Posted in Seri Cinta Terpendam

Teruntuk Masa Lalu 

Kini aku mengerti..
Aku ingin menjadi gadis yang dewasa

Mungkin tiga tahun belakangan ini aku lari dari kenyataan

Kenyataan akan perbedaan semua situasi yang ada

Aku tidak mengahadapinya, malah aku lari menghindarimu

Terlihat seperti aku yang tidak dewasa bukan?

Maaf, jika sikap aku ini membuat kamu tidak nyaman

Aku yang tidak siap menerima semua perubahan yang ada

Membuat dirimu terkesan yang salah, terkesan kamu yang berdosa

Memojokkan kamu atas sikapmu yang padahal biasa saja

Aku tak bermaksud menyalahkan kamu, aku hanya tidak siap

Tapi sungguh perasaan yang dulu, sangat menyesakkan

Bahkan bertemu denganmu saja sungguh membuat aku tersiksa

Dimana aku harus meredam rasa yang bergejolak di hati

Mungkin kamu tidak mengerti dengan perasaan semacam itu

Tapi kini..

Gadis kecil ini ingin menghadapinya, ingin menyelesaikannya

Maafkan aku.. Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan

Sebelum ada kata sesal, Aku ingin memperbaiki hubungan kita

Mari kita mulai dari awal, Dan sekali lagi Maafkan aku.. Aku harap kamu bisa mengerti untuk yang satu ini

Sehingga nanti..

Akan ada kata “ikhlas” yang sesungguhnya dari hati
By Kinza

2 November 2015

Advertisements
Posted in Awan Kehidupan

Laksana Air

Aku laksana air di atas sendok. Sedikit. Bila ditambah garam ia menjadi asin. Bila diberi gula manislah ia. Bila dicampur obat berubah menjadi pahit. Aku, air yang ingin menjadi samudera. Samudera yang begitu luas. Yang sabar menghadapi ombak. Tidak mudah marah bila ada badai. Terasa menyegarkan walaupun banyak terumbu karang. Ah sudahlah. Jangan dipaksakan bila kamu tak mengerti. Aku hanya air di atas sendok namun ingin menjadi samudera.

Tangerang, 24 November 2016

Fatmaratri Maulani

Posted in Awan Kehidupan

Hidup vs Instagram

By : Nailah Assagaf


Kalau buka Instagram.. Selalu kagum. Karena setiap foto yang di-upload punya kisahnya sendiri..

Kalau amal kita diibaratkan dengan instagram.. Kira kira, bagaimana ya kita menatap hasil upload-an kita.. 

Saya selalu menatap ‘kagum’ dengan mereka yang hidupnya penuh warna di Instagram.

Jalan-jalan keluar negeri,
Bertemu relasi,
Habis makan siang satu baki,
Nonton film teranyar,
Family trip,
Kumpul dengan gank,
Semua menampilkan senyum terindah,
Tak sedikit yang ‘poles edit’ dulu sebelum menekan publish,

Lalu.. kalau amal kita sejatinya seperti Instagram.. apa yang akan kita upload..
Jika tiap amal yang berseri indah berharap pujian makhluk?
Jika sedekah masih melulu diceritakan,
Jika tilawah dan ibadah lainnya butuh dukungan jempol..
Jika kebaikan terus diceritakan..
Maka, bagaimana nasib amal kita..?



Aah.. Rasanya, saya malu..
Dengan seorang guru bernama Fulanah..

Ia keluar pagi buta.
Setelah merapihkan rumah dan membereskan sarapan untuk anak dan suami tercinta..
Suami yang saat ini tengah Allah beri ujian bernama PHK,
Tak sedikit pun gurat gulana disana.. saya tahu ia bingung, tapi ia mengemasnya dengan sempurna..

Berjalan ia melangkah ke tempat mengajar. Disambut ceria tawa anak-anak muridnya.. berebut mencium punggung tangannya..

Dibelai dan dicium satu per satu anak-anak Syurga itu. Anak yang masih suci, tak berdosa.. “dari anak-anak itu saya belajar banyak hal..” katanya suatu ketika.

Menjelang siang. Kau kayuh sepeda menuju rumah. Karena aktivitas sebagai ibu sudah menunggu. Sambil berjualan panganan kecil untuk mengepulkan dapur.

