Best Writer

Pantang Menyerah

By : Ustadz Sultoni

Peluh sudah membasahi wajah dan hampir sekujur tubuh Kiki. Maklum ia tadi beberapa kali berlarian mengejar angkot yang hanya nongol satu dua datang ke halte. Tapi ia selalu keduluan penumpang lain yang lebih sigap. Seperti balap lari, siapa yang lari lebih cepat, dia langsung bisa naik ke dalam angkot.

Siang itu panas cukup terik. Sopir-sopir angkot sedang unjuk rasa menolak angkutan berbasis aplikasi online.
“Pantas saja angkot jadi langka yang beroperasi,” gumam Kiki yang bernama lengkap Rizqi Muthmainnah itu.


Kiki, siswa kelas 11 IPA 1 MAN 1 Kota Tangerang itu, sudah hampir sepekan harus “lomba lari” sepulang sekolah. Jarak rumah dengan sekolahnya kira-kira 10 km. Waktu tempuh dengan angkot kira-kira 1 jam tanpa macet. Kalo macet bisa molor 1/2 jam dari biasanya.

Sejak awal demo anti ojek online, oleh para sopir angkot, sejumlah trayek angkot seperti lumpuh. Inilah muasal dalam beberapa hari ini, Kiki sering molor pulang sekolah.

“Ki .. kowe kan bisa naek motor ke sekolah. Biar adikmu yang naek angkot. Supaya kowe ndak telat pulang sekolah,” ujar Bu Mur pada putri sulungnya.

Sudah kesekian kali Bu Mur membujuk putrinya, agar mau menerima usulannya untuk kondisi darurat saat itu. Bahkan Bu Mur minta putrinya tak sungkan-sungkan gunakan ojek motor kalo angkot sulit.

Ndak pa-pa bu. Aku lebih suka naik angkot. Lebih aman. Aku juga kan gak mau lah, goncengan dengan abang-abang ojek. Dia kan bukan mahromku bu..!” tukas lembut Kiki.

Rizky Muthmainnah, penyandang nama ini lahir di Jakarta dari keluarga blasteran Jawa Betawi. Ayahnya Pak Mustofa, ustadz Betawi, dikenal giat mengasuh jama’ah masjid dekat rumahnya. Hingga Pak Mus, panggilan akrab Pak Mustofa, wafat 5 tahun lalu, Bu Mur akhirnya harus bekerja keras menghidupi Kiki dan 2 orang adik laki-lakinya. Menjadi yatim, Kiki dan kedua adiknya justru kian bersemangat membantu menjajakan kue lapis legit buatan Bu Mur ke sekolah mereka.

Hasil tempaan Pak Mus tidak percuma pada putra-putrinya. Kiki di samping taat beribadah, ia juga tergolong murid cerdas. Prestasi siswa terbaik se-Jakarta Selatan pernah ia raih saat kelas 9. Di tempat tinggal sebelumnya daerah Rawa Belong, Kiki yang sejak usia SD gemar berjilbab itu, sering memberi bimbingan belajar pada teman-teman sekampungnya. Hingga tahun 2016, keluarganya pindah ke Tangerang. 

“Mbak Kiki kok pindah sih? Kita kan masih pengen terus sama mbak. Nanti yang ngajarin berhitung sama ngaji siapa dong?” Ujar Wulan, salah seorang tetangga Kiki kelas 5 SD.

Suaranya tercekat parau. Bola matanya terlihat berkaca. Setetes air mata jatuh tanpa ia bisa tahan dan Wulan akhirnya sesenggukan. 

Kiki lalu memeluknya, layaknya seorang ibu mendekap anaknya. Ia kelihatan lebih dewasa dari usianya. Mata Kiki pun ikut berkaca. 

“Wulan… kamu gak boleh sedih. Mbak juga dulu gak bisa apa-apa seperti Wulan. Kamu bisa belajar sendiri. Sholat yang rajin. Bangun subuh harus disiplin. Dan ingat, baca Qur’an tiap pagi jangan sampe tinggal. Itu sebetulnya kunci meraih kecerdasan…!” Senyum Kiki pada Wulan.

Di tempat tinggal barunya kedewasaan Kiki kian matang. Ia nyaris tak pernah melewati hari-harinya di rumah maupun di sekolah kecuali untuk hal-hal positif. Kalian tahu gak, Kiki jam setengah 4 pagi sudah bangun. Selesai sholat malam, ia dengan cekatan membantu memotong-motong kue lapis, lalu membungkusnya dengan plastik. Sebelum subuh tiba, ia sudah mandi. Dan pas pukul 5.30 Kiki dipastikan sudah duduk di angkot menuju sekolah. Ia begitu disiplin mengatur waktunya. 

Setiap ke sekolah, di samping menggembol ransel punggungnya, ia pasti menenteng kantong plastik di tangan kanannya. Isinya mau tahu? Kue lapis ibunya yang siap ia jajakan di sekolah. Hebatnya, Kiki yang super padat hari-harinya itu, masih sempat menjadi Mentor kegiatan Rohis di sekolahnya. 

“Ki.. kamu gak ada WA ya? Nanti susah dong kita chatting-chattingan…!” Seloroh temannya.

“Kita tetap bisa komunikasi lewat telepon rumah. Karena aku gak punya hape. Kan komunikasi gak perlu berjam-jam?” Kalem Kiki menjawab.

“Kamu jadul deh Ki.”

