Kau juga masih menjadi sosok yang spesial untukku. Mungkin tak ada lagi sosok spesial lain yang bisa menggantikan posisimu. Jangan dulu berbesar hati. Apalagi berbesar kepala saat kau membaca rangkaian kata dalam kalimat yang aku tulis tentangmu ini.

Kamu memang “Spesial”. Tapi bukan sebagai kekasih. Apalagi sebagai pendamping hidup. Kamu adalah teman tumbuh di masa laluku. Kau spesial karena kau turut andil dalam membentukku menjadi wanita yang tangguh. Peranmu dalam hal ini sangat banyak. Aku rasa, hanya darimu aku mendapatkan kedewasaan, kemandirian, keikhlasan, kelegowoan, ketangguhan, kemarahan, kesedihan, kebahagiaan, kekuatan, dalam satu waktu yang sama. Tak ada teman masa laluku yang memberikanku sepaket tawa dan tangis seperti dirimu. Itulah mengapa kau kusebut spesial.

Semoga kelak dimasa depan kita masih bisa bersama lagi walaupun kita bukan untuk dipersatukan-Nya. Aku bahagia bisa berteman denganmu, aku berterimakasih karena pada saat itu kamu mengabaikan perasaanku, aku bersyukur karena kamu menempatkanku sebagai teman.

Aku adalah temanmu yang akan selalu menjadi temanmu baik itu dulu, sekarang atau pun nanti. Yang akan tetap menggenggam tanganmu saat semua meninggalkanmu.

Terima kasih..

25 Agustus 2016

Advertisements
Posted in Seri Cinta Terpendam

Selasa, 02 Agustus 2016 20:40 WIB Aku Menyadarinya

By: Kinza


Sebelum dia bersamamu aku diperkenalkannya terlebih dahulu

Sungguh jalan kehidupan tidak pernah bisa diduga. Dalam suatu kegiatan Sang Pencipta mengenalkan dia yang mungkin kelak akan bersamamu..

Padahal sebelumnya aku tidak se-team dengan dia. Tetapi tiba-tiba tim pun diubah.. Tapi mengapa aku dipasangkan dengan dia? Hanya aku dan dia

Pada saat itu aku berfikir mungkin saja Sang Pencipta sedang menanyakan kepadaku, apakah wanita ini pantas untuk bersamamu?? Apakah wanita ini masuk kualifikasi kriteria dirimu??

Jujur saja aku mengenal baik bagaimana dirimu, sifat-sifat baik atau buruk dan juga pemikiranmu.. Bukannya sok tahu, tapi ingat kita pernah dekat dan satu pemikiran

Aku mengenal dekat sosok wanita itu kurang lebih satu bulan.. Dan akhirnya aku berbicara dalam hatiku, wanita ini layak untuk bersamamu.. Dia masuk kriteria dirimu. Selamat!!

Dia baik, pintar, cantik dan juga taat agama. Tidak seperti aku dan kamu yang jelas “beda”. Tidak usah dijelaskan lagi ya kukira semuanya sudah jelas.

Aku wanita yang pernah menyukaimu, mencarikan wanita yang layak bersamamu.. Dan akhirnya ku menemukannya. Kuharap kau menyukainya..

Dan ternyata.. Akhirnya kamu menyukai seorang wanita, dan wanita itu adalah yang aku kenal dekat satu bulan untuk dirimu.. Ahh sudah kubilang, kita ini satu pemikiran

Terlihat jelas dan nyata goresan pensil yang kau gambarkan di kertas adalah dia.. Masih mengelak?? Mau aku bandingkan foto aslinya dengan gambaran indah yang kau gambarkan itu?? Latar kotak itu
Sudahlah akui saja.. Jelas aku tidak kesal

Akhirnya kamu menyukai seorang wanita!! Aku merasa bersyukur dan bahagia, Sungguh… Sunggingan senyum dari bibirku tak mau berhenti sejak aku menyadarinya

Semua berakhir pada;

10 Mei 2016 aku bertanya nama pada seorang pria

8 juli 2016 kamu menggambar dia pada kertas
Terimakasih karena hanya menjadi teman saya saja dan memberikan warna-warni rasa dalam kehidupan saya

