Posted in Slice of Zindagi

Pasien oh Pasien 

Sabtu 29 Juli 2017

Saat itu aku sedang berada di lantai dua di tempat kerjaku. Rekan-rekan kerjaku sedang sibuk mengerjakan sampel di laboratorium yang berada di lantai ini. Baru saja naik ke lantai dua untuk mencari pasangan hasil menyusul (?), tiba-tiba ada pasien yang memanggil dari bawah. Ya, ruang di lantai dasar memang untuk pasien seperti ruang tunggu dan ruang pengambilan darah.

Segera kutinggalkan sejenak pekerjaanku. Kulangkahkan kakiku menuruni tangga. Hingga tinggal 2 anak tangga lagi menuju lantai bawah saat kuarahkan pandanganku pada seseorang yang berada disana. Dua orang tepatnya, laki-laki. Yang satu sangat-sangat membuatku terkejut. Ia memakai penutup wajah dan berdiri di depan kaca. Aku tahan kakiku seolah terpaku. Ingin rasanya aku berteriak minta tolong. Namun akalku masih bisa berpikir, mana mungkin ada orang yang berniat jahat tetapi bilang “permisi” sebelumnya. Dan juga buat apa ia berada di situ jika ingin berniat jahat, mencuri celengan ikan? Ah, aku jadi ingat temanku. Ia suka memakai penutup wajah saat mengendarai motor. Mataku berusaha keras mengidentifikasi wajahnya. Apakah ia temanku? Sayangnya aku tidak memakai kacamataku.

Lelaki yang satu lagi memakai jaket dan ia menyadari bahwa aku sedang memperhatikan lelaki di depan kaca itu. Lelaki berjaket itu lalu berkata, “Itu teman saya mba”. Kemudian lelaki yang memakai penutup wajah pun spontan membuka penutup wajahnya. Alhamdulillah, ternyata ia bukan orang jahat seperti dugaanku sebelumnya. Juga bukan temanku. Akhirnya aku berani melangkahkan kakiku kesana. “Biasa mba, cek kalium.” Begitu katanya. Pasien… oh pasien… 😅

Ditulis oleh Fatmaratri Maulani pada 8 Agustus 2017 di Tangerang. 

Advertisements
Posted in Jendela

The Teashop Girls 

The Teashop Girls ini novel kesayanganku. Aku tipe orang yang sebenarnya “sayang” mengeluarkan uang untuk membeli novel. Lebih baik beli buku nonfiksi menurutku. Tapi sesekali aku beli novel di tempat yang menjualnya dengan harga murah, misalnya pameran buku murah yang kadang diadakan oleh toko buku tertentu. Aku beli novel ini seharga lima belas ribu rupiah dan dapat bonus hiasan magnet kulkas. Wkwk 

Novel ini aku suka pertama karena warnanya eye-catching buat aku. Warna nuansa pink dan hijau tosca. Padahal ada pepatah “don’t judge a book by its cover”, tapi aku pribadi lebih tertarik dengan buku yang covernya cantik. Kedua, aku baca sinopsis di belakang bukunya ternyata tentang persahabatan. Wah aku langsung tertarik beli.

Akhirnya tanggal 17 Desember 2015 aku beli novel ini dan tanggal 3 Januari 2016 selesai dibaca. Kalau tidak salah waktu itu lagi sibuk sebagai mahasiswa tingkat akhir. Aku baca novel ini sebagai selingan, saat sore hari dan kadang sebelum tidur. The Teashop Girls ini ceritanya bagus, enak dibaca dan sesuai tagline-nya “sehangat harapan semanis persahabatan”. Walau aku sempat bosan sedikit sih di bagian tengah cerita. But overall it’s nice. The Teashop Girls ditulis oleh Laura Schaefer dan di dalam novel ini tak hanya berisi tulisan lho. Ada beberapa ilustrasi cerita dan juga ada resep-resep kreasi teh.


