Best Writer

​Pemimpin Amanah Pelayan Kepentingan Rakyat (PPKT)

By: Nurlaillah Sari Amallah Mujahidah
Sobat, perjalanan bangsa Indonesia telah memasuki puluhan tahun hingga hampir tujuh dekade. Berbagai peristiwa di negeri ini telah menandakan banyaknya krisis yang hampir terjadi di seluruh pelosok negeri. Krisis yang menampilkan bahwa kita memiliki kelemahan yang terjadi di Tanah Air. Terjadi ketidakseimbangan yang merata di negeri ini. Namun, semua itu akan membuat negeri ini akan semakin tergerus, tergerogoti oleh zaman dan akhirnya hilang tanpa meninggalkan jejak. Ya semua diawali oleh siapa yang memegang kekuasaan negeri ini. Mulai dari bawah hingga tertinggi, dari setiap orang, RT sampai petinggi di Senayan, Presiden Republik Indonesia. Kepercayaan penuh telah diberikan, namun apa daya, korupsi, kolusi, dan nepotisme terjadi di mana-mana. Sehingga penyelewengan banyak terjadi. Jauh berbeda antara harapan dan kenyataannya. Jadi sobat sebenarnya pemimpin seperi apa yang diidamkan dan sangat dibutuhkan oleh bangsa kita?

Sejatinya pemimpin yang lahir bersama dari, untuk, oleh rakyatlah yang seharusnya menjadi pemimpin di negeri ini. Mulai dari pemimpin RT hingga Presiden, harus memiliki sikap satu rasa sama rasa. Satu rasa sama rasa? Apaan sih kok ada istilah rasa segala, malah jadi bikin baper nih hehehe. Maksud dari kata satu rasa sama rasa itu adalah apa yang dirasakan rakyatnya, harus juga dirasakan oleh pemimpinnya. Pemimpin yang menjadi ujung tombak terdepan dari penyelesaikan masalah dan gambaran seperti apa negeri ini akan dicitrakan dalam benak dan impian setiap orang. Yang terpenting adalah memegang teguh ideologi Pancasila dan UUD 1945.

Kemudian menjadi seorang pemimpin harus kuat dan profesional. Kuat di sini bukan seperti Superman, tapi kuat dalam kemampuan untuk menuntaskan berbagai permasalahan negeri dari sekitar 240 juta rakyat Indonesia. Mampu menyelesaikan hingga ke akar paling dalam untuk memerbaiki dan menggantinya dengan hal yang membangun peradaban. Profesionalitas seorang pemimpin dapat dilihat sesuai keahlian yang ia punya dengan menggunakan sepenuhnya etika dalam kehidupan sehari-hari, termasuk etika dalam memimpin bangsa dan negara dengan karakter yang mengutamakan dan menjunjung tinggi sikap ketuhanan dalam kemanusiaan. Pemimpin yang amanah ialah pemimpin yang memiliki integritas dalam menjalankan tugas. Memiliki keyakinan yang kuat untuk melawan keburukan. Siap dan sigap menjalankan kebijakan yang baik sesuai nurani rakyat. 

Apa yang harus ia jalankan dan yang diharapkannya tidak semata hanya untuk kebaikan dirinya saja tapi juga untuk orang lain, rakyat yang dipimpinnya akan dijalankan terlebih dahulu. Sesuai firman Allaah SWT: 

“Sesungguhnya manusia terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat dan amanah.” (QS. Al-Qashas: 26).

Sifat amanah itu kembali kepada kesungguhan orang untuk takut kepada Allaah, tidak memperjualbelikan ayat Allaah untuk kepentingan dunia dan tidak takut dengan ancaman manusia. Pemimpin yang dibutuhkan oleh bangsa ini adalah pemimpin yang kuat dan memiliki kemampuan yang dibutuhkan dalam menangani permasalahan bangsa serta memiliki jiwa yang profesional dengan etika. Memiliki sikap amanah yang selalu dipegang untuk membentuk bangsa yang maju dan beradab. Sobat tahukah kalian sosok yang paling berjasa dalam menyelamatkan negara ini saat Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta diasingkan oleh Belanda?

