Posted in Jendela

Hujan

Indahnya ya jadi Lail yang punya teman seperti Esok. Esok yang selalu membantu Lail, bercerita apa saja, membonceng Lail dengan sepeda keliling kota. Tapi ada satu hal yang kurang dari Esok menurutku.

Sempat dibuat bingung, sebenarnya tugas pertama Lail dan sahabatnya, Maryam sebagai relawan itu di sektor 3 (hlm 120) atau sektor 4 (hlm 135)?

Agak terkejut juga saat Lail dan Maryam mengenakan seragam sekolah perawat, karena seragamnya berwarna oranye (hlm 190), sama seperti seragam kampusku. (Ga penting 😆✌)

Aku curiga, jangan-jangan Maryam sebenarnya selama ini membaca buku karya Tere Liye. Apalagi ketika ia membacakan beberapa kutipan cinta pada Lail.

Di novel ini diceritakan bahwa perkembangan teknologi sudah sangat maju. Lucu sekali melihat tingkah Maryam saat ia beberapa kali memaksa taksi untuk terbang. Lail beruntung memiliki sahabat seperti Maryam yang jenaka, tidak mudah tersinggung atau marah, dan juga sangat pengertian.

Oh ya, satu hal yang menurutku menjadi kekurangan Esok adalah betapa teganya Esok membuat Lail yang saat itu sudah berusia 22 tahun menunggu. Dan di akhir cerita aku menyadari bahwa wanita adalah makhluk yang sangat butuh kepastian. Seperti Lail.

Judul : Hujan

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Gramedia

Waktu baca : 16-21 April 2018

Advertisements
Posted in Jendela

Masuk Sarang Serigala

Situasi sarang serigala dari atas, ramai dan penuh buku.
Tahun ini alhamdulillah aku berkesempatan mengunjungi pameran buku impor terbesar yaitu Big Bad Wolf Jakarta 2018 yang berlokasi di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD. Padahal lokasinya di BSD, Tangerang Selatan tapi disebut BBW Jakarta mungkin biar lebih mudah aja kali ya.. Kali pertama aku ke BBW, ditemani seorang gadis kecil yang hampir selalu nemenin aku ke pameran buku. Aku dan gadis kecil itu berangkat dari rumah masing-masing. Sebelumnya aku sudah cari tahu di maps jarak dari rumahku ke ICE karena aku belum pernah kesana. Aku kira akan memakan waktu lama ternyata hanya setengah jam saja dengan motor yang waktu itu aku berangkat pada pagi hari tanggal 30 Maret.

Aku tiba disana pukul 9.30 pagi dan saat masuk ke area BBW melalui hall 8 masih belum begitu banyak pengunjung. Walau saat datang aku juga melihat tidak sedikit yang sudah selesai belanja karena BBW ini diadakan 280 jam nonstop. Hari kedua BBW koleksi buku masih banyak dan rapi. Begitu aku masuk tercium aroma masakan. Hahaha jangan kaget karena ada foodcourt di sebelah kiri tidak jauh dari pintu masuk. Aku langsung berkeliling melihat-lihat dahulu koleksi buku apa aja sih yang ada disini. Karena ada koleksi buku bahasa Indonesia juga, aku lihat ke bagian buku itu dahulu. Mulai dari agama, nonfiksi, lalu aku penasaran ke area children. Oh My God, koleksi buku anak-anaknya banyak, bermacam-macam dan gambarnya bagus-bagus banget.. Sambil menunggu gadis kecil itu yang belum datang karena rumahnya jauh aku manjain mata dulu lihat buku anak yang jenis picture dan board book. Duh jadi kepengen sendiri beli buku anak.

