Posted in Seri Cinta Terpendam

Bersama Angin

​​Sore itu, cuaca tidak mendung tidak pula cerah. Mungkin pembawa acara ramalan cuaca akan menyebutnya cerah berawan. Angin yang juga bertiup sepoi-sepoi membuat suasana menjadi sejuk.
Gadis itu memakai jaket hitam dan mendengarkan musik lewat earphone-nya. Ia sedang dalam perjalanan pulang menaiki angkot. ~Kamu yang kutunggu…~ Itulah lagu yang sedang didengarnya. Lagu yang sesuai dengan isi hatinya. Ia yang sedang menunggu seseorang. Ia harap seseorang yang ia tunggu itu bisa duduk tepat di sebelahnya. Ya, di dalam angkot.

Namanya Ani. Gadis berusia 22 tahun itu kini sedang duduk manis dalam angkot yang sedang ngetem*.

*ngetem= berhenti menunggu penumpang


“Pak sopir, tolong cepatlah.. Bisa-bisa nanti saya nggak ketemu sama dia.” Gelisah Ani dalam hati.
Waktu sudah semakin sore. Akhirnya sopir angkot yang sedari tadi mengobrol dengan sopir lain di luar, masuk ke mobil. Tak lama kemudian angkot pun melaju.


“Alhamdulillah…” dalam hati Ani bersyukur.

Masih sambil mendengarkan lagu, Ani menikmati perjalanannya dengan tenang dan sabar. Tak lama ada seorang pria menghentikan angkot yang ditumpanginya. Pria itu pun duduk di sebelah Ani karena memang kosong dan di tempat lain sudah penuh. Namun Ani masih berharap seseorang yang ditunggunya bisa duduk tepat di sebelahnya.

Roda angkot berputar kian melambat. Jalanan kota di sore hari padat merayap. Ramai dengan orang-orang yang pulang kerja. Hati Ani semakin gusar dan berdetak tak menentu. Angkot yang ditumpanginya berjalan mendekati jembatan itu. Jembatan tempat ‘dia’ menunggu.


“Apakah dia menunggu disitu? Apakah aku bisa melihatnya berdiri disana? Apakah dia bisa duduk di sampingku?
Begitu banyak pertanyaan dalam benaknya. Enam puluh detik kemudian angkotnya telah melewati jembatan dan Ani dapati dia tidak ada disana.


“Aduh dia nggak ada…” Sedikit rasa kecewa hadir di hatinya.
Angkot terus berjalan. Lalu lintas sudah lancar. Kini angkot sudah berjalan dengan cepat. Seolah kemacetan tadi hadir hanya untuk mendukung suasana menegangkan yang Ani rasakan. Ani pun membuka jendela di sampingnya. Membiarkan udara bergerak masuk ke dalam. Ani merasakan sejuknya angin itu.

Lalu Ani melihat pemandangan ke luar jendela. Langit biru yang begitu luas dan indah menyejukkan hatinya. Bibirnya pun tersenyum dan berkata dalam hati,

“Bersama angin, kulepaskan perasaanku. Biarkan waktu yang menjawab apakah jodohku itu kamu.”

Rasa penasaran Ani telah terjawab. Gadis itu pun memutuskan untuk melepaskan perasaannya terbang bersama angin. Kini hatinya telah lega. Setidaknya pertanyaan-pertanyaan kecil yang tadi mengganggu pikirannya telah terjawab. Kini biarkan waktu yang menjawab pertanyaan besar gadis itu.

Fatmaratri, 16/12/16

Advertisements

Author:

Seorang ISFJ yang suka membaca dan menulis. Sedang berproses menjadi ATLM Profesional, Penulis dan Muslimah sejati Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s