Ia adalah sosok pemimpin yang terlupakan, Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang menjadi Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Tak banyak dari kita sebagai generasi muda yang tahu akan peran beliau. Ia lahir pada tanggal 28 Februari 1911 di Anyar Kidul, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Pada tanggal 19 Desember telah terjadi kevakuman pemerintah setelah Presiden Soekarno dan Wakilnya Mohammad Hatta beserta setengah kabinetnya ditangkap Belanda melalui Agresi Militernya. Mereka ditawan dan diasingkan ke Pulau Bangka. Ketika berumur 37 tahun Sjafruddin Prawiranegara memiliki jasa yang luar bisa dengan berinisiatif membentuk PDRI. Sobat bayangkan jika tanpa PDRI Indonesia ini tidak akan pernah ada. Akibat kegagalan perundingan Renville, pasukan Belanda melancarkan serangan militer ke berbagai daerah terutama pusat Ibukota, Yogyakarta. Karena itulah PDRI merupakan bagian penting dari adanya negara ini. 

Ketika Belanda melakukan agresi militernya yang kedua di Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948, Soekarno-Hatta sempat mengirimkan telegram yang berisi perintah kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang menjabat sebagai Menteri Kemakmuran RI saat itu untuk segera membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra. Namun, telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi dikarenakan sulitnya sistem komunikasi pada saat itu. Pada tanggal 19 Desember sore harinya Sjafruddin Prawiranegara segera mengambil inisiatif yang sama. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat. Gubernur Sumatera, Mr. TM Hasan menyetujui usul itu “demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kosongnya kepala pemerintahan yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara.” Dengan mengambil lokasi di suatu tempat di daerah Sumatera Barat, pemerintahan Republik Indonesia masih tetap eksis meskipun para pemimpin Indonesia seperti Soekarno-Hatta telah ditangkap Belanda di Yogyakarta. Sjafruddin Prawiranegara menjadi Ketua PDRI dan kabinetnya yang terdiri dari beberapa orang Menteri.

Pendirian PDRI itu sebenarnya inisiatif Sjafruddin dan kawan-kawan. Maka tepat pukul setengah lima pagi pada 22 Desember l948 PDRI terbentuk. Atas musyawarah pemimpin yang ada di Sumatera, Sjafruddin dipercaya memimpin PDRI. Sesaat kemudian PDRI ini secara serentak disiarkan ke seluruh penjuru dunia. Dalam siaran itu dijelaskan bahwa Pemerintah Republik Indonesia tetap ada. Syukurlah, segera para pemimpin Indonesia lainnya mengakui dan menyokong PDRI, termasuk Jenderal Besar Soedirman dan pemimpin TNI lainnya yang saat itu terus bergerilya melawan Belanda. Dukungan internasional juga lantas mengalir. Karena Bukittinggi sebagai ibu kota Provinsi Sumatra juga dibombardir Belanda, pusat pemerintahan PDRI akhirnya pindah ke pedalaman. Lantaran keadaan demikian, radio Belanda pernah mengejek PDRI sebagai “Pemerintahan Dalam Rimba Indonesia.” Sjafruddin pun segera membalas: “Kami meskipun dalam rimba, masih tetap di wilayah RI, karena itu kami pemerintah yang sah. Tapi Belanda pada waktu negerinya diduduki Jerman, pemerintahannya mengungsi ke Inggris. Padahal UUD-nya sendiri menyatakan bahwa kedudukan pemerintahan haruslah di wilayah kekuasaannya. Apakah Inggris jadi wilayah kekuasaan Belanda? Yang jelas pemerintah Belanda menjadi tidak sah!”

Sjafjuga memegang jabatan pendi pemerintahan, di antaranya seWakil Perdana Menteri, Menteri Keuangan, dan Menteri Kemakmuran. Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Ke(1946), Menteri Keuangan (1946), dan Menteri Kemakmuran (1947). Ia dipercaya sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia pertama pada tahun 1951 yang kemudian memperkenalkan Oeang Republik Indonesia (ORI). Dari sosok Sjafruddin kita patut meneladani bahwa dalam perjuangan seorang pemimpin yang amanah takkan pernah memikirkan pangkat dan jabatan karena kita berunding pun duduk di atas lantai, yang terpenting adalah kejujuran, siapa yang jujur kepada rakyat dan jujur kepada Tuhan, perjuangannya akan selamat. Ia rela mengorbankan jiwanya demi menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia serta demi persatuan nasional atas ridha Allaah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s