Posted in Best Writer

​Sepanjang Jalan Kebaikan

By : Wiji Lestari Hamda

Akhir-akhir ini kita sering menemukan postingan tentang beragam berita yang membuat tidak nyaman. Seolah bangsa ini telah kehilangan nurani. Namun kita percaya kebaikan itu masih ada. Bukan hanya dalam kenangan kita. Kebaikan itu ada di dalam hati kita semua. Apa yang saya tulis ini adalah kisah nyata di sepanjang jalan yang saya lalui ketika berangkat dan pulang kerja. 

Di suatu pagi di sebuah perempatan jalan yang ramai,  saya berhenti menunggu lampu lalu lintas berubah hijau. Dari arah berlawanan, seorang pemuda berpenutup wajah mengurangi kecepatan. Sambil berbelok ia mengulurkan bungkusan plastik putih dengan kotak styrofoam pada pak Ogah yang mengatur lalu lintas. Kelihatannya berisi bubur ayam. Wajah pak Ogah sumringah mengetahui ada orang baik hati yang memberikannya sarapan sepagi itu. Semua mata memandang takjub pada pemuda tanpa nama itu. Ia berlalu begitu saja diikuti pandangan kami semua. 

Di hari yang lain sebuah mobil truk di depan saya menepi. Saya ikut memelankan motor dan melihat pengemudinya berhenti. Rupanya ia turun untuk menghulurkan uang pada seorang nenek peminta-minta. Nenek tua itu duduk dibawah pohon di tepi trotoar. Hati saya turut merasakan ketulusannya. Ia tidak melemparkan koin, ia turun dan dengan takzim menyerahkan lembaran uang. Sebuah adab yang menunjukkan kebaikan budinya. Ia seorang pemuda. Seperti dirimu. 

Allah hendak menunjuki kita bahwa masih ada orang-orang yang baik budi. Bukan hanya satu atau dua tapi banyak sekali di sekitar kita. Bahkan kebaikan itu ada di jalan raya. Jalanan yang konon tempat banyak orang tak beretika dengan mudahnya saling memaki.  

Lain hari, saya berkendara di belakang sebuah mobil tanki berisi bahan bakar milik Pertamina. Mobil besar itu berjalan lambat di depan saya. Jalanan rusak dan cukup padat membuat semua kendaraan berjalan pelan dan berhati-hati. Saya sepanjang jalan sibuk mengagumi mobil tanki merah putih yang kelihatannya gagah dan bagus sekali. 

Mobil tanki itu berhenti. Saya ikut berhenti karena tidak mungkin bagi kami mendahului mobil tanki yang panjang itu sementara arus dari arah lain juga padat. Seorang pemuda turun dari sisi kiri mobil tanki. Rupanya ia turun untuk menyerahkan sebuah dompet pada sepasang pengendara motor yang terlihat cemas menyusuri jalan mencari dompetnya yang jatuh. Terlihat pengendara itu merasa senang dan membungkuknya badan berterima kasih. Mungkin mereka tidak menyangka sama sekali bahwa dompet itu bisa ditemukan dan diantar oleh pemuda kenek tanki Pertamina.

Di hari yang lain, hujan turun sepanjang pagi. Semua orang bergegas berangkat bekerja menembus hujan yang tak kunjung reda. Beberapa motor yang ngebut memercikkan air dan tanah ke baju pengendara lain tanpa mereka sadari. Di sebuah pertigaan, ada kubangan air yang cukup dalam. Terjadi sedikit kemacetan di sana. Seorang bapak turun dari motor. Ia menepikan motor dan dengan tangannya memunguti kerikil dan lumpur yang menyumbat aliran air. Tak lama air di kubangan mengalir turun ke sawah. Lubang itu tak ada lagi genangan air. Besi rangka jalan terlihat mencuat sehingga pengendara mobil ataupun motor bisa menghindarinya. 

Teringat suatu malam adik saya saat pulang kerja terjatuh di kubangan air semacam itu. Ia mengalami luka-luka akibat terperosok karena tidak melihat kubangan yang tertutup air. Sungguh baik hati Bapak ini yang bahkan rela turun demi membereskan keadaan itu. Ia mencegah orang lain celaka. Tak berapa lama tidak ada kemacetan lagi di sana. 

Di lokasi lain di jalan raya yang padat, seorang polisi mencangkuli tanah pinggiran got dan memindahkannya ke lubang-lubang jalan. Beberapa batu bata merah ia letakkan menambal lubang jalan.  Ia tak sungkan melakukannya meskipun mungkin saja menutup lubang jalan bukanlah termasuk job descriptionnya. 

Bicara soal job description, tentu bukan pula tanggung jawab seorang pemadam kebakaran keliling kota mengantar anak-anak TK dengan mobil pemadam kebakaran. Nyatanya suatu sore dalam perjalanan pulang sebuah mobil pemadam kebakaran melaju bersama riangnya anak-anak TK. Melihatnya kita terbawa aura bahagia mereka. 

Sebuah riang yang sama juga terpancar dari wajah-wajah lelah yang lelap tertidur di tumpukan truk sampah. Riang yang sama  tampak pada wajah buruh bangunan yang naik mobil bak terbuka. Terik mentari tak menyurutkan semangat mereka. 

