Best Writer

Sore Bersama Abang

Sore itu gadis berjilbab pink duduk di sebuah kedai es kelapa kecil menunggu seseorang datang menjemputnya. Sambil meminum es kelapa, ia membaca dzikir petang dalam hati yang sudah dihafalnya. Sabrina Alifa namanya, ia adalah mahasiswa semester tiga yang baru-baru ini berhijrah. Tak lama kemudian muncul sosok pria mengenakan jaket biru khas seragam ojek online. Pengemudi motor yang sudah sangat dikenalnya itu mengendarai motor dengan wajah yang kusut. Sabrina sangat mengenalnya karena ia tak lain adalah kakak kandungnya, Bayu Ahmad. Bayu menghentikan motornya tepat di depan Sabrina.

“Assalamu’alaikum, bang. Mau minum es kelapa?” Sapa Sabrina terlebih dahulu sambil memberikan es kelapa yang sudah ia siapkan untuk abangnya.

“Wa’alaikum salam. Makasih dek. Udah yuk kita pulang?” Jawab Bayu sambil menerima es kelapa dari adiknya.

Sabrina lantas mengenakan helm dan duduk di belakang kakaknya. Kendaraan roda dua itu segera melaju membelah jalan raya kota Jakarta yang ramai. Kemudian berbelok melewati jalan yang lebih kecil namun tak kalah ramainya. Banyak toko-toko berjejer di pinggir jalan itu mulai dari toko makanan, toko pakaian sampai toko bangunan. Ketika Sabrina sedang asyik mengamati pemandangan pertokoan di pinggir jalan, tiba-tiba suara Bayu memecah perhatiannya.

“Kerja capek, tiap hari gitu-gitu aja. Mana tadi dapet penumpang cerewet banget lagi.” Ucap Bayu sambil mengendarai motor.

Rupanya ini penyebab wajah abangnya kusut seperti baju yang belum disetrika, batin Sabrina.

“Jangan ngeluh mulu sih bang, kerja tuh yang ikhlas biar berkah.” Tanggapan Sabrina mendengar keluh kesah Bayu.

“Ikhlas sih ikhlas. Tapi kalo dapet penumpang cerewet mulu apa ga pusing?” Keluh Bayu lagi.

Tak lama kemudian motor yang mereka kendarai oleng.

“Eh, kenapa bang kok motornya goyang gini sih?” 

Bayu yang menyadarinya segera mengerem motor barunya itu. Selidik punya selidik ternyata ban motornya bocor. Mata Bayu dan Sabrina pun segera berkeliling mencari tempat tambal ban. Ternyata tak jauh di belakang mereka ada sebuah tempat tambal ban sederhana yang terletak di pinggir jalan. Bayu pun menuntun motornya 10 meter ke belakang.

“Tuh kan, bang. Apa Ina bilang? Barusan Ina bilang kalo kerja yang ikhlas, jangan ngeluh mulu tapi abang masih ngeluh. Nah ini langsung kena tegur sama Allah kan?”

Bayu terus menuntun motornya dengan pasrah, tak menghiraukan perkataan adiknya. Motor Bayu pun segera ditangani oleh tukang tambal ban berbadan besar yang bajunya dipenuhi noda oli. Akhirnya ditemukan penyebab ban motor Bayu bocor, sebuah paku kecil sepanjang 5 cm.

“Uh.. Ini nih penyebabnye.” Kata bapak penambal ban sambil mengeluarkan paku dari ban motor Bayu.

“Waduh, gede banget!” ujar Bayu kaget. 

“Ini sih harus ganti ban dalem.”

“Berapa tuh pak?” tanya Bayu.

“50.000 nih, langka stoknya.”

Bayu menghela napas. “Ya sudah, nggak apa-apa.” Jawab Bayu.

Kemudian Bayu menghampiri adiknya yang sedang duduk di bangku yang tersedia disana. Bayu teringat perkataan adiknya tadi.

“Dek Ina, tadi adek bilang apa? Kalo kerja nggak boleh ngeluh ya? Emang kenapa gitu kalo ngeluh?” ujar Bayu membuka percakapan. 

