Posted in Kehidupan Kampus

PPSM: Puisi tentang Petechiae

​Waktu PPSM tiga tahun yang lalu, para mahasiswa baru mendapatkan ‘nama bagus’ yang harus dipampang pada nametag karton kami. Saya mendapatkan nama bagus Petechiae. Kemudian kami diberi tugas untuk membuat puisi tentang nama bagus itu. Nah disini saya ingin men-share puisi saya walaupun sedikit dan entah bisa disebut puisi atau tidak. 😛

Petechiae

Tanpa kurangnya jumlah trombosit dalam darah

Dirimu tak akan ada

Infeksi dan alergi bisa mengundangmu datang

Bintik-bintik merah, biru, bahkan ungu

Menjadi pertanda datangnya dirimu

Kulit dan kaki menjadi tempat singgahmu

Oh kau, petechiae…

Fatmaratri Maulani

Malam hari di pojokan kost-an, 28 Agustus 2013

Advertisements
Posted in Kehidupan Kampus

Non Scholae Sed Vitae Discimus

Kuliah tingkat akhir. Terasa berat. Kenapa? Karena aku harus menyusun Karya Tulis Ilmiah/KTI. Sendiri. Mulai dari mencari permasalahan, menyusun Proposal KTI sampai penelitian pun sendiri. Tapi dosen pembimbingku berkata, “Penelitian itu kamu belajar jujur, tanggung jawab, mandiri. Itu.” Kata-kata itu membuat aku semangat lagi, dan menyadari bahwa semua ini bagian dari proses belajar.


Aku sebenarnya tidak sendiri. Teman-teman yang lain juga mengalami proses yang sama denganku. Aku tidak sendiri, ada Allah yang Maha Perkasa yang akan menguatkanku. Aku tidak sendiri, ada orangtua yang selalu mendoakan dan mendukungku.


Setelah tahu kalau semua ini adalah proses belajar, aku jadi tidak takut salah. Aku jadi berani dan lebih siap untuk menghadapinya. Terima. Aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus melalui semua ini. Dan aku pasti bisa melaluinya dengan baik. Menerima kenyataan, menyiapkan hati dengan segala kemungkinan. Saat aku sudah menerima dan menyiapkan hati, aku jadi lebih siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Semua terasa lebih mudah dan ringan.


Non scholae sed vitae discimus. Kita belajar bukan untuk sekolah, tapi untuk hidup. We do not learn for school, but for life. Itulah kutipan yang aku dapatkan dari salah satu episode “Webtoon Mbok De” yang aku sangat setuju karena aku juga baru meyadarinya. Aku menyadari bahwa makna kuliah adalah sebuah proses belajar, bukan untuk mendapat nilai bagus atau gelar semata. Melainkan belajar untuk hidup dan agar kita menjadi manusia sesungguhnya. Manusia yang lembut tutur katanya, baik sikapnya, bagus karakternya.

Proses kuliah di tingkat akhir janganlah dibawa pusing. Nanti kamu benar-benar jadi pusing. Teringat perkataan guru matematika-ku, “Itu artinya kamu disuruh berpikir praktis walau keadaan kompleks”. Ya, berpikirlah sederhana serumit apapun keadaannya. Think simply. Berharaplah semua ini mudah, dan yakinlah semua akan berjalan dengan mudah. Bukankah Allah sesuai prasangka hamba-Nya?


Untuk adik-adik tingkatku yang sekarang sudah duduk di tingkat akhir, selamat! Langkah kalian tinggal sedikit lagi. Semangat selalu, berdoa dan jangan lupa doakan orang lain. Berikan usaha yang terbaik. Ingatlah orangtuamu, dan orang-orang terdekatmu. Jangan sampai kamu mengecewakan mereka. Bercerminlah, jangan sampai orang yang ada di cermin itu kecewa. Yakinlah, dan katakan pada diri sendiri: AKU PASTI BISA.