Fatma🌹

Tangerang, 16 Juli 2017

Posted in Awan Kehidupan

Balada Bocah Punya Android

by: Fatmaratri Maulani

PIM-Rumahku 21 Mei 2017


Suatu malam seorang bocah kelas 5 SD sedang bermain hp androidnya. Tiba-tiba ia bertanya pada kakaknya.

Adik: “Mba, play store bisa di-update ga?”

Kakak: “Ga bisa. Emang kenapa?”

Adik: “Yah ga bisa.. Mba, mba tahu game *** ga?”

Kakak: “Ga tahu, game apa itu?”

Adik: “Itu game-nya seru. Temen-temen pada mainan itu. Tapi di play store hp ini ga ada. Kenapa ya mba?”

Kakak: “Oh… Berarti game-nya ga bagus buat hp kamu.”

Adik: “Ih, bukan. Waktu itu pernah aku nyari di play store tapi tulisannya ‘belum cukup umur’. Argh…”

Kakak: “Nah iya berarti ga bagus kan..”

Sang adik kesal, ia berpikir mungkin data di play store-nya sesuai dengan tahun kelahiran aslinya.

Namun dalam hati sang kakak berbicara.

“Maaf ya dik, sebenarnya kakak yang mengatur play store hpmu seperti itu. Kakak ubah pengaturan parental mode-nya jadi usia 3 tahun. Semoga Allah melindungimu ya dik. Aamiin…”

Posted in Uncategorized

Galau Nulis

Menulis.

Aku punya sedikit hobi nulis. Kalau ada inspirasi, dan ada sesuatu yang sangat terkesan atau bisa aku renungi biasanya akan kutuangkan dalam tulisan.

Aku punya blog pribadi. Isinya hanya tulisan-tulisan kecil ala kadarnya. Ada juga copy tulisan penting. Kebanyakan sih curhatan-ya, seperti tulisan ini-.

Biasanya aku menulis di angkot saat perjalanan berangkat atau pulang kuliah. Atau saat hari libur di rumah. Ya, bisa kapan saja. Lebih tepatnya sih saat mood menulis datang.

Ketika ada tawaran menulis, aku dengan semangat mengiyakan. Aku kira tawaran itu tidak akan serius. Aku kira aku diminta menulis nonfiksi. Tapi ternyata aku diminta menulis karangan fiksi.

Aku jarang sekali membuat tulisan fiksi. Aku lebih suka menulis tulisan nonfiksi. Hikmah dari pengalaman yang aku alami misalnya.

Buku-buku yang aku beli pun kebanyakan buku nonfiksi. Buku semacam kumpulan cerpen atau novel hanya sedikit yang aku punya. Itu pun hanya aku beli di bazar toko buku dengan harga murah. Aku masih merasa sayang sekali uangku bila digunakan untuk membeli novel dengan harga mahal. Walaupun bila dibandingkan dengan buku tebal nonfiksi, aku akan lebih lahap membaca novel-seberapapun tebalnya bila ceritanya menarik-. Namun aku berpikir bahwa buku nonfiksi lebih banyak manfaatnya dibanding buku fiksi, dan biasanya buku nonfiksi bisa kita baca dua kali. Kalau baca novel kan sekali baca, habis, sudah tahu ceritanya maka selesai, bukunya disimpan begitu saja di lemari buku, nggak bisa dibaca lagi. Biasanya lho ya.

Jadi ini tulisan benar-benar curhat. Tentang kegalauanku akan project menulisku. Tentang janji dari sebuah kata iya. Di awal-awal seperti ini aku merasa minder dan ‘macet’ untuk menulis. Sungguh, aku tidak ingin mengecewakan mereka. Aku punya cita-cita menjadi penulis.