“Masak ke mall aja belom pernah?”

Naek ojek aja anti?”

Suara-suara miring itu sering ia dengar. Tapi Kiki hanya menanggapi dengan senyum. Ia gak pernah marah. Bahkan sering teman-teman yang kontra dengan sikap jadulnya, ia dekati. Ia ajak diskusi dan tak jarang ia ajak makan ke kantin.

“Ki, kamu beneran neh mau traktir kita-kita orang…?” seru Ica.

Di meja kantin sekolah saat itu, Ica juga ditemani 3 sohibnya. Mereka berlima, kini sudah mengerubungi meja di pojok pondok bakso. Haha hihi… dan celotehan mereka cukup heboh. Kecuali hanya Kiki yang hanya senyum-senyum menatap teman-teman sekelasnya. Sampe menyantap hidangan, suara haha hihi Ica CS, masih saja santer terdengar di pondok bakso kantin sekolah itu.

“Ca, tadi udah baca do’a sebelum makan?” Canda Kiki.

“So pasti bu ustadzahku…” kali ini Sarah yang nyerocos nimpalin Ica. Yang lain koor juga dengan nada dan ucapan yang sama. Suasana di ruangan itu jadi riuh.

“Eh, emang kalo udah bisa ngajarin ngaji kita-kita orang, kamu gak bisa main ke mall ya Ki. Emang ke mall haram?” Kali ini Meta yang iseng nanya. 

“Siapa bilang ke mall haram? Aku cuma mau ke sana kalo ada tujuan pasti. Nyari buku-buku pelajaran di Gramedia, atau beli keperluan sekolah lainnya. Tapi kalo barang-barang yang kita cari bisa beli di tempat lain? Ya.. aku lebih nyaman beli di luar,” beber Kiki kalem.

“Lebih nyaman di luar kamu bilang? Bukankah di mall lebih nyaman ketimbang di toko-toko pinggir jalan, Di mall kita kan bisa cuci mata? Tempatnya adem full AC. Walau harganya sedikit lebih mahal, tapi kita puas berkeliling sembari liat barang-barang merek terkenal. Walaupun belinya belom tentu, hi hi ..hi !” Kali ini Ambar nyeletuk

My best friends… kamu ini memang betul-betul sohibku. Aku mau bilang sama kalian, ke mall kalo sampe berjam-jam buat apa? Kalo selesai dapet barang yang dicari, ya ngapain lama-lama di sana? Manfaatkanlah waktu seefektif mungkin untuk hal-hal yang bisa nambah pengetahuan, nambah kedekatan dengan Robb kita. Atau membuat kita jadi inget kematian..!” Senyum Kiki. 

“Tunggu… tunggu.. Kamu kok bicara dari mall ke soal mati sih Ki? Emang kita-kita ini kumpulan lansia yang udah deket ke liang kubur? Sampe-sampe soal mati dibicarain di sini? Jangan ngomong soal mati ah.. Merinding bulu guwe jadinya” tukas Ica rada bernada protes.

Kiki menatap senyum teman-teman akrabnya itu. Ini kesempatan dia memberi masukan nilai Islam kepada mereka. 

“Kalian emang kritis dan lucu deh. Friend-ku yang cantik. Waktu itu nikmat luar biasa dari-Nya. Dengan nikmat waktu itu kita bisa sekolah, belajar, menambah teman, menambah ilmu, mencari rezeki, berdiskusi seperti ini, etecera… dan masih banyak lagi yang bisa kita explore di dunia ini. Kalo kita bisa berkontribusi bagi kemajuan anak-anak bangsa, kita ini akan Allah catat sebagai hamba-hamba-Nya yang bersyukur dan bertanggung jawab. So my beautiful ladies… jangan bunuh waktu muda kalian dengan hal-hal yang useless. Ok?

Hening sejenak.. ceramah Kiki mulai direspon. Selanjutnya..

“Aku ingin berbagi hidayah dengan kalian. Karena aku sayang kalian. Usia kita ini, orang bilang sebagai usia paling produktif. Golden age. Usia emas. Usia dimana para sahabat Nabi saw, yang amat belia, tapi kontribusi mereka pada dunia? Amat luar biasa. Siapa tak kenal Usamah bin Zaid, Ali bin Abi Thalib, Aisyah  binti Abu Bakar, Hafsoh binti Umar? Ayo, bangun para srikandiku yang perkasa, ukirlah masa mudamu dengan karya-karyamu yang bisa membanggakan Indonesia. Bisa membuat ibu ayah kita, para guru kita, dan bahkan Nabi kita bisa tersenyum bangga. Bumi kita sudah terlalu sesak dengan polusi kemaksiatan. Jangan kita tambah lagi dengan kelalaian-kelalaian masa muda kita. Saatnya hari ini kita berbuat all out untuk agama dan bangsa. Mulai hari ini, jangan setengah-setengah berislam ya friendsku yang cantik-cantik. Beribadah jangan part time apalagi no time. Sebab kematian itu any time dan on time. Udah ya..!”

Kiki lalu bergegas ke kasir. “Berapa semua mbak Pur…?”

“Oya nak Kiki titipan kue lapis legit abis kabeh 50 biji. Jadi aku setor semua 100 ribu. Bakso lima mangkok cuma 50 ribu. Jadi tinggal 50 ribu ya aku setor ke nak Kiki..” ujar mbak Pur senyum.

Kiki balas senyum sembari mengangguk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s