Ya, fulanah yang sehari digaji 20ribu. Diantara himpitan harga-harga yang melonjak. Ia pun harus berfikir keras. Bagaimana agar anak-anak tetap makan. Diantara kenaikan harga pangan.. Ia harus berfikir kreatif yang penting halal untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Fulanah, guru TK, yang mencerdaskan anak bangsa. Dari lisannya anak-anak itu pandai mengenal huruf dan angka, doa-doa dan shalawat.. dari lisannya anak-anak merasakan kegembiraan. Dan gaji 400ribu sebulan ia terima dengan senyum ikhlas. Seikhlas pagi ini menyapa dan mencium ubun-ubun anak didiknya..

Fulanah. Yang mungkin tidak akan pernah mengupload tas bermerk Hermes, apalah gincu senilai setengah juta. Fulanah yang menerima 20ribu sehari ia jadikan penyangga perut keluarganya, sedangkan kita (saya) menghabiskan setengah gaji sebulan yang didapatnya, dalam hitungan detik di sebuah restoran..

Itulah nilai hidup. Itulah arti sebuah syukur, dan potret kehidupan..

Bangku reot,
Fasilitas bermain yang termakan usia,
Atap yang hampir jebol,
Jembatan yang kondisinya sangat memprihatinkan,
Adalah Potret Pendidikan negeri ini..

Si Kaya tetaplah Kaya,
Dan Fulanah tetap menjadi seorang Fulanah yang berdedikasi pada pekerjaannya..

Yang membedakan adalah.. apa yang mereka ‘upload‘ pada ‘instagram‘ kehidupan mereka. Potret sejati yang akan dituai kelak di hari abadi.

Lalu, apa yang sudah kita ‘upload’ di ‘instagram’ hidup kita hari ini?

Posted in Seri Cinta Terpendam

Kembali Hadir 

​Rasa itu kembali hadir. Saat mata saling bertemu, saling melihat, dan saling bertatapan seakan waktu berputar kembali pada masa itu.

Perasaan, harapan, bahkan angan-angan pada masa itu pun kembali terlintas. Mengulang semua memori yang kini, telah menjadi tak ada gunanya lagi.

Saat saling melihat saja rasa itu hadir kembali, rasa yang mungkin sedikit demi sedikit terhapus oleh waktu dan kesibukan masing-masing.

Bahkan saat melihat sekilas saja sepertinya kita sudah saling mengerti apa yang sedang dirasakan satu sama lain, tanpa perlu mengucapkan kata-kata.

Saat perasaan itu hadir kembali, rasanya saya ingin selalu berada di dalam duniamu, berkeliaran di sekitarmu, selalu melihatmu, tersenyum untukmu, dan tertawa bersamamu.

Tapi seketika itu juga logika langsung saja menampar keras saya, dengan kenyataan yg berbeda. Kenyataan bahwa kamu tidak pernah mengharapkan itu semua. Kenyataan yang mungkin, bahwa sosok itu bukan saya melainkan orang lain.

By Kinza

January 18, 2014

Posted in Uncategorized

Cuma di-Read?

​Entahlah. Aku nggak ngerti kenapa sebagian (besar) orang jarang membalas pesan yang dikirim lewat aplikasi chatting seperti WhatsApp, Line, dsb. Meskipun pesan itu penting, tapi tetap saja tidak dibalas. Entah karena sibuk, lupa, tidak sempat, atau tidak punya kuota internet. Kalau tidak punya kuota sih bisa dimaklumi ya. Tapi kalau pesan itu cuma dibaca tanpa dibalas? Apakah gerangan alasan sebenarnya? Untuk apa ia memiliki aplikasi chatting kalau tak bisa dihubungi? Bagaimana perasaannya jika suatu saat ia dalam keadaan penting dan genting serta butuh bantuan orang lain lalu ia menghubungi orang itu melalui aplikasi chatting namun tidak dibalas? Ah, aku rasa itu lebih menyakitkan daripada cinta bertepuk sebelah tangan. (Loh?)

Memberi dan menerima. Balaslah pesan dari orang lain, ketika sempat. Seseorang mengirimkan pesan tentu dengan harapan mendapatkan balasan darimu.

Fatmaratri Maulani, Rumahku, 28 Mei 2016.