Posted in Best Writer

Sudah Cukupkah Sedekahku?

By : Neng Dhisty

Aku mengenal salah satu wanita dalam kehidupanku. Bisa dikatakan, aku mengenalnya dengan sangat baik. Ia adalah wanita yang cantik dengan usianya yang telah  melewati kepala 4. Begitu cantiknya hingga orang di sekitarnyapun takkan menyangka bahwa usianya telah melewati kepala 4. Ia begitu cantik, ramah, sangat perduli dengan sekitar sebenarnya. Tetapi itu dulu, ketika harta yang ia miliki tidak sebanyak sekarang, ketika teman pergaulannya tidak se “Sosialita” seperti sekarang. Ia yang sekarang tak pernah absen untuk melakukan berbagai sedekah ataupun zakat ke sesama yang membutuhkan. Terutama anak yatim piatu.

Ia memang tidak seburuk yang terlihat, namun tidak pula sebaik yang kita pikirkan. Karena hati seseorang takkan pernah ada yang tau bukan?

Tahukah kamu surah Al-Baqarah ayat 215? Yapss. Kita akan membahas sebuah cerita ringan dan begitu menarik yang berhubungan dengan surah Al-Baqarah;215.

Sebut saja wanita cantik ini sebagai Lili karena keanggunannya. Lili mempunyai keluarga kecil yang beranggotakan suaminya, seorang anak perempuannya dan seorang Ibu yang tinggal bersamanya. Ibunya berusia lebih dari 70 tahun. Lili adalah wanita yang sebenarnya begitu perduli dengan orang-orang di sekitarnya, hanya saja sedikit ber”gengsi” untuk mengakuinya.  Begitu pula dengan suaminya. Namun suaminya terkesan lebih cuek. Yaps bisa dikatakan sangat cuek. Lili mempunyai seorang anak perempuan yang sudah memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama. Anak perempuannya mengikuti Sekolah Tahfidz, begitu sebutan modern di kalangan teman sebayanya. Kepribadiannya bisa dikatakan tak jauh berbeda dengan ayahnya dan memang etikanya harus dipercantik agar menjadi lebih baik. Sedangkan Ibunda dari Lili adalah seorang ibu yang begitu manja dengan usianya yang semakin renta. Bisa dikatakan sedikit cerewet, karena ingin diperhatikan. 

Ibunda Lili keadaan kesehatannya memang sudah tidak sebaik dulu. Tangan Kanannya sudah tidak bisa lagi untuk digerakan. Bobot tubuhnya pun begitu besar dan sudah tak bisa lagi untuk berjalan dengan baik. Beliau membutuhkan pegangan untuk menopang langkahnya. Suatu hari beliau jatuh dari kamar mandi hingga 2 kali berturut-turut. Tubuh rentanya tak bisa membohongi rasa sakit yang ia rasakan. Pada akhirnya tak mampu digerakan dan hanya mampu terbaring di tempat tidur. Lili sudah mencoba memanggil orang ahli urut patah tulang untuk datang ke rumahnya. Ibunda lili berteriak kesakitan dan enggan menerima tawaran untuk diurut kedua kalinya. 

Hingga suatu hari Aku menjenguk ibunda Lili dan bertanya, “ Gimana kabar nenek?” tanyaku dengan biasa ku memanggil ibunda Lili.

 “Iya gini aja, belum bisa jalan” jawab Lili “Sudah dipanggil tukang urut patah tulang tapi nenek menolaknya lagi.” sambungnya.

“Berati kalau buang air kecil atau buang air besar pakai pampers? Kenapa tidak coba ke rumah sakit? Takutnya ada masalah sama tulangnya.”tanyaku penasaran

“Iya pakai pampers. Jangankan ke rumah sakit, buang air kecil atau besar saja memakaikan popoknya sulit. Harus dibantu, ditahan, didorong sedikit.”jawabnya pesimis

Tak lama suaminya pun turun dari lantai 2. Rumah Lili terdiri dari 3 lantai dan begitu indah. Dekorasinya pun begitu cantik. Dengan tampilan sederhana suaminya yang tengah memakai arloji, ia berkata, “Ma, ayo cepet siap-siap. Udah ditunggu yang lain di Masjid Barokah.”

“Oh lagi ada acara ya? Nenek ada yang jaga?” tanyaku spontan.

“Ah nenek mah emang ngerepotin orang aja. Orang kita mau ke pesantren pake sakit segala. Makanya jangan jatoh. Manja sih.”selak Rifda anak Lili

“Astaghfirullah, kamu ini omongannya dijaga. Kalo di depan teman-teman mama nanti jangan ngomong kayak gitu ya.”jawab Lili dengan suara marah.