Tenyata di jalan ini tak hanya ada kebaikan yang dapat kita nikmati. Di jalan ini kita juga melihat sisi bahagia kelas bawah yang gigih mencari nafkah. Melihat pedagang asongan yang berlari menenteng beratnya dagangan. Melihat para anak-anak berlari menembus hujan demi menyewakan payungnya. Mereka benar-benar merasai keberkahan hujan. Fisik mereka tetap sehat meski seharian berlari dalam hujan itu.  Merekalah orang sederhana yang mampu menghayati kebahagiaan. 

Di jalan ini kita juga melihat arogansi diturunkan demi kemanusian. Ketika sebuah mobil ambulans lewat maka mobil-mobil  menepi memberinya jalan. Jarang sekali kejadian macam ini terjadi, maklumlah jalanan ini adalah sebuah jalan yang biasanya dilalui tronton dan mobil-mobil berat. Mobil-mobil truk besar dan cargo biasa lewat jalanan ini bersama angkot-angkot yang selalu menyerobot jalur lain hingga macet total. 

Di sini di jalan kebaikan ini, masih tersisa  nurani kita. Sebuah bibit kebaikan itu ada di hati siapa saja. Menanti ditaburkan. Ia akan tumbuh subur dan menyejukkan hati kita. Kebaikan kecil ini sungguh menjadi besar nilainya saat keresahan dengan mudahnya ditularkan lewat sosial media. Kebaikan kecil ini mungkin hanya sebutir atom, tapi di sisi Allah ia akan diperhitungkan. Bukan tak mungkin darinya muncul kebaikan-kebaikan yang berlipat pahala. Mari kita tanam benih kebaikan itu di sepanjang jalan yang kita lewati. Niscaya rimbun buahnya akan dapat dinikmati siapa saja.

Advertisements
Posted in Best Writer

​Pemimpin Amanah Pelayan Kepentingan Rakyat (PPKT)

By: Nurlaillah Sari Amallah Mujahidah
Sobat, perjalanan bangsa Indonesia telah memasuki puluhan tahun hingga hampir tujuh dekade. Berbagai peristiwa di negeri ini telah menandakan banyaknya krisis yang hampir terjadi di seluruh pelosok negeri. Krisis yang menampilkan bahwa kita memiliki kelemahan yang terjadi di Tanah Air. Terjadi ketidakseimbangan yang merata di negeri ini. Namun, semua itu akan membuat negeri ini akan semakin tergerus, tergerogoti oleh zaman dan akhirnya hilang tanpa meninggalkan jejak. Ya semua diawali oleh siapa yang memegang kekuasaan negeri ini. Mulai dari bawah hingga tertinggi, dari setiap orang, RT sampai petinggi di Senayan, Presiden Republik Indonesia. Kepercayaan penuh telah diberikan, namun apa daya, korupsi, kolusi, dan nepotisme terjadi di mana-mana. Sehingga penyelewengan banyak terjadi. Jauh berbeda antara harapan dan kenyataannya. Jadi sobat sebenarnya pemimpin seperi apa yang diidamkan dan sangat dibutuhkan oleh bangsa kita?

Sejatinya pemimpin yang lahir bersama dari, untuk, oleh rakyatlah yang seharusnya menjadi pemimpin di negeri ini. Mulai dari pemimpin RT hingga Presiden, harus memiliki sikap satu rasa sama rasa. Satu rasa sama rasa? Apaan sih kok ada istilah rasa segala, malah jadi bikin baper nih hehehe. Maksud dari kata satu rasa sama rasa itu adalah apa yang dirasakan rakyatnya, harus juga dirasakan oleh pemimpinnya. Pemimpin yang menjadi ujung tombak terdepan dari penyelesaikan masalah dan gambaran seperti apa negeri ini akan dicitrakan dalam benak dan impian setiap orang. Yang terpenting adalah memegang teguh ideologi Pancasila dan UUD 1945.

Kemudian menjadi seorang pemimpin harus kuat dan profesional. Kuat di sini bukan seperti Superman, tapi kuat dalam kemampuan untuk menuntaskan berbagai permasalahan negeri dari sekitar 240 juta rakyat Indonesia. Mampu menyelesaikan hingga ke akar paling dalam untuk memerbaiki dan menggantinya dengan hal yang membangun peradaban. Profesionalitas seorang pemimpin dapat dilihat sesuai keahlian yang ia punya dengan menggunakan sepenuhnya etika dalam kehidupan sehari-hari, termasuk etika dalam memimpin bangsa dan negara dengan karakter yang mengutamakan dan menjunjung tinggi sikap ketuhanan dalam kemanusiaan. Pemimpin yang amanah ialah pemimpin yang memiliki integritas dalam menjalankan tugas. Memiliki keyakinan yang kuat untuk melawan keburukan. Siap dan sigap menjalankan kebijakan yang baik sesuai nurani rakyat. 

Apa yang harus ia jalankan dan yang diharapkannya tidak semata hanya untuk kebaikan dirinya saja tapi juga untuk orang lain, rakyat yang dipimpinnya akan dijalankan terlebih dahulu. Sesuai firman Allaah SWT: 

“Sesungguhnya manusia terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat dan amanah.” (QS. Al-Qashas: 26).