Goodluck boy 🙂 Allah blessing you

Posted in Seri Cinta Terpendam

Bersama Angin

​​Sore itu, cuaca tidak mendung tidak pula cerah. Mungkin pembawa acara ramalan cuaca akan menyebutnya cerah berawan. Angin yang juga bertiup sepoi-sepoi membuat suasana menjadi sejuk.
Gadis itu memakai jaket hitam dan mendengarkan musik lewat earphone-nya. Ia sedang dalam perjalanan pulang menaiki angkot. ~Kamu yang kutunggu…~ Itulah lagu yang sedang didengarnya. Lagu yang sesuai dengan isi hatinya. Ia yang sedang menunggu seseorang. Ia harap seseorang yang ia tunggu itu bisa duduk tepat di sebelahnya. Ya, di dalam angkot.

Namanya Ani. Gadis berusia 22 tahun itu kini sedang duduk manis dalam angkot yang sedang ngetem*.

*ngetem= berhenti menunggu penumpang


“Pak sopir, tolong cepatlah.. Bisa-bisa nanti saya nggak ketemu sama dia.” Gelisah Ani dalam hati.
Waktu sudah semakin sore. Akhirnya sopir angkot yang sedari tadi mengobrol dengan sopir lain di luar, masuk ke mobil. Tak lama kemudian angkot pun melaju.


“Alhamdulillah…” dalam hati Ani bersyukur.

Masih sambil mendengarkan lagu, Ani menikmati perjalanannya dengan tenang dan sabar. Tak lama ada seorang pria menghentikan angkot yang ditumpanginya. Pria itu pun duduk di sebelah Ani karena memang kosong dan di tempat lain sudah penuh. Namun Ani masih berharap seseorang yang ditunggunya bisa duduk tepat di sebelahnya.

Roda angkot berputar kian melambat. Jalanan kota di sore hari padat merayap. Ramai dengan orang-orang yang pulang kerja. Hati Ani semakin gusar dan berdetak tak menentu. Angkot yang ditumpanginya berjalan mendekati jembatan itu. Jembatan tempat ‘dia’ menunggu.


“Apakah dia menunggu disitu? Apakah aku bisa melihatnya berdiri disana? Apakah dia bisa duduk di sampingku?
Begitu banyak pertanyaan dalam benaknya. Enam puluh detik kemudian angkotnya telah melewati jembatan dan Ani dapati dia tidak ada disana.


“Aduh dia nggak ada…” Sedikit rasa kecewa hadir di hatinya.
Angkot terus berjalan. Lalu lintas sudah lancar. Kini angkot sudah berjalan dengan cepat. Seolah kemacetan tadi hadir hanya untuk mendukung suasana menegangkan yang Ani rasakan. Ani pun membuka jendela di sampingnya. Membiarkan udara bergerak masuk ke dalam. Ani merasakan sejuknya angin itu.

Lalu Ani melihat pemandangan ke luar jendela. Langit biru yang begitu luas dan indah menyejukkan hatinya. Bibirnya pun tersenyum dan berkata dalam hati,

“Bersama angin, kulepaskan perasaanku. Biarkan waktu yang menjawab apakah jodohku itu kamu.”

Rasa penasaran Ani telah terjawab. Gadis itu pun memutuskan untuk melepaskan perasaannya terbang bersama angin. Kini hatinya telah lega. Setidaknya pertanyaan-pertanyaan kecil yang tadi mengganggu pikirannya telah terjawab. Kini biarkan waktu yang menjawab pertanyaan besar gadis itu.

Fatmaratri, 16/12/16

Posted in Seri Cinta Terpendam

Catatan Malam

By Kinza

7/3/16


Merindukan, jelas saat ini saya rasakan..

Rasanya menjadi munafik, jika tidak mengakui rindu..

Saya pikir saya bisa, saya pikir saya siap..

Tapi nyatanya.. Sang rindu pun kembali menyapa, setelah sekian lama..

He. Lucu rasanya perasaan ini

Melihat anda, mendengar tawa anda adalah hal yang saya inginkan..

Siapa yang sangka, dengan mendengar tawa seseorang saja..

Dapat mengerti.. Setidaknya anda bahagia

Ahh.. Rasanya perjuangan ini menjadi sia-sia

Anda datang dua kali ke dalam mimpi saya..