Sekarang aku sudah bukan mahasiswa lagi. Dulu waktu masih kuliah aku masih bisa menyempatkan waktu untuk baca buku di kampus. Tapi sekarang aku jarang sekali bisa baca buku di kantor. Hampir setiap kali aku bawa buku dengan rencana ketika luang nanti akan dibaca, tapi ternyata tidak sempat kubaca.

Benar kata temanku bahwa aku mungkin macet nulis karena kurang baca. Aku pun kemarin ke IBF kusempatkan beli buku kumpulan cerita. Semoga aku bisa menulis cerita-cerita hikmah. Rencana ketika hari libur ini ingin mulai menulis tapi tidak dapat terealisasi. Astaghfirullah al ‘adzim…

Aku harus banyak istighfar, banyak baca buku, kurangi main hp dan nyalakan semangat menulis. Doakan aku ya…
🌹🌹🌹

11 Mei 2017

Fatma alias Fathimah Alifa

tulisan selingan yang semoga bisa menghilangkan kegalauanku

Posted in Best Writer

​Sepanjang Jalan Kebaikan

By : Wiji Lestari Hamda

Akhir-akhir ini kita sering menemukan postingan tentang beragam berita yang membuat tidak nyaman. Seolah bangsa ini telah kehilangan nurani. Namun kita percaya kebaikan itu masih ada. Bukan hanya dalam kenangan kita. Kebaikan itu ada di dalam hati kita semua. Apa yang saya tulis ini adalah kisah nyata di sepanjang jalan yang saya lalui ketika berangkat dan pulang kerja. 

Di suatu pagi di sebuah perempatan jalan yang ramai,  saya berhenti menunggu lampu lalu lintas berubah hijau. Dari arah berlawanan, seorang pemuda berpenutup wajah mengurangi kecepatan. Sambil berbelok ia mengulurkan bungkusan plastik putih dengan kotak styrofoam pada pak Ogah yang mengatur lalu lintas. Kelihatannya berisi bubur ayam. Wajah pak Ogah sumringah mengetahui ada orang baik hati yang memberikannya sarapan sepagi itu. Semua mata memandang takjub pada pemuda tanpa nama itu. Ia berlalu begitu saja diikuti pandangan kami semua. 

Di hari yang lain sebuah mobil truk di depan saya menepi. Saya ikut memelankan motor dan melihat pengemudinya berhenti. Rupanya ia turun untuk menghulurkan uang pada seorang nenek peminta-minta. Nenek tua itu duduk dibawah pohon di tepi trotoar. Hati saya turut merasakan ketulusannya. Ia tidak melemparkan koin, ia turun dan dengan takzim menyerahkan lembaran uang. Sebuah adab yang menunjukkan kebaikan budinya. Ia seorang pemuda. Seperti dirimu. 

Allah hendak menunjuki kita bahwa masih ada orang-orang yang baik budi. Bukan hanya satu atau dua tapi banyak sekali di sekitar kita. Bahkan kebaikan itu ada di jalan raya. Jalanan yang konon tempat banyak orang tak beretika dengan mudahnya saling memaki.  

Lain hari, saya berkendara di belakang sebuah mobil tanki berisi bahan bakar milik Pertamina. Mobil besar itu berjalan lambat di depan saya. Jalanan rusak dan cukup padat membuat semua kendaraan berjalan pelan dan berhati-hati. Saya sepanjang jalan sibuk mengagumi mobil tanki merah putih yang kelihatannya gagah dan bagus sekali. 

Mobil tanki itu berhenti. Saya ikut berhenti karena tidak mungkin bagi kami mendahului mobil tanki yang panjang itu sementara arus dari arah lain juga padat. Seorang pemuda turun dari sisi kiri mobil tanki. Rupanya ia turun untuk menyerahkan sebuah dompet pada sepasang pengendara motor yang terlihat cemas menyusuri jalan mencari dompetnya yang jatuh. Terlihat pengendara itu merasa senang dan membungkuknya badan berterima kasih. Mungkin mereka tidak menyangka sama sekali bahwa dompet itu bisa ditemukan dan diantar oleh pemuda kenek tanki Pertamina.