Sifat amanah itu kembali kepada kesungguhan orang untuk takut kepada Allaah, tidak memperjualbelikan ayat Allaah untuk kepentingan dunia dan tidak takut dengan ancaman manusia. Pemimpin yang dibutuhkan oleh bangsa ini adalah pemimpin yang kuat dan memiliki kemampuan yang dibutuhkan dalam menangani permasalahan bangsa serta memiliki jiwa yang profesional dengan etika. Memiliki sikap amanah yang selalu dipegang untuk membentuk bangsa yang maju dan beradab. Sobat tahukah kalian sosok yang paling berjasa dalam menyelamatkan negara ini saat Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta diasingkan oleh Belanda?

Ia adalah sosok pemimpin yang terlupakan, Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang menjadi Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Tak banyak dari kita sebagai generasi muda yang tahu akan peran beliau. Ia lahir pada tanggal 28 Februari 1911 di Anyar Kidul, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Pada tanggal 19 Desember telah terjadi kevakuman pemerintah setelah Presiden Soekarno dan Wakilnya Mohammad Hatta beserta setengah kabinetnya ditangkap Belanda melalui Agresi Militernya. Mereka ditawan dan diasingkan ke Pulau Bangka. Ketika berumur 37 tahun Sjafruddin Prawiranegara memiliki jasa yang luar bisa dengan berinisiatif membentuk PDRI. Sobat bayangkan jika tanpa PDRI Indonesia ini tidak akan pernah ada. Akibat kegagalan perundingan Renville, pasukan Belanda melancarkan serangan militer ke berbagai daerah terutama pusat Ibukota, Yogyakarta. Karena itulah PDRI merupakan bagian penting dari adanya negara ini. 

Ketika Belanda melakukan agresi militernya yang kedua di Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948, Soekarno-Hatta sempat mengirimkan telegram yang berisi perintah kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang menjabat sebagai Menteri Kemakmuran RI saat itu untuk segera membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra. Namun, telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi dikarenakan sulitnya sistem komunikasi pada saat itu. Pada tanggal 19 Desember sore harinya Sjafruddin Prawiranegara segera mengambil inisiatif yang sama. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat. Gubernur Sumatera, Mr. TM Hasan menyetujui usul itu “demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kosongnya kepala pemerintahan yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara.” Dengan mengambil lokasi di suatu tempat di daerah Sumatera Barat, pemerintahan Republik Indonesia masih tetap eksis meskipun para pemimpin Indonesia seperti Soekarno-Hatta telah ditangkap Belanda di Yogyakarta. Sjafruddin Prawiranegara menjadi Ketua PDRI dan kabinetnya yang terdiri dari beberapa orang Menteri.

Pendirian PDRI itu sebenarnya inisiatif Sjafruddin dan kawan-kawan. Maka tepat pukul setengah lima pagi pada 22 Desember l948 PDRI terbentuk. Atas musyawarah pemimpin yang ada di Sumatera, Sjafruddin dipercaya memimpin PDRI. Sesaat kemudian PDRI ini secara serentak disiarkan ke seluruh penjuru dunia. Dalam siaran itu dijelaskan bahwa Pemerintah Republik Indonesia tetap ada. Syukurlah, segera para pemimpin Indonesia lainnya mengakui dan menyokong PDRI, termasuk Jenderal Besar Soedirman dan pemimpin TNI lainnya yang saat itu terus bergerilya melawan Belanda. Dukungan internasional juga lantas mengalir. Karena Bukittinggi sebagai ibu kota Provinsi Sumatra juga dibombardir Belanda, pusat pemerintahan PDRI akhirnya pindah ke pedalaman. Lantaran keadaan demikian, radio Belanda pernah mengejek PDRI sebagai “Pemerintahan Dalam Rimba Indonesia.” Sjafruddin pun segera membalas: “Kami meskipun dalam rimba, masih tetap di wilayah RI, karena itu kami pemerintah yang sah. Tapi Belanda pada waktu negerinya diduduki Jerman, pemerintahannya mengungsi ke Inggris. Padahal UUD-nya sendiri menyatakan bahwa kedudukan pemerintahan haruslah di wilayah kekuasaannya. Apakah Inggris jadi wilayah kekuasaan Belanda? Yang jelas pemerintah Belanda menjadi tidak sah!”

Sjafjuga memegang jabatan pendi pemerintahan, di antaranya seWakil Perdana Menteri, Menteri Keuangan, dan Menteri Kemakmuran. Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Ke(1946), Menteri Keuangan (1946), dan Menteri Kemakmuran (1947). Ia dipercaya sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia pertama pada tahun 1951 yang kemudian memperkenalkan Oeang Republik Indonesia (ORI). Dari sosok Sjafruddin kita patut meneladani bahwa dalam perjuangan seorang pemimpin yang amanah takkan pernah memikirkan pangkat dan jabatan karena kita berunding pun duduk di atas lantai, yang terpenting adalah kejujuran, siapa yang jujur kepada rakyat dan jujur kepada Tuhan, perjuangannya akan selamat. Ia rela mengorbankan jiwanya demi menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia serta demi persatuan nasional atas ridha Allaah.