“Iya nih, mau ke tempat pesantren yang aku dan teman-teman bangun di daerah Bogor. Makanya repot nenek ga ada yang urus. Aku dan suami harus ke sana-sini ada ketemu anak yatim, ngurus pembangunan pesantren, rapat perkumpulan pengajian. Tapi udah minta tolong keponakan buat jagain kok.” Jelasnya.

“Oh ada cucunya? Alhamdulillah kalo ada yang jaga.” Jawabku

“Pah.. udah transfer ke bu Eko kan? Ga enak kalo telat nanti diomongin yang lain. Ini penting loh.”ucap Lili

“Iya udah.”jawab suaminya

“Kami pamit duluan ya.. nenek ada di dalem kalo mau lihat.”jelas Lili.

Dua minggu telah berlalu. Aku kembali menjenguk Ibunda Lili.

“Assalamu’alaikum nek…”salamku dari pagar 

“Wa’alaikumsalam.. masuk aja” jawab Nyai, pengasuh Ibunda Lili

“Wah sepi banget pada ke mana nyai?”tanyaku

“Nyu Lili lagi pergi sama suami 3hari”jawabnya

“Nenek gak ada yang jaga?” lanjutku

“Cuma aku sama puja, puja lagi kuliah”jawabnya

Puja adalah adik tiri dari Lili yang tinggal di rumahnya. Ia dibiayai untuk kulliahnya oleh Lili dan suami hingga lulus. Aku pun akhirnya berbincang-bincang dengan Ibunda Lili. Ada suatu penjelasan dari Ibunda Lili yang membuatku tersentuh hingga menitikkan air mata.

“Lili sering pergi, ada acara. Emang buat kebaikan, mau larang ga enak. Tapi emak bingung kalo apa-apa. Kalo mau pipis, buang air harus ada yang pakein pampers ho..  Ora iso emak kalo gerak sendiri. Sakit banget tulang ngilu semua. Badan gatel-gatel. Ini aja kalo gatel minta garukin nyai atau puja pake tutup balsam. Emak sedih kalo ngerepotin orang banyak. Nanti Lili pusing mikirin, Rano (Suami Lili) repot uangnya buat emak sakit. Mau makan susah. Mau minum takut pipis terus nanti ngerepotin ganti pampers terus.” Jelas Ibunda Lili sambil menggenangkan air mata.

“Nenek sabar yah.. semoga cepet sembuh. Nenek udah makan belum? Aku bawa alpuket kesukaan nenek.” tanyaku

“Belum makan ho.. gak napsu. Iya makasih ya.. Nanti emak makan sore.”jawabnya

“Mau makan apa? Adanya mie aja.. Kalo ada cucunya baru dibawain makanan, dibikinin ikan. Kalo cucunya belum jenguk mah susah nenek makannya. Nanti aja makan alpuket aja ya” sambung nyai pengasuh Ibunda Lili

Astaghfirullah.. aku hanya bisa mengusap lengan Ibunda Lili sambil melihatnya menitikkan air mata.

Satu minggu kemudian aku diberi kabar bahwa Ibunda Lili dibawa ke rumah sakit swasta dan didiagnosa patah tulang pinggul dan SSJ (Syndrome Steve Jhonson).

Ya Allah.. Seandainya Ibunda Lili adalah ibuku. Aku takkan rela kehilangan waktu berbaktiku padanya demi hal yang lain. Tahukah kamu? Masa berbakti kita kepada Ibu tidaklah panjang. Dan sebesar apapun bakti kita kepada Ibu, takkan pernah bisa menggantikan pengorbanan yang Ibu berikan kepada kita. 

Marilah kita renungkan bersama, berinfak kepada sesama memang baik dan penting. Begitu banyak keutamaan Infak, sadaqah, ataupun zakat. Namun kembaliah kita menyelami makna dari surah Al-Baqarah:215. Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaklah diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang daam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” Baiknya kita utamakan kedua orang tua kita selagi mereka masih membutuhkan bantuan kita. Karena Sedekah atau hadiah yang kita berikan tidak harus selalu barang mahal. Yang penting, hal tersebut bermanfaat, meskipun sederhana. Yang paling utama adalah suasana batin dan keikhlasan serta cara kita dalam melakukannya. Itulah yang akan berbekas.

Semoga sepenggal cerita ini dapat menuntun kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lebih mendekatkan diri padaNya. Aamiin Allahumma Aamiin.

Advertisements

Author:

Seorang ISFJ yang suka membaca dan menulis. Sedang berproses menjadi ATLM Profesional, Penulis dan Muslimah sejati Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s