Foto ini saya buat setahun yang lalu, 25 Agustus 2015. Saya berdoa dan menyemangati diri sendiri untuk menghadapi semester 5 (tingkat akhir). Masya Allah, Allah memampukan saya dan juga teman-teman untuk berjuang menyelesaikannya. Tepat setahun kemudian, 25 Agustus 2016 saya dan teman-teman resmi diwisuda. Alhamdulillah…


Tangerang, Fatmaratri Maulani 

Tulisan ini mulai ditulis pada 1 April 2016 namun baru selesai pada 27 Agustus 2016.

Posted in Kehidupan Kampus

Pendamping Wisuda?

Awal semester 5 lalu, aku pernah membuat “Secret Project” yaitu meminta beberapa orang-segelintir saja-menulis pendapatnya yang pada waktu itu adalah tentang pendamping wisuda. Kenapa cuma segelintir orang? Karena ini adalah proyek rahasia. Hehehe Saat itu kami sedang dipusingkan dengan judul KTI kalau aku tidak salah ingat, jadi aku hanya meminta orang-orang tertentu saja yang sekiranya mau. Selain mereka, aku sendiri juga ikut menulis. Okay, check it out!

 Apa makna pendamping wisuda menurutmu?


Adhisty :

Ok pendamping wisuda yah? Menurut aku, pendamping wisuda ialah ‘someone’ ‘special’ yang ada di hati aku, yang selalu ada ketika aku terjatuh maupun bangkit dalam keterpurukan selama proses dan pencapaian hidup aku terutama saat makhluk tak bernyawa “KTI” itu tercipta. 😁 

Monic 

Ehmm kita mulai tulis arti pendamping wisuda menurut versi kebanyakan orang… Versi orang-orang pendamping wisuda adalah orang yang special (mungkin pacar) datang mendampingi saat wisuda, membawakan bunga, dan berfoto bersama… Hanya itu sajakah arti dari pendamping wisuda menurut orang-orang? ~entahlah

Tapi pendamping wisuda versi aku adalah dimana orangtua, kakak, teman-teman seperjuangan, dan 1 orang jodoh  (jika sudah waktunya) datang, berbahagia saat wisuda aku nanti. Ketika nanti nama aku dipanggil oleh MC wisuda, aku harap orangtuaku dapat bangga… Hanya itu tidak muluk-muluk kan…

Sopia

Pendamping wisuda?? Hmm… Baru denger kata itu… Artinya apa?? Pastinya… gak tau detailnya seperti apa… Fatma ada-ada aja nihh… Suruh berpendapat tentang pendamping wisuda. Kalau pendamping hidup aja gimana?? 😀

Kalau menurutku, secara logika aja ya…

Pendamping = berarti orang yang mendampingi 

Wisuda = pelepasan, kelulusan bagi anak kuliahan 

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendamping wisuda adalah seseorang yang mendampingi saat pelepasan/kelulusan anak kuliahan… # sok ilmiah hahaha…

Mungkin seperti itu, tapi pendamping wisuda disini mempunyai arti yang lebih spesial, bukan hanya sebagai pendamping saja. Aduh… kok jadi muter-muter ya :/ Ya… pokoknya gitu deh…

Fatma

Pendamping wisuda. Apa itu pendamping wisuda? Udah kuliah selama 4 semester lebih, baru denger tuh istilah pendamping wisuda. 😁 Ada temen yang bilang kalo pas wisuda cuma dihadiri sama orangtua, apa bedanya sama ngambil raport waktu SD? Haha dan setelah baca artikel yang di-share sama seorang temen di Fb, akhirnya aku tahu apa itu pendamping wisuda. *lebay yah*

Sempet browsing juga sih apa itu PW alias Pendamping Wisuda menurut para bloggers. Dan ternyata menurut mereka, PW itu adalah seseorang terutama lawan jenis yang menghadiri wisuda, bisa pacar, adik, atau gebetan bahkan ada loh jasa PW. Biasanya PW itu selain dateng ke wisuda juga ngasih bunga, cokelat atau boneka wisuda.

Siapa yang akan menghadiri wisuda atau menjadi pendamping wisudamu tahun 2016 nanti? 