Posted in Best Writer

Menggeser Frekuensi Hati

By : Wiji Lestari Hamda

Hari masih pagi. Jam pertama belum di mulai. Hari itu hari selasa. Hari yang indah. Pagi itu Bu Ida tidak ada jam mengajar. Biasanya Bu Ida membaca atau memeriksa tugas-tugas siswa.  

Belum lagi ia duduk, seorang kawan mengatakan sesuatu yang intinya ia mencederai akad jual beli sehingga merugikannya. Bu Ida berkata bahwa kali ini biarlah ia yang tanggung kerugian itu. Bu Ida berharap kawannya tidak mengulangi lagi. Ini sudah kesekian kalinya kawan tersebut melakukan pembatalan. Barang yang sudah dibeli secara tempo dan sudah diisepakati pembayarannya tiba-tiba dikembalikan setelah sebulan dibawa pulang. Pernah pula ia ingin mengembalikan barang yang sudah lama dibeli karena tertarik menukar dengan model yang baru. Ia menyadari bahwa masyarakat awam belum mengerti akad jual beli sehingga seenaknya mencederai akad. Ia ingat pesan seorang ulama, jika ia ikhlaskan kesalahan mereka dengan izin Allah ia juga  akan mendapatkan pengampunan Allah di hari akhir nanti. 

Ia memutuskan pergi ke pasar untuk beralih frekuensi hati. Niatnya ia akan belanja Menyenangkan hati anak-anaknya dengan menu ayam goreng kesukaan. Rupanya suasana hati bu Ida berpindah. Frekuensinya langsung terlihat pada kendaraannya. Ban depan mendadak bocor, padahal baru ganti bulan lalu. Ini mungkin efek dari situasi hati  yang masih kacau frekuensinya. Para sahabat Rasulallah saw konon jika melihat kendaraannya ada masalah maka itu pertanda ada yang salah dengan diri tuannya. Ia sadar, keadaannya saat ini penuh energi negative.

Bu Ida menuju warung makan dengan kondisi ban bocor. Soal ban motor toh nanti bisa diurus nanti pikirnya. Kali ini ia  hendak sarapan sambil mentraktir kawannya. Siapa tahu bisa mengurangi hawa jelek pagi itu. 

Mereka sampai di sebuah warung makan. Warung Jawa-Sunda itu sederhana bangunannya. Ukurannya hanya sekitar 2 M x 3M. Si teteh pemilik warung menyapa mereka dengan ramah. Wajah teteh pemilik warung riang dan terlihat berbeda dari biasanya. Sangat cerah. Rupanya si teteh baru saja pulang liburan. Pantas saja terlihat fresh. 

Seminggu warungnya tutup. Teteh pergi ziarah. Teteh asli orang Kawarang. Ia berziarah sepanjang rute pulau Jawa. Mulai dari Cirebon, Demak, Kudus, Jogjakarta, Blitar, hingga ke Bali dengan destinasi terakhir Lombok. Keren untuk ukuran kelas menengah ke bawah. Dari warung kecil itu Teteh mendapatkan kecukupan rezeki. Padahal ia buka kurang dari 8 jam/hari. Ternyata benarlah apa kata Rasulallah saw bahwa sembilan dari sepuluh kunci itu ada pada niaga.

Lebih mengejutkan lagi, Si Teteh pergi ziarah bersama rombongan umroh. Agak tercengang Bu Ida mendengarnya. Bahkan rencananya bulan depan Teteh akan ikut rombongan untuk bertolak ke Luar Negeri destinasi Bangkok dan sekaligus beberapa tempat wisata di Indonesia. Masya Allah, keren juga nih Teteh ya? 

Pagi itu ia kembali riang setelah mendengar cerita Teteh. Dunia niaga memang penuh lika-liku tapi banyak barokahnya. Ia seperti dingatkan kembali bahwa dunia niaga adalah sebuah jalan sunah dan bukan sekedar mencari rupiah. 

Ia telah berhasil menggeser frekuensi. Ia mengubah situasi hatinya ke frekuenasi yang lebih jernih. Efeknya, sangat signifikan. Pagi itu ia ingin mentraktir eh malah kawannya lah yang mentraktirnya. Setelah menikmati sarapan berhikmah itu ia bergegas menambal ban. Tukang tambal ban juga membetulkan beberapa bagian motornya secara cuma – cuma.

 Ia bersyukur dengan situasi itu. Dibelinya beberapa liter beras untuk ia berikan ke dapur umum. Ia bersemangat melanjutkan hari. Siang harinya Bu Ida diajak kawannya untuk menikmati sop durian yang lezat. Siang yang terik itu dinikmati sambil bincang-bincang beragam hal bermanfaat. Aroma durian yang diblender dengan campuran susu dan es batu sungguh membangkitkan semangat. Di dalamnya ada sebongkah durian kupas Medan yang empuk. Pada bagian atas ada alpukat mentega yang kuning dengan aksen hijaunya penambah selera. Kesegaran yang manis itu ditaburi dengan keju parut yang nikmat. Frekuensi telah bergeser dan sepanjang hari itu banyak hal baik terjadi. Hari itu Bu Ida mendapat banjir order dari bisnis onlinenya. Di tambah lagi sore harinya Bu Ida dipertemukan dengan komunitas menulis yang mengajak mencetak buku bersama. Ini sebuah kisah nyata yang pada intinya bahwa hati kita mudah sekali mengalami kondisi tidak fit akibat sebuah kejadian yang mengecewakan. Seandainya hal itu dibiarkan maka sangat mungkin sepanjang hari Bu Ida akan menemui beragam ketidaknyamanan. Sangat mungkin pula kesialan menimpanya jika perasaan marah dipeliharanya.  