“Iya bang, kalo ngeluh mulu kan nggak baik. Kesannya kita nggak ikhlas dan kurang bersyukur.” Jawab Sabrina.

“Kok gitu dek?”

“Apapun yang terjadi bang, sebagai muslim kita harus menerima dengan ikhlas dan yakin bahwa semua ini dari Allah. Allah Yang Maha Tahu kok, semua pasti terbaik buat hamba-Nya.”

“Begitu ya dek.”

“Iya bang, seperti dalam doa dzikir pagi-petang yang rutin Ina baca, ada salah satu dzikir yang artinya begini nih. Ina bacain ya, bentar Ina ambil bukunya dulu.” Ucap Sabrina sambil merogoh saku tasnya dan mengambil buku kecil dzikir pagi-petang disana.

“Ini bang, Ina bacain yang dzikir petangnya ya. Artinya Ya Allah, nikmat apapun yang Engkau berikan di sore hari kepadaku atau kepada seseorang dari makhluk-Mu, tiada lain hanya dari-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Maka bagi-Mu segala puji dan rasa syukur.”

“Tapi yang abang alamin kan bukan nikmat dek. Ini mah musibah!” seru Bayu.

“Abang, sabar bang. Ini tuh teguran tanda sayang dari Allah bang. Abang mending istighfar deh.”

“Astaghfirullahal ‘adzim… Astaghfirullahal ‘adzim…” Bayu akhirnya beristighfar memohon ampun kepada Allah mengikuti saran Sabrina.

“Nah gitu dong.. Ini baru abangnya Sabrina!” ujar Sabrina sambil mengacungkan dua ibu jarinya.

Ban motor Bayu pun telah selesai diganti. Setelah membayar, Bayu dan Sabrina mengucapkan terima kasih lantas pergi melanjutkan perjalanan pulang mereka. Hari sudah semakin petang. Terlihat burung-burung di langit terbang kembali ke sarangnya.

“Dek, sejak kapan ya kamu jadi pinter ceramah?” tanya Bayu di tengah perjalanan. 

“Pinter ceramah apaan sih bang, nggak ah.” Elak Sabrina tidak setuju ucapan abangnya.

“Eh bener, coba kamu ceramahin abang dari sebelum kita jalan. Mungkin ban motor abang nggak akan bocor dan abang nggak harus ngeluarin duit 50.000.” Ucap Bayu disambut gelak tawa Sabrina.

“Salah abang sendiri tadi ngajak buru-buru pulang.”

“Tapi dek, kamu sadar nggak sih tadi tuh tempat ban motor abang bocor deket banget sama tempat tambal bannya. Jangan-jangan…”

“Hus, nggak boleh suudzon bang!” kata Sabrina memotong perkataan Bayu.

Walau sebenarnya ia pun sedikit curiga mengingat dekatnya lokasi saat motor abangnya oleng dan ukuran paku yang lumayan besar. Apalagi ia pernah melihat berita di TV tentang beberapa tukang tambal ban nakal yang sengaja menebar paku di jalan. Tapi bagi Sabrina, ada hikmah dari peristiwa ban bocor itu. 

“Dek, abang perhatiin kerudung kamu makin panjang aja. Terus buku kecil tadi apa tuh yang ada doa dan dzikirnya?”

“Alhamdulillah bang, Ina kan mau hijrah dan terus memperbaiki diri. Mulai dari kerudung syar’i. Oh.. itu Al-Ma’tsurat namanya, dzikir dan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap pagi dan petang. Abang mau bukunya?”

“Boleh dek, abang juga mau memperbaiki diri kayak kamu.”

“Alhamdulilah, ya sudah buku Ina aja buat abang. Ina Insya Allah sudah hafal. Nanti abang rutin ya bacanya?” Jawab Sabrina senang mendengar abangnya ingin hijrah seperti dirinya.

Akhirnya Bayu dan Sabrina tiba di rumah. Sebuah perjalanan yang penuh hikmah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s