Mengapa anda hadir?

Karena Anda yang rindu atau karena saya yang rindu? Yang membuat alam bawah sadar saya otomatis menghadirkan anda.. Entahlah~

Malam ini, apa anda akan datang kembali dalam mimpi saya? Terserah anda…

Posted in Seri Cinta Terpendam

Teruntuk Masa Lalu 

Kini aku mengerti..
Aku ingin menjadi gadis yang dewasa

Mungkin tiga tahun belakangan ini aku lari dari kenyataan

Kenyataan akan perbedaan semua situasi yang ada

Aku tidak mengahadapinya, malah aku lari menghindarimu

Terlihat seperti aku yang tidak dewasa bukan?

Maaf, jika sikap aku ini membuat kamu tidak nyaman

Aku yang tidak siap menerima semua perubahan yang ada

Membuat dirimu terkesan yang salah, terkesan kamu yang berdosa

Memojokkan kamu atas sikapmu yang padahal biasa saja

Aku tak bermaksud menyalahkan kamu, aku hanya tidak siap

Tapi sungguh perasaan yang dulu, sangat menyesakkan

Bahkan bertemu denganmu saja sungguh membuat aku tersiksa

Dimana aku harus meredam rasa yang bergejolak di hati

Mungkin kamu tidak mengerti dengan perasaan semacam itu

Tapi kini..

Gadis kecil ini ingin menghadapinya, ingin menyelesaikannya

Maafkan aku.. Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan

Sebelum ada kata sesal, Aku ingin memperbaiki hubungan kita

Mari kita mulai dari awal, Dan sekali lagi Maafkan aku.. Aku harap kamu bisa mengerti untuk yang satu ini

Sehingga nanti..

Akan ada kata “ikhlas” yang sesungguhnya dari hati
By Kinza

2 November 2015

Posted in Seri Cinta Terpendam

Kembali Hadir 

​Rasa itu kembali hadir. Saat mata saling bertemu, saling melihat, dan saling bertatapan seakan waktu berputar kembali pada masa itu.

Perasaan, harapan, bahkan angan-angan pada masa itu pun kembali terlintas. Mengulang semua memori yang kini, telah menjadi tak ada gunanya lagi.

Saat saling melihat saja rasa itu hadir kembali, rasa yang mungkin sedikit demi sedikit terhapus oleh waktu dan kesibukan masing-masing.

Bahkan saat melihat sekilas saja sepertinya kita sudah saling mengerti apa yang sedang dirasakan satu sama lain, tanpa perlu mengucapkan kata-kata.

Saat perasaan itu hadir kembali, rasanya saya ingin selalu berada di dalam duniamu, berkeliaran di sekitarmu, selalu melihatmu, tersenyum untukmu, dan tertawa bersamamu.

Tapi seketika itu juga logika langsung saja menampar keras saya, dengan kenyataan yg berbeda. Kenyataan bahwa kamu tidak pernah mengharapkan itu semua. Kenyataan yang mungkin, bahwa sosok itu bukan saya melainkan orang lain.

By Kinza

January 18, 2014

Posted in Seri Cinta Terpendam

Terimakasih

Terima kasih kau membuatku bebas, terbebas dari jeratan masa lalu..

Terima kasih karena kamu telah mengajariku mengalah, mengalah demi kebahagiaan orang lain..

Aku tak tahu apalagi yang harus kuucapkan padamu, memang aku tak bisa memilikimu..

Tapi dari situlah muncul banyak pelajaran bagiku, sekarang aku tahu bagaimana cinta yang harus benar bisa mengalah..

Dan kini aku bisa mengalah untuk kebahagiaannya, walaupun memang awalnya sakit..

Tapi, ini jalan hidup..

Aku bersyukur mengenalmu, karena secara tidak langsung kamu telah mengenalkan aku rasa itu..

Ya.. Terimakasih untukmu

Sekarang aku sudah bisa tersenyum bebas, tidak terjerat dengan mimpi masa lalu bersamamu..

Walaupun melupakanmu takkan mudah bagiku, tapi berikan aku waktu untuk bisa mengacuhkanmu..

March 29, 2013

By Kinza