Adhisty : 

Gak muluk-muluk kok, bukan pacar atau idola atau tambatan hati, sang pujangga pun bukan. Hanya saja aku sangat berharap kedua orangtuaku bisa hadir, tapi sayangnya hanya satu yang kumiliki tapi tetep bersyukur kok. 😊

Selain orangtua, aku ingin sahabatku ketika di SMP bisa hadir. Huuu senangnya kalo Dede, Fahra, Nurul dan Firny bisa hadir. 😊 Bisa gak yah kira-kira? 😀

Satu orang lagi yang aku harapkan ialah siapapun orangnya nanti, bukanlah sekedar pacar, tetapi semoga Allah menghadirkan seseorang yang mampu mengisi dan konsisten dalam membimbing aku untuk tetap di jalan NYA ketika “moment sejarahku” dimulai. 😊 Entah itu pacarku yang sekarang atau nanti, aku hanya ingin yang diridhoi. 😊 

Kalau masalah foto? Mmm… aku mau foto sama papa, kakak, sahabat SMP, Fatma, Ruri, Amel, Intan dan 1 orang yang masih dirahasiakan Allah. 😊 Jadi kebayang so sweetnya. Tapi mungkin gak yah 😁

Sebenarnya dari tingkat 1 aku bertekad untuk membahagiakan papa dengan prestasi yaah… yang keluarga tau itu kan IPK yang besar. Jadi aku ingin mendapatkannya dengan usahaku sendiri. Tapi ternyata sulit yah mendapatkannya dengan kerja keras sendiri. Rasanya sedih deh ternyata dari semester 1 hingga saat ini aku belum bisa membuktikan bahwa aku bisa mencapainya dengan kerja keras dan kejujuranku yang masih ingin aku pertahankan. 

Aduh jadi melow. Rasanya seperti orang yang jatuh ke dasar jurang yang gelap. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku gagal tapi dengan usaha dan kejujuran bukan dari kebohongan. Aku berharap papa bisa melihatnya. Wiiih jadi curhat nih maap yah… Udahlah segitu aja. Semoga “secret project” nya bisa yah berjalan lancar. Aaamiin 😊 

Monic :

(Wah Monic udah ngebahas siapa yang akan menghadiri wisudanya di atas. Oke, aku kasih tulisan penutup dari Monic ya..)

Aku bingung mau nulis apa lagi, soalnya lagi gak ada inspirasi nulis nih… Karena inspirasi nulis aku adalah dia, dan aku kehilangan inspirasi nulis, yang berarti aku… Haha simpulin aja sendiri ya…. ☺😀 # Maaf kalau tulisan aku agak gak jelas dan kurang nyambung gitu. 😁

Sopia :

Kalau aku nanti… pendamping wisudanya siapa ya??? Berhubung undangannya cuma untuk 2 orang, ya berarti untuk orangtuaku lah… Suatu kebanggaan juga kebahagiaan jika bisa membawa orangtua untuk melihat anaknya sukses. Setidaknya penantian 3 tahunnya kebayar gitu # bukan sok bijak, ini…. kenyataan loh…. wkwkwk…. 😀

Apa lagi ya??

Hmm…. kalau yang lebih spesialnya?? Pacar…. alhamdulillah ada… bisa aja sihh diajak… Tapi… belum tentu bisa karna dia aja baru dilantik 29 Feb ’16…. Jadi… berhubung masih jadi polisi baru dan… dia termasuk orang yang disiplin, sepertinya dia tidak bisa menyempatkan waktunya, hehehe….

