Best Writer

Menggeser Frekuensi Hati

By : Wiji Lestari Hamda

Hari masih pagi. Jam pertama belum di mulai. Hari itu hari selasa. Hari yang indah. Pagi itu Bu Ida tidak ada jam mengajar. Biasanya Bu Ida membaca atau memeriksa tugas-tugas siswa.  

Belum lagi ia duduk, seorang kawan mengatakan sesuatu yang intinya ia mencederai akad jual beli sehingga merugikannya. Bu Ida berkata bahwa kali ini biarlah ia yang tanggung kerugian itu. Bu Ida berharap kawannya tidak mengulangi lagi. Ini sudah kesekian kalinya kawan tersebut melakukan pembatalan. Barang yang sudah dibeli secara tempo dan sudah diisepakati pembayarannya tiba-tiba dikembalikan setelah sebulan dibawa pulang. Pernah pula ia ingin mengembalikan barang yang sudah lama dibeli karena tertarik menukar dengan model yang baru. Ia menyadari bahwa masyarakat awam belum mengerti akad jual beli sehingga seenaknya mencederai akad. Ia ingat pesan seorang ulama, jika ia ikhlaskan kesalahan mereka dengan izin Allah ia juga  akan mendapatkan pengampunan Allah di hari akhir nanti. 

Ia memutuskan pergi ke pasar untuk beralih frekuensi hati. Niatnya ia akan belanja Menyenangkan hati anak-anaknya dengan menu ayam goreng kesukaan. Rupanya suasana hati bu Ida berpindah. Frekuensinya langsung terlihat pada kendaraannya. Ban depan mendadak bocor, padahal baru ganti bulan lalu. Ini mungkin efek dari situasi hati  yang masih kacau frekuensinya. Para sahabat Rasulallah saw konon jika melihat kendaraannya ada masalah maka itu pertanda ada yang salah dengan diri tuannya. Ia sadar, keadaannya saat ini penuh energi negative.

Bu Ida menuju warung makan dengan kondisi ban bocor. Soal ban motor toh nanti bisa diurus nanti pikirnya. Kali ini ia  hendak sarapan sambil mentraktir kawannya. Siapa tahu bisa mengurangi hawa jelek pagi itu. 

Mereka sampai di sebuah warung makan. Warung Jawa-Sunda itu sederhana bangunannya. Ukurannya hanya sekitar 2 M x 3M. Si teteh pemilik warung menyapa mereka dengan ramah. Wajah teteh pemilik warung riang dan terlihat berbeda dari biasanya. Sangat cerah. Rupanya si teteh baru saja pulang liburan. Pantas saja terlihat fresh. 

Seminggu warungnya tutup. Teteh pergi ziarah. Teteh asli orang Kawarang. Ia berziarah sepanjang rute pulau Jawa. Mulai dari Cirebon, Demak, Kudus, Jogjakarta, Blitar, hingga ke Bali dengan destinasi terakhir Lombok. Keren untuk ukuran kelas menengah ke bawah. Dari warung kecil itu Teteh mendapatkan kecukupan rezeki. Padahal ia buka kurang dari 8 jam/hari. Ternyata benarlah apa kata Rasulallah saw bahwa sembilan dari sepuluh kunci itu ada pada niaga.

Lebih mengejutkan lagi, Si Teteh pergi ziarah bersama rombongan umroh. Agak tercengang Bu Ida mendengarnya. Bahkan rencananya bulan depan Teteh akan ikut rombongan untuk bertolak ke Luar Negeri destinasi Bangkok dan sekaligus beberapa tempat wisata di Indonesia. Masya Allah, keren juga nih Teteh ya? 

Pagi itu ia kembali riang setelah mendengar cerita Teteh. Dunia niaga memang penuh lika-liku tapi banyak barokahnya. Ia seperti dingatkan kembali bahwa dunia niaga adalah sebuah jalan sunah dan bukan sekedar mencari rupiah. 

Ia telah berhasil menggeser frekuensi. Ia mengubah situasi hatinya ke frekuenasi yang lebih jernih. Efeknya, sangat signifikan. Pagi itu ia ingin mentraktir eh malah kawannya lah yang mentraktirnya. Setelah menikmati sarapan berhikmah itu ia bergegas menambal ban. Tukang tambal ban juga membetulkan beberapa bagian motornya secara cuma – cuma.

 Ia bersyukur dengan situasi itu. Dibelinya beberapa liter beras untuk ia berikan ke dapur umum. Ia bersemangat melanjutkan hari. Siang harinya Bu Ida diajak kawannya untuk menikmati sop durian yang lezat. Siang yang terik itu dinikmati sambil bincang-bincang beragam hal bermanfaat. Aroma durian yang diblender dengan campuran susu dan es batu sungguh membangkitkan semangat. Di dalamnya ada sebongkah durian kupas Medan yang empuk. Pada bagian atas ada alpukat mentega yang kuning dengan aksen hijaunya penambah selera. Kesegaran yang manis itu ditaburi dengan keju parut yang nikmat. Frekuensi telah bergeser dan sepanjang hari itu banyak hal baik terjadi. Hari itu Bu Ida mendapat banjir order dari bisnis onlinenya. Di tambah lagi sore harinya Bu Ida dipertemukan dengan komunitas menulis yang mengajak mencetak buku bersama. Ini sebuah kisah nyata yang pada intinya bahwa hati kita mudah sekali mengalami kondisi tidak fit akibat sebuah kejadian yang mengecewakan. Seandainya hal itu dibiarkan maka sangat mungkin sepanjang hari Bu Ida akan menemui beragam ketidaknyamanan. Sangat mungkin pula kesialan menimpanya jika perasaan marah dipeliharanya.  

Mungkin saja bukan hanya Bu Ida. Kita pun sehari-hari sering menemui situasi yang tidak kita inginkan. Pada keadaan yang demikian kita sangat ingin melampiaskan kekesalan. Sayangnya hukum kekekalan energi membuktikan bahwa apa yang kita lepaskan akan berubah menjadi bentuk lain yang sama. Kita lepaskan emosi positif maka ia akan berubah menjadi hal positif. Begitupun sebaliknya. Hal buruk akan mengundang hal buruk lainnya. Begitu seterusnya.  Tak ada cara lain untuk menyelamatkan diri dari situasi macam ini dengan segera menggeser frekuensi. Bergeserlah secara perlahan. Buat diri kita nyaman pelan-pelan. Ambil nafas, pindah posisi dan wudhu jika ingin kesejukan. Sesudahnya kita bisa pikirkan hal baik yang paling mudah kita lakukan saat itu juga. Betapa hidup itu indah jika difokuskan untuk berbuat baik dan melihat hal yang baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s