Di hari yang lain, hujan turun sepanjang pagi. Semua orang bergegas berangkat bekerja menembus hujan yang tak kunjung reda. Beberapa motor yang ngebut memercikkan air dan tanah ke baju pengendara lain tanpa mereka sadari. Di sebuah pertigaan, ada kubangan air yang cukup dalam. Terjadi sedikit kemacetan di sana. Seorang bapak turun dari motor. Ia menepikan motor dan dengan tangannya memunguti kerikil dan lumpur yang menyumbat aliran air. Tak lama air di kubangan mengalir turun ke sawah. Lubang itu tak ada lagi genangan air. Besi rangka jalan terlihat mencuat sehingga pengendara mobil ataupun motor bisa menghindarinya. 

Teringat suatu malam adik saya saat pulang kerja terjatuh di kubangan air semacam itu. Ia mengalami luka-luka akibat terperosok karena tidak melihat kubangan yang tertutup air. Sungguh baik hati Bapak ini yang bahkan rela turun demi membereskan keadaan itu. Ia mencegah orang lain celaka. Tak berapa lama tidak ada kemacetan lagi di sana. 

Di lokasi lain di jalan raya yang padat, seorang polisi mencangkuli tanah pinggiran got dan memindahkannya ke lubang-lubang jalan. Beberapa batu bata merah ia letakkan menambal lubang jalan.  Ia tak sungkan melakukannya meskipun mungkin saja menutup lubang jalan bukanlah termasuk job descriptionnya. 

Bicara soal job description, tentu bukan pula tanggung jawab seorang pemadam kebakaran keliling kota mengantar anak-anak TK dengan mobil pemadam kebakaran. Nyatanya suatu sore dalam perjalanan pulang sebuah mobil pemadam kebakaran melaju bersama riangnya anak-anak TK. Melihatnya kita terbawa aura bahagia mereka. 

Sebuah riang yang sama juga terpancar dari wajah-wajah lelah yang lelap tertidur di tumpukan truk sampah. Riang yang sama  tampak pada wajah buruh bangunan yang naik mobil bak terbuka. Terik mentari tak menyurutkan semangat mereka. 

Tenyata di jalan ini tak hanya ada kebaikan yang dapat kita nikmati. Di jalan ini kita juga melihat sisi bahagia kelas bawah yang gigih mencari nafkah. Melihat pedagang asongan yang berlari menenteng beratnya dagangan. Melihat para anak-anak berlari menembus hujan demi menyewakan payungnya. Mereka benar-benar merasai keberkahan hujan. Fisik mereka tetap sehat meski seharian berlari dalam hujan itu.  Merekalah orang sederhana yang mampu menghayati kebahagiaan. 

Di jalan ini kita juga melihat arogansi diturunkan demi kemanusian. Ketika sebuah mobil ambulans lewat maka mobil-mobil  menepi memberinya jalan. Jarang sekali kejadian macam ini terjadi, maklumlah jalanan ini adalah sebuah jalan yang biasanya dilalui tronton dan mobil-mobil berat. Mobil-mobil truk besar dan cargo biasa lewat jalanan ini bersama angkot-angkot yang selalu menyerobot jalur lain hingga macet total. 

Di sini di jalan kebaikan ini, masih tersisa  nurani kita. Sebuah bibit kebaikan itu ada di hati siapa saja. Menanti ditaburkan. Ia akan tumbuh subur dan menyejukkan hati kita. Kebaikan kecil ini sungguh menjadi besar nilainya saat keresahan dengan mudahnya ditularkan lewat sosial media. Kebaikan kecil ini mungkin hanya sebutir atom, tapi di sisi Allah ia akan diperhitungkan. Bukan tak mungkin darinya muncul kebaikan-kebaikan yang berlipat pahala. Mari kita tanam benih kebaikan itu di sepanjang jalan yang kita lewati. Niscaya rimbun buahnya akan dapat dinikmati siapa saja.

