Awan Kehidupan

Hidup vs Instagram

By : Nailah Assagaf


Kalau buka Instagram.. Selalu kagum. Karena setiap foto yang di-upload punya kisahnya sendiri..

Kalau amal kita diibaratkan dengan instagram.. Kira kira, bagaimana ya kita menatap hasil upload-an kita.. 

Saya selalu menatap ‘kagum’ dengan mereka yang hidupnya penuh warna di Instagram.

Jalan-jalan keluar negeri,
Bertemu relasi,
Habis makan siang satu baki,
Nonton film teranyar,
Family trip,
Kumpul dengan gank,
Semua menampilkan senyum terindah,
Tak sedikit yang ‘poles edit’ dulu sebelum menekan publish,

Lalu.. kalau amal kita sejatinya seperti Instagram.. apa yang akan kita upload..
Jika tiap amal yang berseri indah berharap pujian makhluk?
Jika sedekah masih melulu diceritakan,
Jika tilawah dan ibadah lainnya butuh dukungan jempol..
Jika kebaikan terus diceritakan..
Maka, bagaimana nasib amal kita..?



Aah.. Rasanya, saya malu..
Dengan seorang guru bernama Fulanah..

Ia keluar pagi buta.
Setelah merapihkan rumah dan membereskan sarapan untuk anak dan suami tercinta..
Suami yang saat ini tengah Allah beri ujian bernama PHK,
Tak sedikit pun gurat gulana disana.. saya tahu ia bingung, tapi ia mengemasnya dengan sempurna..

Berjalan ia melangkah ke tempat mengajar. Disambut ceria tawa anak-anak muridnya.. berebut mencium punggung tangannya..

Dibelai dan dicium satu per satu anak-anak Syurga itu. Anak yang masih suci, tak berdosa.. “dari anak-anak itu saya belajar banyak hal..” katanya suatu ketika.

Menjelang siang. Kau kayuh sepeda menuju rumah. Karena aktivitas sebagai ibu sudah menunggu. Sambil berjualan panganan kecil untuk mengepulkan dapur.

Ya, fulanah yang sehari digaji 20ribu. Diantara himpitan harga-harga yang melonjak. Ia pun harus berfikir keras. Bagaimana agar anak-anak tetap makan. Diantara kenaikan harga pangan.. Ia harus berfikir kreatif yang penting halal untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Fulanah, guru TK, yang mencerdaskan anak bangsa. Dari lisannya anak-anak itu pandai mengenal huruf dan angka, doa-doa dan shalawat.. dari lisannya anak-anak merasakan kegembiraan. Dan gaji 400ribu sebulan ia terima dengan senyum ikhlas. Seikhlas pagi ini menyapa dan mencium ubun-ubun anak didiknya..

Fulanah. Yang mungkin tidak akan pernah mengupload tas bermerk Hermes, apalah gincu senilai setengah juta. Fulanah yang menerima 20ribu sehari ia jadikan penyangga perut keluarganya, sedangkan kita (saya) menghabiskan setengah gaji sebulan yang didapatnya, dalam hitungan detik di sebuah restoran..

Itulah nilai hidup. Itulah arti sebuah syukur, dan potret kehidupan..

Bangku reot,
Fasilitas bermain yang termakan usia,
Atap yang hampir jebol,
Jembatan yang kondisinya sangat memprihatinkan,
Adalah Potret Pendidikan negeri ini..

Si Kaya tetaplah Kaya,
Dan Fulanah tetap menjadi seorang Fulanah yang berdedikasi pada pekerjaannya..

Yang membedakan adalah.. apa yang mereka ‘upload‘ pada ‘instagram‘ kehidupan mereka. Potret sejati yang akan dituai kelak di hari abadi.

Lalu, apa yang sudah kita ‘upload’ di ‘instagram’ hidup kita hari ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s