Akhirnya gadis kecil itu sampai juga di sarang serigala. Setelah komunikasi lewat voice call kita ketemu juga dan walau ga janjian baju kita bisa sewarna. (Penting banget ga sih?!) Ambil trolley atau keranjang yuk, tadi ada deket pintu masuk. Aku ajak gadis kecil itu mengambil wadah untuk membawa buku yang akan dibeli. Ketika kami sampai disana dan kosong, baik trolley maupun keranjang sudah habis! Sudah banyak sekali pengunjung yang datang dan terus bertambah. Tapi memang rezeki anak sholehah kemudian datang lagi troli-troli kosong yang langsung diserbu pengunjung yang sedari tadi berbaris di pintu masuk menunggu kedatangan troli-troli itu.

Lalu kami telusuri area bahasa Indonesia dan juga novel. Betapa terkejutnya aku, sick tapi ga ada blood kalo kata anak zaman now ngelihat novel yang aku beli tahun 2017 lalu ada banyak di BBW dengan harga setengahnya! Tetapi nyeseknya aku langsung berkurang begitu ketemu novelnya Kang Abik dengan harga 13.000. Aha aku langsung ambil dan masukkan ke troli.

Well, singkat cerita aku beli 5 buku di BBW ini.
1. Unta Nabi Sholeh, jenis toy book
2. Dongeng Sekolah Tebing: 52 Kisah Sekolah Terpencil di Ujung Angin, karya Clara Ng, hardcover
3. 49 Kiat Santai Menstabilkan Tekanan Darah, hardcover
4. Ayat Ayat Cinta, hardcover
5. The Blue Between Sky and Water: Kisah Keluarga, Cinta dan Palestina, novel

Sebelumnya aku sudah buat list buku apa aja yang mau dibeli. Tapi dengan banyaknya buku disana membuat aku pusing bila harus beli buku sesuai list. Lagipula wishlist aku tidak begitu prioritas. Sebagian besar koleksi buku di BBW terdiri dari buku anak yang sempet bikin aku mupeng buat beli buku anak impor itu. Tapi kemudian aku berpikir,
1. Apa aku sudah membutuhkan buku ini sekarang?
2. Apakah sudah saatnya mengoleksi buku-buku edukasi anak?
3. Apa aku benar-benar sudah membutuhkannya?
4. Beneran harus dibeli sekarang??
5. Beneran buku edukasi anak impor harus dibeli dan bakal kepake sekarang???

Alhasil kuurungkan niatku membeli buku-buku itu. Well, setidaknya aku sudah membeli buku-buku hardcover dengan harga murah. Sedikit tips aja dari aku untuk kamu yang mau beli buku bahasa Indonesia di BBW, belilah buku yang memang prioritas kamu, yang koleksinya langka dan dengan harga yang murah. Karena banyak juga buku-buku yang biasa ada di pameran buku dari toko buku dijual disana dengan perbedaan harga 2.000 rupiah saja lebih mahal sih. Tapi kalau bisa dapat yang lebih murah dengan kualitas sama, why not? (Duh pemikiran perempuan dasar..) Jangan lupa tetapkan budget ya biar nggak kalap. Aku juga sedikit menyesal membeli novel biru itu. 😢😢 Karena ketika aku baca sinopsisnya dengan lebih teliti di rumah, genrenya agak kurang cocok sama aku. Tapi aku nggak nyesel masuk ke “sarang serigala”. Koleksi bukunya banyak, harga murah, tempatnya nyaman, tersedia foodcourt dan tempat sholat bahkan sholat jum’at. Semoga next time bisa ke BBW lagi. Khususon buat gadis kecil semoga next year bisa ke BBW dengan status yang udah beda dan ditemani suami ya. Aamiin… 😊


Fatma🌹
Tangerang, 31 Maret 2018
Posted in Uncategorized

Hukum Coulomb

Tahun 1785 Charles Augustin de Coulomb meneliti gaya yang ditimbulkan oleh dua benda bermuatan listrik. Coulomb menyatakan bahwa besar gaya listrik berbanding lurus dengan perkalian besar kedua muatannya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak kedua benda.

Untuk menghormati penemu Charles Augustin de Coulomb, teori ini disebut Hukum Coulomb. Penjelasan lebih lanjut simak di link berikut ya..