Posted in Best Writer

​Pemimpin Amanah Pelayan Kepentingan Rakyat (PPKT)

By: Nurlaillah Sari Amallah Mujahidah
Sobat, perjalanan bangsa Indonesia telah memasuki puluhan tahun hingga hampir tujuh dekade. Berbagai peristiwa di negeri ini telah menandakan banyaknya krisis yang hampir terjadi di seluruh pelosok negeri. Krisis yang menampilkan bahwa kita memiliki kelemahan yang terjadi di Tanah Air. Terjadi ketidakseimbangan yang merata di negeri ini. Namun, semua itu akan membuat negeri ini akan semakin tergerus, tergerogoti oleh zaman dan akhirnya hilang tanpa meninggalkan jejak. Ya semua diawali oleh siapa yang memegang kekuasaan negeri ini. Mulai dari bawah hingga tertinggi, dari setiap orang, RT sampai petinggi di Senayan, Presiden Republik Indonesia. Kepercayaan penuh telah diberikan, namun apa daya, korupsi, kolusi, dan nepotisme terjadi di mana-mana. Sehingga penyelewengan banyak terjadi. Jauh berbeda antara harapan dan kenyataannya. Jadi sobat sebenarnya pemimpin seperi apa yang diidamkan dan sangat dibutuhkan oleh bangsa kita?

Sejatinya pemimpin yang lahir bersama dari, untuk, oleh rakyatlah yang seharusnya menjadi pemimpin di negeri ini. Mulai dari pemimpin RT hingga Presiden, harus memiliki sikap satu rasa sama rasa. Satu rasa sama rasa? Apaan sih kok ada istilah rasa segala, malah jadi bikin baper nih hehehe. Maksud dari kata satu rasa sama rasa itu adalah apa yang dirasakan rakyatnya, harus juga dirasakan oleh pemimpinnya. Pemimpin yang menjadi ujung tombak terdepan dari penyelesaikan masalah dan gambaran seperti apa negeri ini akan dicitrakan dalam benak dan impian setiap orang. Yang terpenting adalah memegang teguh ideologi Pancasila dan UUD 1945.

Kemudian menjadi seorang pemimpin harus kuat dan profesional. Kuat di sini bukan seperti Superman, tapi kuat dalam kemampuan untuk menuntaskan berbagai permasalahan negeri dari sekitar 240 juta rakyat Indonesia. Mampu menyelesaikan hingga ke akar paling dalam untuk memerbaiki dan menggantinya dengan hal yang membangun peradaban. Profesionalitas seorang pemimpin dapat dilihat sesuai keahlian yang ia punya dengan menggunakan sepenuhnya etika dalam kehidupan sehari-hari, termasuk etika dalam memimpin bangsa dan negara dengan karakter yang mengutamakan dan menjunjung tinggi sikap ketuhanan dalam kemanusiaan. Pemimpin yang amanah ialah pemimpin yang memiliki integritas dalam menjalankan tugas. Memiliki keyakinan yang kuat untuk melawan keburukan. Siap dan sigap menjalankan kebijakan yang baik sesuai nurani rakyat. 

Apa yang harus ia jalankan dan yang diharapkannya tidak semata hanya untuk kebaikan dirinya saja tapi juga untuk orang lain, rakyat yang dipimpinnya akan dijalankan terlebih dahulu. Sesuai firman Allaah SWT: 

“Sesungguhnya manusia terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat dan amanah.” (QS. Al-Qashas: 26).