Mungkin saja bukan hanya Bu Ida. Kita pun sehari-hari sering menemui situasi yang tidak kita inginkan. Pada keadaan yang demikian kita sangat ingin melampiaskan kekesalan. Sayangnya hukum kekekalan energi membuktikan bahwa apa yang kita lepaskan akan berubah menjadi bentuk lain yang sama. Kita lepaskan emosi positif maka ia akan berubah menjadi hal positif. Begitupun sebaliknya. Hal buruk akan mengundang hal buruk lainnya. Begitu seterusnya.  Tak ada cara lain untuk menyelamatkan diri dari situasi macam ini dengan segera menggeser frekuensi. Bergeserlah secara perlahan. Buat diri kita nyaman pelan-pelan. Ambil nafas, pindah posisi dan wudhu jika ingin kesejukan. Sesudahnya kita bisa pikirkan hal baik yang paling mudah kita lakukan saat itu juga. Betapa hidup itu indah jika difokuskan untuk berbuat baik dan melihat hal yang baik.

Posted in Best Writer

Nikmatilah

By : Bang Jack

Nikmatilah setiap kebaikan yang kita tebarkan, agar kelak menjadi saksi di hari pembuktian.

Nikmatilah semua proses perjuangan yang kita lakukan, agar kelak menjadi cerita bahagia saat kita meraih kemenangan.
Nikmatilah setiap lelah kita dalam berdakwah, berharap setiap lelah mengantarkan kita ke Jannah.
Jika dalam berdakwah kita mengalami kegagalan, nikmatilah.

Mungkin saja Allah sedang menyiapkan kepada kita sebuah kemenangan.
Jika dalam berdakwah kita mengalami kesulitan, nikmatilah.

Dan Yakinlah bahwa bersama kesulitan selalu ada dua kali kemudahan.
Jika dalam berdakwah kita malah dijauhkan, nikmatilah.

Karena Sesungguhnya Allah sedang siapkan orang-orang yang membantu kita dalam mengajak kepada kebenaran..

Posted in Best Writer

Sore Bersama Abang

Sore itu gadis berjilbab pink duduk di sebuah kedai es kelapa kecil menunggu seseorang datang menjemputnya. Sambil meminum es kelapa, ia membaca dzikir petang dalam hati yang sudah dihafalnya. Sabrina Alifa namanya, ia adalah mahasiswa semester tiga yang baru-baru ini berhijrah. Tak lama kemudian muncul sosok pria mengenakan jaket biru khas seragam ojek online. Pengemudi motor yang sudah sangat dikenalnya itu mengendarai motor dengan wajah yang kusut. Sabrina sangat mengenalnya karena ia tak lain adalah kakak kandungnya, Bayu Ahmad. Bayu menghentikan motornya tepat di depan Sabrina.

“Assalamu’alaikum, bang. Mau minum es kelapa?” Sapa Sabrina terlebih dahulu sambil memberikan es kelapa yang sudah ia siapkan untuk abangnya.

“Wa’alaikum salam. Makasih dek. Udah yuk kita pulang?” Jawab Bayu sambil menerima es kelapa dari adiknya.

Sabrina lantas mengenakan helm dan duduk di belakang kakaknya. Kendaraan roda dua itu segera melaju membelah jalan raya kota Jakarta yang ramai. Kemudian berbelok melewati jalan yang lebih kecil namun tak kalah ramainya. Banyak toko-toko berjejer di pinggir jalan itu mulai dari toko makanan, toko pakaian sampai toko bangunan. Ketika Sabrina sedang asyik mengamati pemandangan pertokoan di pinggir jalan, tiba-tiba suara Bayu memecah perhatiannya.

“Kerja capek, tiap hari gitu-gitu aja. Mana tadi dapet penumpang cerewet banget lagi.” Ucap Bayu sambil mengendarai motor.

Rupanya ini penyebab wajah abangnya kusut seperti baju yang belum disetrika, batin Sabrina.

“Jangan ngeluh mulu sih bang, kerja tuh yang ikhlas biar berkah.” Tanggapan Sabrina mendengar keluh kesah Bayu.

“Ikhlas sih ikhlas. Tapi kalo dapet penumpang cerewet mulu apa ga pusing?” Keluh Bayu lagi.

Tak lama kemudian motor yang mereka kendarai oleng.

“Eh, kenapa bang kok motornya goyang gini sih?” 

Bayu yang menyadarinya segera mengerem motor barunya itu. Selidik punya selidik ternyata ban motornya bocor. Mata Bayu dan Sabrina pun segera berkeliling mencari tempat tambal ban. Ternyata tak jauh di belakang mereka ada sebuah tempat tambal ban sederhana yang terletak di pinggir jalan. Bayu pun menuntun motornya 10 meter ke belakang.

