Sucinya Cinta

Bijaknya Ibuku 

Siang itu, aku pulang sekolah lebih cepat. Karena ada tugas kelompok membuat kertas daur ulang dari daun pisang, aku ajak teman-temanku untuk mengerjakannya di rumah. Kelompokku berjumlah sekitar 5-6 orang. Aku pun memberitahu ibuku lewat SMS, bahwa aku akan kerja kelompok di rumah bersama 5 orang teman. Ibuku pun menyiapkan makanan untuk kami. Beliau pergi membeli ayam goreng tepung atau yang dikenal dengan fried chicken.

Ada sesuatu yang aku kerjakan, entah apa aku sudah lupa. Sehingga aku tidak bersama teman-teman sekelompok. Beberapa saat kemudian aku bertemu diantara mereka. Salah satunya berkata bahwa mereka mencari-cariku tadi dan karena aku tidak ada, mereka mengira kerja kelompoknya tidak jadi. Alhasil, ada yang sudah pulang.

Huh.. Sudah susah-susah mengumpulkan dan menemukan waktu yang tepat, tapi hanya karena aku tidak terlihat sebentar saja mereka pulang. Aku langsung ingat pada ibu yang sudah menyiapkan makanan untuk kami makan siang. Aku pun SMS ibu lagi. Dan ibu bilang, tidak apa-apa. Aku merasa bersalah dan tidak enak pada ibuku. Namun ibuku begitu sabar dan tidak pernah marah.

Keesokan harinya ibu memasak soto ayam. Dan ayam yang digunakan adalah ayam goreng tepung. Tentu rasanya sedikit berbeda. Namun daripada mubazir. Akan lebih baik jika ayam itu tetap dimakan bukan? Disajikan bersama soto tentu supaya tidak bosan.

Ah, alangkah bijaknya engkau, ibu. Aku ingin sekali seperti ibu yang sabar, bijak dan tidak pemarah.❤
🌹🌹🌹

Fatmaratri Maulani

16 Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s