Sifat amanah itu kembali kepada kesungguhan orang untuk takut kepada Allaah, tidak memperjualbelikan ayat Allaah untuk kepentingan dunia dan tidak takut dengan ancaman manusia. Pemimpin yang dibutuhkan oleh bangsa ini adalah pemimpin yang kuat dan memiliki kemampuan yang dibutuhkan dalam menangani permasalahan bangsa serta memiliki jiwa yang profesional dengan etika. Memiliki sikap amanah yang selalu dipegang untuk membentuk bangsa yang maju dan beradab. Sobat tahukah kalian sosok yang paling berjasa dalam menyelamatkan negara ini saat Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta diasingkan oleh Belanda?

Ia adalah sosok pemimpin yang terlupakan, Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang menjadi Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Tak banyak dari kita sebagai generasi muda yang tahu akan peran beliau. Ia lahir pada tanggal 28 Februari 1911 di Anyar Kidul, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Pada tanggal 19 Desember telah terjadi kevakuman pemerintah setelah Presiden Soekarno dan Wakilnya Mohammad Hatta beserta setengah kabinetnya ditangkap Belanda melalui Agresi Militernya. Mereka ditawan dan diasingkan ke Pulau Bangka. Ketika berumur 37 tahun Sjafruddin Prawiranegara memiliki jasa yang luar bisa dengan berinisiatif membentuk PDRI. Sobat bayangkan jika tanpa PDRI Indonesia ini tidak akan pernah ada. Akibat kegagalan perundingan Renville, pasukan Belanda melancarkan serangan militer ke berbagai daerah terutama pusat Ibukota, Yogyakarta. Karena itulah PDRI merupakan bagian penting dari adanya negara ini. 

Ketika Belanda melakukan agresi militernya yang kedua di Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948, Soekarno-Hatta sempat mengirimkan telegram yang berisi perintah kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang menjabat sebagai Menteri Kemakmuran RI saat itu untuk segera membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra. Namun, telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi dikarenakan sulitnya sistem komunikasi pada saat itu. Pada tanggal 19 Desember sore harinya Sjafruddin Prawiranegara segera mengambil inisiatif yang sama. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat. Gubernur Sumatera, Mr. TM Hasan menyetujui usul itu “demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kosongnya kepala pemerintahan yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara.” Dengan mengambil lokasi di suatu tempat di daerah Sumatera Barat, pemerintahan Republik Indonesia masih tetap eksis meskipun para pemimpin Indonesia seperti Soekarno-Hatta telah ditangkap Belanda di Yogyakarta. Sjafruddin Prawiranegara menjadi Ketua PDRI dan kabinetnya yang terdiri dari beberapa orang Menteri.

Pendirian PDRI itu sebenarnya inisiatif Sjafruddin dan kawan-kawan. Maka tepat pukul setengah lima pagi pada 22 Desember l948 PDRI terbentuk. Atas musyawarah pemimpin yang ada di Sumatera, Sjafruddin dipercaya memimpin PDRI. Sesaat kemudian PDRI ini secara serentak disiarkan ke seluruh penjuru dunia. Dalam siaran itu dijelaskan bahwa Pemerintah Republik Indonesia tetap ada. Syukurlah, segera para pemimpin Indonesia lainnya mengakui dan menyokong PDRI, termasuk Jenderal Besar Soedirman dan pemimpin TNI lainnya yang saat itu terus bergerilya melawan Belanda. Dukungan internasional juga lantas mengalir. Karena Bukittinggi sebagai ibu kota Provinsi Sumatra juga dibombardir Belanda, pusat pemerintahan PDRI akhirnya pindah ke pedalaman. Lantaran keadaan demikian, radio Belanda pernah mengejek PDRI sebagai “Pemerintahan Dalam Rimba Indonesia.” Sjafruddin pun segera membalas: “Kami meskipun dalam rimba, masih tetap di wilayah RI, karena itu kami pemerintah yang sah. Tapi Belanda pada waktu negerinya diduduki Jerman, pemerintahannya mengungsi ke Inggris. Padahal UUD-nya sendiri menyatakan bahwa kedudukan pemerintahan haruslah di wilayah kekuasaannya. Apakah Inggris jadi wilayah kekuasaan Belanda? Yang jelas pemerintah Belanda menjadi tidak sah!”