“Tuh kan, bang. Apa Ina bilang? Barusan Ina bilang kalo kerja yang ikhlas, jangan ngeluh mulu tapi abang masih ngeluh. Nah ini langsung kena tegur sama Allah kan?”

Bayu terus menuntun motornya dengan pasrah, tak menghiraukan perkataan adiknya. Motor Bayu pun segera ditangani oleh tukang tambal ban berbadan besar yang bajunya dipenuhi noda oli. Akhirnya ditemukan penyebab ban motor Bayu bocor, sebuah paku kecil sepanjang 5 cm.

“Uh.. Ini nih penyebabnye.” Kata bapak penambal ban sambil mengeluarkan paku dari ban motor Bayu.

“Waduh, gede banget!” ujar Bayu kaget. 

“Ini sih harus ganti ban dalem.”

“Berapa tuh pak?” tanya Bayu.

“50.000 nih, langka stoknya.”

Bayu menghela napas. “Ya sudah, nggak apa-apa.” Jawab Bayu.

Kemudian Bayu menghampiri adiknya yang sedang duduk di bangku yang tersedia disana. Bayu teringat perkataan adiknya tadi.

“Dek Ina, tadi adek bilang apa? Kalo kerja nggak boleh ngeluh ya? Emang kenapa gitu kalo ngeluh?” ujar Bayu membuka percakapan. 

“Iya bang, kalo ngeluh mulu kan nggak baik. Kesannya kita nggak ikhlas dan kurang bersyukur.” Jawab Sabrina.

“Kok gitu dek?”

“Apapun yang terjadi bang, sebagai muslim kita harus menerima dengan ikhlas dan yakin bahwa semua ini dari Allah. Allah Yang Maha Tahu kok, semua pasti terbaik buat hamba-Nya.”

“Begitu ya dek.”

“Iya bang, seperti dalam doa dzikir pagi-petang yang rutin Ina baca, ada salah satu dzikir yang artinya begini nih. Ina bacain ya, bentar Ina ambil bukunya dulu.” Ucap Sabrina sambil merogoh saku tasnya dan mengambil buku kecil dzikir pagi-petang disana.

“Ini bang, Ina bacain yang dzikir petangnya ya. Artinya Ya Allah, nikmat apapun yang Engkau berikan di sore hari kepadaku atau kepada seseorang dari makhluk-Mu, tiada lain hanya dari-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Maka bagi-Mu segala puji dan rasa syukur.”

“Tapi yang abang alamin kan bukan nikmat dek. Ini mah musibah!” seru Bayu.

“Abang, sabar bang. Ini tuh teguran tanda sayang dari Allah bang. Abang mending istighfar deh.”

“Astaghfirullahal ‘adzim… Astaghfirullahal ‘adzim…” Bayu akhirnya beristighfar memohon ampun kepada Allah mengikuti saran Sabrina.

“Nah gitu dong.. Ini baru abangnya Sabrina!” ujar Sabrina sambil mengacungkan dua ibu jarinya.

Ban motor Bayu pun telah selesai diganti. Setelah membayar, Bayu dan Sabrina mengucapkan terima kasih lantas pergi melanjutkan perjalanan pulang mereka. Hari sudah semakin petang. Terlihat burung-burung di langit terbang kembali ke sarangnya.

“Dek, sejak kapan ya kamu jadi pinter ceramah?” tanya Bayu di tengah perjalanan. 

“Pinter ceramah apaan sih bang, nggak ah.” Elak Sabrina tidak setuju ucapan abangnya.

“Eh bener, coba kamu ceramahin abang dari sebelum kita jalan. Mungkin ban motor abang nggak akan bocor dan abang nggak harus ngeluarin duit 50.000.” Ucap Bayu disambut gelak tawa Sabrina.

“Salah abang sendiri tadi ngajak buru-buru pulang.”

“Tapi dek, kamu sadar nggak sih tadi tuh tempat ban motor abang bocor deket banget sama tempat tambal bannya. Jangan-jangan…”

“Hus, nggak boleh suudzon bang!” kata Sabrina memotong perkataan Bayu.

Walau sebenarnya ia pun sedikit curiga mengingat dekatnya lokasi saat motor abangnya oleng dan ukuran paku yang lumayan besar. Apalagi ia pernah melihat berita di TV tentang beberapa tukang tambal ban nakal yang sengaja menebar paku di jalan. Tapi bagi Sabrina, ada hikmah dari peristiwa ban bocor itu. 

“Dek, abang perhatiin kerudung kamu makin panjang aja. Terus buku kecil tadi apa tuh yang ada doa dan dzikirnya?”

“Alhamdulillah bang, Ina kan mau hijrah dan terus memperbaiki diri. Mulai dari kerudung syar’i. Oh.. itu Al-Ma’tsurat namanya, dzikir dan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap pagi dan petang. Abang mau bukunya?”

“Boleh dek, abang juga mau memperbaiki diri kayak kamu.”

“Alhamdulilah, ya sudah buku Ina aja buat abang. Ina Insya Allah sudah hafal. Nanti abang rutin ya bacanya?” Jawab Sabrina senang mendengar abangnya ingin hijrah seperti dirinya.

Akhirnya Bayu dan Sabrina tiba di rumah. Sebuah perjalanan yang penuh hikmah.

Posted in Best Writer

Sudah Cukupkah Sedekahku?

