Posted in Awan Kehidupan

Balada Bocah Punya Android

by: Fatmaratri Maulani

PIM-Rumahku 21 Mei 2017


Suatu malam seorang bocah kelas 5 SD sedang bermain hp androidnya. Tiba-tiba ia bertanya pada kakaknya.

Adik: “Mba, play store bisa di-update ga?”

Kakak: “Ga bisa. Emang kenapa?”

Adik: “Yah ga bisa.. Mba, mba tahu game *** ga?”

Kakak: “Ga tahu, game apa itu?”

Adik: “Itu game-nya seru. Temen-temen pada mainan itu. Tapi di play store hp ini ga ada. Kenapa ya mba?”

Kakak: “Oh… Berarti game-nya ga bagus buat hp kamu.”

Adik: “Ih, bukan. Waktu itu pernah aku nyari di play store tapi tulisannya ‘belum cukup umur’. Argh…”

Kakak: “Nah iya berarti ga bagus kan..”

Sang adik kesal, ia berpikir mungkin data di play store-nya sesuai dengan tahun kelahiran aslinya.

Namun dalam hati sang kakak berbicara.

“Maaf ya dik, sebenarnya kakak yang mengatur play store hpmu seperti itu. Kakak ubah pengaturan parental mode-nya jadi usia 3 tahun. Semoga Allah melindungimu ya dik. Aamiin…”

Advertisements
Posted in Awan Kehidupan

Menikah dan Sholat

Hidup bagaikan sebuah perjalanan. Dalam perjalanan janganlah tinggalkan sholat. Sebab hati tak akan tenang. Bila telah tunaikan sholat, betapa tenangnya hati dan sejuknya perasaan.
Menikah menyempurnakan separuh agama. Katanya, bila menikah perasaan akan tenang. Apa-apa yang dilakukan bersama pasangan akan terasa tenang karena sudah halal.
Apakah rasanya seperti ketenangan yang didapat setelah sholat?
🌹🌹🌹

Renungan dari sebuah perjalanan

Fatmaratri Maulani 

Ahad pagi 5 Maret 2017

Posted in Awan Kehidupan

Laksana Air

Aku laksana air di atas sendok. Sedikit. Bila ditambah garam ia menjadi asin. Bila diberi gula manislah ia. Bila dicampur obat berubah menjadi pahit. Aku, air yang ingin menjadi samudera. Samudera yang begitu luas. Yang sabar menghadapi ombak. Tidak mudah marah bila ada badai. Terasa menyegarkan walaupun banyak terumbu karang. Ah sudahlah. Jangan dipaksakan bila kamu tak mengerti. Aku hanya air di atas sendok namun ingin menjadi samudera.

Tangerang, 24 November 2016

Fatmaratri Maulani

Posted in Awan Kehidupan

Hidup vs Instagram

By : Nailah Assagaf


Kalau buka Instagram.. Selalu kagum. Karena setiap foto yang di-upload punya kisahnya sendiri..

Kalau amal kita diibaratkan dengan instagram.. Kira kira, bagaimana ya kita menatap hasil upload-an kita.. 

Saya selalu menatap ‘kagum’ dengan mereka yang hidupnya penuh warna di Instagram.

Jalan-jalan keluar negeri,
Bertemu relasi,
Habis makan siang satu baki,
Nonton film teranyar,
Family trip,
Kumpul dengan gank,
Semua menampilkan senyum terindah,
Tak sedikit yang ‘poles edit’ dulu sebelum menekan publish,

Lalu.. kalau amal kita sejatinya seperti Instagram.. apa yang akan kita upload..
Jika tiap amal yang berseri indah berharap pujian makhluk?
Jika sedekah masih melulu diceritakan,
Jika tilawah dan ibadah lainnya butuh dukungan jempol..
Jika kebaikan terus diceritakan..
Maka, bagaimana nasib amal kita..?



Aah.. Rasanya, saya malu..
Dengan seorang guru bernama Fulanah..

Ia keluar pagi buta.
Setelah merapihkan rumah dan membereskan sarapan untuk anak dan suami tercinta..
Suami yang saat ini tengah Allah beri ujian bernama PHK,
Tak sedikit pun gurat gulana disana.. saya tahu ia bingung, tapi ia mengemasnya dengan sempurna..

Berjalan ia melangkah ke tempat mengajar. Disambut ceria tawa anak-anak muridnya.. berebut mencium punggung tangannya..

Dibelai dan dicium satu per satu anak-anak Syurga itu. Anak yang masih suci, tak berdosa.. “dari anak-anak itu saya belajar banyak hal..” katanya suatu ketika.

Menjelang siang. Kau kayuh sepeda menuju rumah. Karena aktivitas sebagai ibu sudah menunggu. Sambil berjualan panganan kecil untuk mengepulkan dapur.

Ya, fulanah yang sehari digaji 20ribu. Diantara himpitan harga-harga yang melonjak. Ia pun harus berfikir keras. Bagaimana agar anak-anak tetap makan. Diantara kenaikan harga pangan.. Ia harus berfikir kreatif yang penting halal untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Fulanah, guru TK, yang mencerdaskan anak bangsa. Dari lisannya anak-anak itu pandai mengenal huruf dan angka, doa-doa dan shalawat.. dari lisannya anak-anak merasakan kegembiraan. Dan gaji 400ribu sebulan ia terima dengan senyum ikhlas. Seikhlas pagi ini menyapa dan mencium ubun-ubun anak didiknya..

Fulanah. Yang mungkin tidak akan pernah mengupload tas bermerk Hermes, apalah gincu senilai setengah juta. Fulanah yang menerima 20ribu sehari ia jadikan penyangga perut keluarganya, sedangkan kita (saya) menghabiskan setengah gaji sebulan yang didapatnya, dalam hitungan detik di sebuah restoran..

Itulah nilai hidup. Itulah arti sebuah syukur, dan potret kehidupan..

Bangku reot,
Fasilitas bermain yang termakan usia,
Atap yang hampir jebol,
Jembatan yang kondisinya sangat memprihatinkan,
Adalah Potret Pendidikan negeri ini..

Si Kaya tetaplah Kaya,
Dan Fulanah tetap menjadi seorang Fulanah yang berdedikasi pada pekerjaannya..

Yang membedakan adalah.. apa yang mereka ‘upload‘ pada ‘instagram‘ kehidupan mereka. Potret sejati yang akan dituai kelak di hari abadi.

Lalu, apa yang sudah kita ‘upload’ di ‘instagram’ hidup kita hari ini?