Sjafjuga memegang jabatan pendi pemerintahan, di antaranya seWakil Perdana Menteri, Menteri Keuangan, dan Menteri Kemakmuran. Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Ke(1946), Menteri Keuangan (1946), dan Menteri Kemakmuran (1947). Ia dipercaya sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia pertama pada tahun 1951 yang kemudian memperkenalkan Oeang Republik Indonesia (ORI). Dari sosok Sjafruddin kita patut meneladani bahwa dalam perjuangan seorang pemimpin yang amanah takkan pernah memikirkan pangkat dan jabatan karena kita berunding pun duduk di atas lantai, yang terpenting adalah kejujuran, siapa yang jujur kepada rakyat dan jujur kepada Tuhan, perjuangannya akan selamat. Ia rela mengorbankan jiwanya demi menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia serta demi persatuan nasional atas ridha Allaah.

Posted in Best Writer

Menggeser Frekuensi Hati

By : Wiji Lestari Hamda

Hari masih pagi. Jam pertama belum di mulai. Hari itu hari selasa. Hari yang indah. Pagi itu Bu Ida tidak ada jam mengajar. Biasanya Bu Ida membaca atau memeriksa tugas-tugas siswa.  

Belum lagi ia duduk, seorang kawan mengatakan sesuatu yang intinya ia mencederai akad jual beli sehingga merugikannya. Bu Ida berkata bahwa kali ini biarlah ia yang tanggung kerugian itu. Bu Ida berharap kawannya tidak mengulangi lagi. Ini sudah kesekian kalinya kawan tersebut melakukan pembatalan. Barang yang sudah dibeli secara tempo dan sudah diisepakati pembayarannya tiba-tiba dikembalikan setelah sebulan dibawa pulang. Pernah pula ia ingin mengembalikan barang yang sudah lama dibeli karena tertarik menukar dengan model yang baru. Ia menyadari bahwa masyarakat awam belum mengerti akad jual beli sehingga seenaknya mencederai akad. Ia ingat pesan seorang ulama, jika ia ikhlaskan kesalahan mereka dengan izin Allah ia juga  akan mendapatkan pengampunan Allah di hari akhir nanti. 

Ia memutuskan pergi ke pasar untuk beralih frekuensi hati. Niatnya ia akan belanja Menyenangkan hati anak-anaknya dengan menu ayam goreng kesukaan. Rupanya suasana hati bu Ida berpindah. Frekuensinya langsung terlihat pada kendaraannya. Ban depan mendadak bocor, padahal baru ganti bulan lalu. Ini mungkin efek dari situasi hati  yang masih kacau frekuensinya. Para sahabat Rasulallah saw konon jika melihat kendaraannya ada masalah maka itu pertanda ada yang salah dengan diri tuannya. Ia sadar, keadaannya saat ini penuh energi negative.

Bu Ida menuju warung makan dengan kondisi ban bocor. Soal ban motor toh nanti bisa diurus nanti pikirnya. Kali ini ia  hendak sarapan sambil mentraktir kawannya. Siapa tahu bisa mengurangi hawa jelek pagi itu. 

Mereka sampai di sebuah warung makan. Warung Jawa-Sunda itu sederhana bangunannya. Ukurannya hanya sekitar 2 M x 3M. Si teteh pemilik warung menyapa mereka dengan ramah. Wajah teteh pemilik warung riang dan terlihat berbeda dari biasanya. Sangat cerah. Rupanya si teteh baru saja pulang liburan. Pantas saja terlihat fresh. 