By : Neng Dhisty

Aku mengenal salah satu wanita dalam kehidupanku. Bisa dikatakan, aku mengenalnya dengan sangat baik. Ia adalah wanita yang cantik dengan usianya yang telah  melewati kepala 4. Begitu cantiknya hingga orang di sekitarnyapun takkan menyangka bahwa usianya telah melewati kepala 4. Ia begitu cantik, ramah, sangat perduli dengan sekitar sebenarnya. Tetapi itu dulu, ketika harta yang ia miliki tidak sebanyak sekarang, ketika teman pergaulannya tidak se “Sosialita” seperti sekarang. Ia yang sekarang tak pernah absen untuk melakukan berbagai sedekah ataupun zakat ke sesama yang membutuhkan. Terutama anak yatim piatu.

Ia memang tidak seburuk yang terlihat, namun tidak pula sebaik yang kita pikirkan. Karena hati seseorang takkan pernah ada yang tau bukan?

Tahukah kamu surah Al-Baqarah ayat 215? Yapss. Kita akan membahas sebuah cerita ringan dan begitu menarik yang berhubungan dengan surah Al-Baqarah;215.

Sebut saja wanita cantik ini sebagai Lili karena keanggunannya. Lili mempunyai keluarga kecil yang beranggotakan suaminya, seorang anak perempuannya dan seorang Ibu yang tinggal bersamanya. Ibunya berusia lebih dari 70 tahun. Lili adalah wanita yang sebenarnya begitu perduli dengan orang-orang di sekitarnya, hanya saja sedikit ber”gengsi” untuk mengakuinya.  Begitu pula dengan suaminya. Namun suaminya terkesan lebih cuek. Yaps bisa dikatakan sangat cuek. Lili mempunyai seorang anak perempuan yang sudah memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama. Anak perempuannya mengikuti Sekolah Tahfidz, begitu sebutan modern di kalangan teman sebayanya. Kepribadiannya bisa dikatakan tak jauh berbeda dengan ayahnya dan memang etikanya harus dipercantik agar menjadi lebih baik. Sedangkan Ibunda dari Lili adalah seorang ibu yang begitu manja dengan usianya yang semakin renta. Bisa dikatakan sedikit cerewet, karena ingin diperhatikan. 

Ibunda Lili keadaan kesehatannya memang sudah tidak sebaik dulu. Tangan Kanannya sudah tidak bisa lagi untuk digerakan. Bobot tubuhnya pun begitu besar dan sudah tak bisa lagi untuk berjalan dengan baik. Beliau membutuhkan pegangan untuk menopang langkahnya. Suatu hari beliau jatuh dari kamar mandi hingga 2 kali berturut-turut. Tubuh rentanya tak bisa membohongi rasa sakit yang ia rasakan. Pada akhirnya tak mampu digerakan dan hanya mampu terbaring di tempat tidur. Lili sudah mencoba memanggil orang ahli urut patah tulang untuk datang ke rumahnya. Ibunda lili berteriak kesakitan dan enggan menerima tawaran untuk diurut kedua kalinya. 

Hingga suatu hari Aku menjenguk ibunda Lili dan bertanya, “ Gimana kabar nenek?” tanyaku dengan biasa ku memanggil ibunda Lili.

 “Iya gini aja, belum bisa jalan” jawab Lili “Sudah dipanggil tukang urut patah tulang tapi nenek menolaknya lagi.” sambungnya.

“Berati kalau buang air kecil atau buang air besar pakai pampers? Kenapa tidak coba ke rumah sakit? Takutnya ada masalah sama tulangnya.”tanyaku penasaran

“Iya pakai pampers. Jangankan ke rumah sakit, buang air kecil atau besar saja memakaikan popoknya sulit. Harus dibantu, ditahan, didorong sedikit.”jawabnya pesimis

Tak lama suaminya pun turun dari lantai 2. Rumah Lili terdiri dari 3 lantai dan begitu indah. Dekorasinya pun begitu cantik. Dengan tampilan sederhana suaminya yang tengah memakai arloji, ia berkata, “Ma, ayo cepet siap-siap. Udah ditunggu yang lain di Masjid Barokah.”

“Oh lagi ada acara ya? Nenek ada yang jaga?” tanyaku spontan.

“Ah nenek mah emang ngerepotin orang aja. Orang kita mau ke pesantren pake sakit segala. Makanya jangan jatoh. Manja sih.”selak Rifda anak Lili

“Astaghfirullah, kamu ini omongannya dijaga. Kalo di depan teman-teman mama nanti jangan ngomong kayak gitu ya.”jawab Lili dengan suara marah.

“Iya nih, mau ke tempat pesantren yang aku dan teman-teman bangun di daerah Bogor. Makanya repot nenek ga ada yang urus. Aku dan suami harus ke sana-sini ada ketemu anak yatim, ngurus pembangunan pesantren, rapat perkumpulan pengajian. Tapi udah minta tolong keponakan buat jagain kok.” Jelasnya.

“Oh ada cucunya? Alhamdulillah kalo ada yang jaga.” Jawabku

“Pah.. udah transfer ke bu Eko kan? Ga enak kalo telat nanti diomongin yang lain. Ini penting loh.”ucap Lili

“Iya udah.”jawab suaminya

“Kami pamit duluan ya.. nenek ada di dalem kalo mau lihat.”jelas Lili.