Cukup mengerti aja aku mah # udah biasa seperti itu 😔 

Hahaha Yang penting mah, semoga kita semua bisa wisuda tepat waktu, hasil yang didapat sesuai harapan. Banggain aja dulu orangtua… Okeoke 😀 

Fatma :

Oh ya, yang biasanya dibanggain dari pendamping wisuda itu pas foto wisuda! Moment sepenting wisuda pasti bakal diabadikan dalam sebuah foto, dong? Nah kalo punya pendamping wisuda istilahnya wajiblah foto wisuda sama pendamping wisuda, ga cuma sama orangtua. Tapi menurut kacamata pink Fatma (maaf alay), foto wisuda dengan pendamping wisuda yang belum tentu jadi masa depan kita (baca: pacar) itu ga ada artinya alias percuma aja. Karena ga ada yang tau dengan siapa menikah nanti, apakah dengan orang itu atau bukan. Emang ga malu nanti misalnya reuni, terus ternyata orang yang ada di foto wisuda beda dengan pasangan sebenarnya? 😛 

Well, yang akan menghadiri wisudaku tahun 2016 nanti-Insya Allah-adalah kedua orangtuaku, kedua adikku, kakak mentor, & adik sepupu, itu sih kalo bisa ya.. 😁Karena menurutku, wisuda adalah moment pertanggungjawaban kepada orangtua yang telah membiayai kuliah selama 3 tahun dan lebih bagus lagi kalau kita bisa memberi “bonus” berupa prestasi, bukan pacar.

.

.

.
Ya, itulah pendapat kami tentang Pendamping Wisuda. Terimakasih buat temen-temen yang udah mau repot-repot nulis: dr. Adhisty Rizky Yusrina, Sp.PK, M.Si  (ammiiiiin… aja dulu 😁), Monic, dan Sopia Eriani, tulisan kalian telah menggoreskan kenangan indah di hidupku. Tulisan ini aslinya ditulis pada 16-19 November 2015. 

Tulisan adalah harapan. Semoga hal-hal baik yang kami tuliskan bisa terwujud. Aamiin… dan Semoga Monic segera menemukan inspirasi nulisnya yang hilang. Semoga Adhisty bisa mewujudkan impian-impian hebatnya juga segera menemukan seseorang yang mampu mengisi dan konsisten dalam membimbingnya. Semoga Sopia bisa membanggakan kedua orangtuanya dan segera “dilantik” menjadi “nyonya polisi”. Aamiin…

Posted in Sucinya Cinta

Bijaknya Ibuku 

Siang itu, aku pulang sekolah lebih cepat. Karena ada tugas kelompok membuat kertas daur ulang dari daun pisang, aku ajak teman-temanku untuk mengerjakannya di rumah. Kelompokku berjumlah sekitar 5-6 orang. Aku pun memberitahu ibuku lewat SMS, bahwa aku akan kerja kelompok di rumah bersama 5 orang teman. Ibuku pun menyiapkan makanan untuk kami. Beliau pergi membeli ayam goreng tepung atau yang dikenal dengan fried chicken.

Ada sesuatu yang aku kerjakan, entah apa aku sudah lupa. Sehingga aku tidak bersama teman-teman sekelompok. Beberapa saat kemudian aku bertemu diantara mereka. Salah satunya berkata bahwa mereka mencari-cariku tadi dan karena aku tidak ada, mereka mengira kerja kelompoknya tidak jadi. Alhasil, ada yang sudah pulang.

Huh.. Sudah susah-susah mengumpulkan dan menemukan waktu yang tepat, tapi hanya karena aku tidak terlihat sebentar saja mereka pulang. Aku langsung ingat pada ibu yang sudah menyiapkan makanan untuk kami makan siang. Aku pun SMS ibu lagi. Dan ibu bilang, tidak apa-apa. Aku merasa bersalah dan tidak enak pada ibuku. Namun ibuku begitu sabar dan tidak pernah marah.

Keesokan harinya ibu memasak soto ayam. Dan ayam yang digunakan adalah ayam goreng tepung. Tentu rasanya sedikit berbeda. Namun daripada mubazir. Akan lebih baik jika ayam itu tetap dimakan bukan? Disajikan bersama soto tentu supaya tidak bosan.

Ah, alangkah bijaknya engkau, ibu. Aku ingin sekali seperti ibu yang sabar, bijak dan tidak pemarah.❤
🌹🌹🌹

Fatmaratri Maulani

16 Desember 2015