Klik disini

Continue reading “Hukum Coulomb”

Posted in Slice of Zindagi

Pasien oh Pasien 

Sabtu 29 Juli 2017

Saat itu aku sedang berada di lantai dua di tempat kerjaku. Rekan-rekan kerjaku sedang sibuk mengerjakan sampel di laboratorium yang berada di lantai ini. Baru saja naik ke lantai dua untuk mencari pasangan hasil menyusul (?), tiba-tiba ada pasien yang memanggil dari bawah. Ya, ruang di lantai dasar memang untuk pasien seperti ruang tunggu dan ruang pengambilan darah.

Segera kutinggalkan sejenak pekerjaanku. Kulangkahkan kakiku menuruni tangga. Hingga tinggal 2 anak tangga lagi menuju lantai bawah saat kuarahkan pandanganku pada seseorang yang berada disana. Dua orang tepatnya, laki-laki. Yang satu sangat-sangat membuatku terkejut. Ia memakai penutup wajah dan berdiri di depan kaca. Aku tahan kakiku seolah terpaku. Ingin rasanya aku berteriak minta tolong. Namun akalku masih bisa berpikir, mana mungkin ada orang yang berniat jahat tetapi bilang “permisi” sebelumnya. Dan juga buat apa ia berada di situ jika ingin berniat jahat, mencuri celengan ikan? Ah, aku jadi ingat temanku. Ia suka memakai penutup wajah saat mengendarai motor. Mataku berusaha keras mengidentifikasi wajahnya. Apakah ia temanku? Sayangnya aku tidak memakai kacamataku.

Lelaki yang satu lagi memakai jaket dan ia menyadari bahwa aku sedang memperhatikan lelaki di depan kaca itu. Lelaki berjaket itu lalu berkata, “Itu teman saya mba”. Kemudian lelaki yang memakai penutup wajah pun spontan membuka penutup wajahnya. Alhamdulillah, ternyata ia bukan orang jahat seperti dugaanku sebelumnya. Juga bukan temanku. Akhirnya aku berani melangkahkan kakiku kesana. “Biasa mba, cek kalium.” Begitu katanya. Pasien… oh pasien… 😅

Ditulis oleh Fatmaratri Maulani pada 8 Agustus 2017 di Tangerang. 

Posted in Jendela

The Teashop Girls 

The Teashop Girls ini novel kesayanganku. Aku tipe orang yang sebenarnya “sayang” mengeluarkan uang untuk membeli novel. Lebih baik beli buku nonfiksi menurutku. Tapi sesekali aku beli novel di tempat yang menjualnya dengan harga murah, misalnya pameran buku murah yang kadang diadakan oleh toko buku tertentu. Aku beli novel ini seharga lima belas ribu rupiah dan dapat bonus hiasan magnet kulkas. Wkwk 

Novel ini aku suka pertama karena warnanya eye-catching buat aku. Warna nuansa pink dan hijau tosca. Padahal ada pepatah “don’t judge a book by its cover”, tapi aku pribadi lebih tertarik dengan buku yang covernya cantik. Kedua, aku baca sinopsis di belakang bukunya ternyata tentang persahabatan. Wah aku langsung tertarik beli.

Akhirnya tanggal 17 Desember 2015 aku beli novel ini dan tanggal 3 Januari 2016 selesai dibaca. Kalau tidak salah waktu itu lagi sibuk sebagai mahasiswa tingkat akhir. Aku baca novel ini sebagai selingan, saat sore hari dan kadang sebelum tidur. The Teashop Girls ini ceritanya bagus, enak dibaca dan sesuai tagline-nya “sehangat harapan semanis persahabatan”. Walau aku sempat bosan sedikit sih di bagian tengah cerita. But overall it’s nice. The Teashop Girls ditulis oleh Laura Schaefer dan di dalam novel ini tak hanya berisi tulisan lho. Ada beberapa ilustrasi cerita dan juga ada resep-resep kreasi teh.


Fatma🌹

Tangerang, 16 Juli 2017