Dua minggu telah berlalu. Aku kembali menjenguk Ibunda Lili.

“Assalamu’alaikum nek…”salamku dari pagar 

“Wa’alaikumsalam.. masuk aja” jawab Nyai, pengasuh Ibunda Lili

“Wah sepi banget pada ke mana nyai?”tanyaku

“Nyu Lili lagi pergi sama suami 3hari”jawabnya

“Nenek gak ada yang jaga?” lanjutku

“Cuma aku sama puja, puja lagi kuliah”jawabnya

Puja adalah adik tiri dari Lili yang tinggal di rumahnya. Ia dibiayai untuk kulliahnya oleh Lili dan suami hingga lulus. Aku pun akhirnya berbincang-bincang dengan Ibunda Lili. Ada suatu penjelasan dari Ibunda Lili yang membuatku tersentuh hingga menitikkan air mata.

“Lili sering pergi, ada acara. Emang buat kebaikan, mau larang ga enak. Tapi emak bingung kalo apa-apa. Kalo mau pipis, buang air harus ada yang pakein pampers ho..  Ora iso emak kalo gerak sendiri. Sakit banget tulang ngilu semua. Badan gatel-gatel. Ini aja kalo gatel minta garukin nyai atau puja pake tutup balsam. Emak sedih kalo ngerepotin orang banyak. Nanti Lili pusing mikirin, Rano (Suami Lili) repot uangnya buat emak sakit. Mau makan susah. Mau minum takut pipis terus nanti ngerepotin ganti pampers terus.” Jelas Ibunda Lili sambil menggenangkan air mata.

“Nenek sabar yah.. semoga cepet sembuh. Nenek udah makan belum? Aku bawa alpuket kesukaan nenek.” tanyaku

“Belum makan ho.. gak napsu. Iya makasih ya.. Nanti emak makan sore.”jawabnya

“Mau makan apa? Adanya mie aja.. Kalo ada cucunya baru dibawain makanan, dibikinin ikan. Kalo cucunya belum jenguk mah susah nenek makannya. Nanti aja makan alpuket aja ya” sambung nyai pengasuh Ibunda Lili

Astaghfirullah.. aku hanya bisa mengusap lengan Ibunda Lili sambil melihatnya menitikkan air mata.

Satu minggu kemudian aku diberi kabar bahwa Ibunda Lili dibawa ke rumah sakit swasta dan didiagnosa patah tulang pinggul dan SSJ (Syndrome Steve Jhonson).

Ya Allah.. Seandainya Ibunda Lili adalah ibuku. Aku takkan rela kehilangan waktu berbaktiku padanya demi hal yang lain. Tahukah kamu? Masa berbakti kita kepada Ibu tidaklah panjang. Dan sebesar apapun bakti kita kepada Ibu, takkan pernah bisa menggantikan pengorbanan yang Ibu berikan kepada kita. 

Marilah kita renungkan bersama, berinfak kepada sesama memang baik dan penting. Begitu banyak keutamaan Infak, sadaqah, ataupun zakat. Namun kembaliah kita menyelami makna dari surah Al-Baqarah:215. Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaklah diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang daam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” Baiknya kita utamakan kedua orang tua kita selagi mereka masih membutuhkan bantuan kita. Karena Sedekah atau hadiah yang kita berikan tidak harus selalu barang mahal. Yang penting, hal tersebut bermanfaat, meskipun sederhana. Yang paling utama adalah suasana batin dan keikhlasan serta cara kita dalam melakukannya. Itulah yang akan berbekas.

Semoga sepenggal cerita ini dapat menuntun kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lebih mendekatkan diri padaNya. Aamiin Allahumma Aamiin.

Posted in Best Writer

​Lelah Karena Lillah

By : Bang Jack

Memang tugas kita selain Ibadah yaitu Berdakwah,
Agar gak cuma kita aja yang jadi orang Sholeh dan Sholehah.
Dakwah itu penuh dengan Masalah,

Bukan untuk menjadikan kita kalah,

Tapi menjadi sebab kita semakin mahabbah dengan sang Illah
Dalam berdakwah Wajar kalau kita merasa Lelah,

Karena kewajiban yang harus kita lakukan itu lebih banyak dari waktu yang disediakan.
Dalam berdakwah memang perlu banyak perjuangan,

Agar menjadi cerita bahagia ketika kita meraih kemenangan,
Tetap semangat sahabat dalam melayani umat,

Karena tujuan kita yang utama yaitu hidup bahagia di Akhirat,
Jadikanlah Lelah dalam dakwah ini karena Lillah,

Agar semua yang kita lakukan menjadi berkah.
Ingat perjuangan kita hanya sebatas lelah,

Tak sampai harus mengorbankan darah.
Jika hanya lelah kita sudah menyerah,

Tidakkah kita malu dengan saudara-saudara di Palestina yang berjuang sampai berdarah?
Sahabat, berdakwah membuat kita menjadi kuat,

Abaikanlah kesenangan-kesenangan yang cuma sesaat,
Semoga kelak di akhirat kita semua mendapatkan syafaat.

Banten – 15 Maret 2017