Best Writer

​Sepanjang Jalan Kebaikan

By : Wiji Lestari Hamda

Akhir-akhir ini kita sering menemukan postingan tentang beragam berita yang membuat tidak nyaman. Seolah bangsa ini telah kehilangan nurani. Namun kita percaya kebaikan itu masih ada. Bukan hanya dalam kenangan kita. Kebaikan itu ada di dalam hati kita semua. Apa yang saya tulis ini adalah kisah nyata di sepanjang jalan yang saya lalui ketika berangkat dan pulang kerja. 

Di suatu pagi di sebuah perempatan jalan yang ramai,  saya berhenti menunggu lampu lalu lintas berubah hijau. Dari arah berlawanan, seorang pemuda berpenutup wajah mengurangi kecepatan. Sambil berbelok ia mengulurkan bungkusan plastik putih dengan kotak styrofoam pada pak Ogah yang mengatur lalu lintas. Kelihatannya berisi bubur ayam. Wajah pak Ogah sumringah mengetahui ada orang baik hati yang memberikannya sarapan sepagi itu. Semua mata memandang takjub pada pemuda tanpa nama itu. Ia berlalu begitu saja diikuti pandangan kami semua. 

Di hari yang lain sebuah mobil truk di depan saya menepi. Saya ikut memelankan motor dan melihat pengemudinya berhenti. Rupanya ia turun untuk menghulurkan uang pada seorang nenek peminta-minta. Nenek tua itu duduk dibawah pohon di tepi trotoar. Hati saya turut merasakan ketulusannya. Ia tidak melemparkan koin, ia turun dan dengan takzim menyerahkan lembaran uang. Sebuah adab yang menunjukkan kebaikan budinya. Ia seorang pemuda. Seperti dirimu. 

Allah hendak menunjuki kita bahwa masih ada orang-orang yang baik budi. Bukan hanya satu atau dua tapi banyak sekali di sekitar kita. Bahkan kebaikan itu ada di jalan raya. Jalanan yang konon tempat banyak orang tak beretika dengan mudahnya saling memaki.  

Lain hari, saya berkendara di belakang sebuah mobil tanki berisi bahan bakar milik Pertamina. Mobil besar itu berjalan lambat di depan saya. Jalanan rusak dan cukup padat membuat semua kendaraan berjalan pelan dan berhati-hati. Saya sepanjang jalan sibuk mengagumi mobil tanki merah putih yang kelihatannya gagah dan bagus sekali. 

Mobil tanki itu berhenti. Saya ikut berhenti karena tidak mungkin bagi kami mendahului mobil tanki yang panjang itu sementara arus dari arah lain juga padat. Seorang pemuda turun dari sisi kiri mobil tanki. Rupanya ia turun untuk menyerahkan sebuah dompet pada sepasang pengendara motor yang terlihat cemas menyusuri jalan mencari dompetnya yang jatuh. Terlihat pengendara itu merasa senang dan membungkuknya badan berterima kasih. Mungkin mereka tidak menyangka sama sekali bahwa dompet itu bisa ditemukan dan diantar oleh pemuda kenek tanki Pertamina.

Di hari yang lain, hujan turun sepanjang pagi. Semua orang bergegas berangkat bekerja menembus hujan yang tak kunjung reda. Beberapa motor yang ngebut memercikkan air dan tanah ke baju pengendara lain tanpa mereka sadari. Di sebuah pertigaan, ada kubangan air yang cukup dalam. Terjadi sedikit kemacetan di sana. Seorang bapak turun dari motor. Ia menepikan motor dan dengan tangannya memunguti kerikil dan lumpur yang menyumbat aliran air. Tak lama air di kubangan mengalir turun ke sawah. Lubang itu tak ada lagi genangan air. Besi rangka jalan terlihat mencuat sehingga pengendara mobil ataupun motor bisa menghindarinya. 

Teringat suatu malam adik saya saat pulang kerja terjatuh di kubangan air semacam itu. Ia mengalami luka-luka akibat terperosok karena tidak melihat kubangan yang tertutup air. Sungguh baik hati Bapak ini yang bahkan rela turun demi membereskan keadaan itu. Ia mencegah orang lain celaka. Tak berapa lama tidak ada kemacetan lagi di sana. 

Di lokasi lain di jalan raya yang padat, seorang polisi mencangkuli tanah pinggiran got dan memindahkannya ke lubang-lubang jalan. Beberapa batu bata merah ia letakkan menambal lubang jalan.  Ia tak sungkan melakukannya meskipun mungkin saja menutup lubang jalan bukanlah termasuk job descriptionnya. 

Bicara soal job description, tentu bukan pula tanggung jawab seorang pemadam kebakaran keliling kota mengantar anak-anak TK dengan mobil pemadam kebakaran. Nyatanya suatu sore dalam perjalanan pulang sebuah mobil pemadam kebakaran melaju bersama riangnya anak-anak TK. Melihatnya kita terbawa aura bahagia mereka. 

Sebuah riang yang sama juga terpancar dari wajah-wajah lelah yang lelap tertidur di tumpukan truk sampah. Riang yang sama  tampak pada wajah buruh bangunan yang naik mobil bak terbuka. Terik mentari tak menyurutkan semangat mereka. 

Tenyata di jalan ini tak hanya ada kebaikan yang dapat kita nikmati. Di jalan ini kita juga melihat sisi bahagia kelas bawah yang gigih mencari nafkah. Melihat pedagang asongan yang berlari menenteng beratnya dagangan. Melihat para anak-anak berlari menembus hujan demi menyewakan payungnya. Mereka benar-benar merasai keberkahan hujan. Fisik mereka tetap sehat meski seharian berlari dalam hujan itu.  Merekalah orang sederhana yang mampu menghayati kebahagiaan. 

Di jalan ini kita juga melihat arogansi diturunkan demi kemanusian. Ketika sebuah mobil ambulans lewat maka mobil-mobil  menepi memberinya jalan. Jarang sekali kejadian macam ini terjadi, maklumlah jalanan ini adalah sebuah jalan yang biasanya dilalui tronton dan mobil-mobil berat. Mobil-mobil truk besar dan cargo biasa lewat jalanan ini bersama angkot-angkot yang selalu menyerobot jalur lain hingga macet total. 

Di sini di jalan kebaikan ini, masih tersisa  nurani kita. Sebuah bibit kebaikan itu ada di hati siapa saja. Menanti ditaburkan. Ia akan tumbuh subur dan menyejukkan hati kita. Kebaikan kecil ini sungguh menjadi besar nilainya saat keresahan dengan mudahnya ditularkan lewat sosial media. Kebaikan kecil ini mungkin hanya sebutir atom, tapi di sisi Allah ia akan diperhitungkan. Bukan tak mungkin darinya muncul kebaikan-kebaikan yang berlipat pahala. Mari kita tanam benih kebaikan itu di sepanjang jalan yang kita lewati. Niscaya rimbun buahnya akan dapat dinikmati siapa saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s