Seminggu warungnya tutup. Teteh pergi ziarah. Teteh asli orang Kawarang. Ia berziarah sepanjang rute pulau Jawa. Mulai dari Cirebon, Demak, Kudus, Jogjakarta, Blitar, hingga ke Bali dengan destinasi terakhir Lombok. Keren untuk ukuran kelas menengah ke bawah. Dari warung kecil itu Teteh mendapatkan kecukupan rezeki. Padahal ia buka kurang dari 8 jam/hari. Ternyata benarlah apa kata Rasulallah saw bahwa sembilan dari sepuluh kunci itu ada pada niaga.

Lebih mengejutkan lagi, Si Teteh pergi ziarah bersama rombongan umroh. Agak tercengang Bu Ida mendengarnya. Bahkan rencananya bulan depan Teteh akan ikut rombongan untuk bertolak ke Luar Negeri destinasi Bangkok dan sekaligus beberapa tempat wisata di Indonesia. Masya Allah, keren juga nih Teteh ya? 

Pagi itu ia kembali riang setelah mendengar cerita Teteh. Dunia niaga memang penuh lika-liku tapi banyak barokahnya. Ia seperti dingatkan kembali bahwa dunia niaga adalah sebuah jalan sunah dan bukan sekedar mencari rupiah. 

Ia telah berhasil menggeser frekuensi. Ia mengubah situasi hatinya ke frekuenasi yang lebih jernih. Efeknya, sangat signifikan. Pagi itu ia ingin mentraktir eh malah kawannya lah yang mentraktirnya. Setelah menikmati sarapan berhikmah itu ia bergegas menambal ban. Tukang tambal ban juga membetulkan beberapa bagian motornya secara cuma – cuma.

 Ia bersyukur dengan situasi itu. Dibelinya beberapa liter beras untuk ia berikan ke dapur umum. Ia bersemangat melanjutkan hari. Siang harinya Bu Ida diajak kawannya untuk menikmati sop durian yang lezat. Siang yang terik itu dinikmati sambil bincang-bincang beragam hal bermanfaat. Aroma durian yang diblender dengan campuran susu dan es batu sungguh membangkitkan semangat. Di dalamnya ada sebongkah durian kupas Medan yang empuk. Pada bagian atas ada alpukat mentega yang kuning dengan aksen hijaunya penambah selera. Kesegaran yang manis itu ditaburi dengan keju parut yang nikmat. Frekuensi telah bergeser dan sepanjang hari itu banyak hal baik terjadi. Hari itu Bu Ida mendapat banjir order dari bisnis onlinenya. Di tambah lagi sore harinya Bu Ida dipertemukan dengan komunitas menulis yang mengajak mencetak buku bersama. Ini sebuah kisah nyata yang pada intinya bahwa hati kita mudah sekali mengalami kondisi tidak fit akibat sebuah kejadian yang mengecewakan. Seandainya hal itu dibiarkan maka sangat mungkin sepanjang hari Bu Ida akan menemui beragam ketidaknyamanan. Sangat mungkin pula kesialan menimpanya jika perasaan marah dipeliharanya.  

Mungkin saja bukan hanya Bu Ida. Kita pun sehari-hari sering menemui situasi yang tidak kita inginkan. Pada keadaan yang demikian kita sangat ingin melampiaskan kekesalan. Sayangnya hukum kekekalan energi membuktikan bahwa apa yang kita lepaskan akan berubah menjadi bentuk lain yang sama. Kita lepaskan emosi positif maka ia akan berubah menjadi hal positif. Begitupun sebaliknya. Hal buruk akan mengundang hal buruk lainnya. Begitu seterusnya.  Tak ada cara lain untuk menyelamatkan diri dari situasi macam ini dengan segera menggeser frekuensi. Bergeserlah secara perlahan. Buat diri kita nyaman pelan-pelan. Ambil nafas, pindah posisi dan wudhu jika ingin kesejukan. Sesudahnya kita bisa pikirkan hal baik yang paling mudah kita lakukan saat itu juga. Betapa hidup itu indah jika difokuskan untuk berbuat baik dan melihat hal yang baik.